Advertisement

Zina adalah persetubuhan atau hubungan kelamin yang dilakukan tanpa melalui akad pernikahan yang sah menurut syariat. Islam memandang perbuatan zina sebagai perbuatan keji yang hams dijauhi oleh umat manusia (al-lsra: 32), dan sekaligus memandangnya sebagai tindakan kejahat­an berat (dosa besar) yang diancam de­ngan hukuman yang berat pula.

Para ulama membedakan zina ke dalam dua macam: zina muhsan dan zina gair muhsan. Zina muhsan ialah zina yang di­ lakukan oleh orang-orang yang telah ber­keluarga (telah pernah menikah) dan juga telah pernah melakukan hubungan seksual selama pernikahannya itu; sedangkan zina gair muhsan yaitu zina yang dilakukan oleh mereka yang belum pernah menikah (gadis atau perjaka) atau belum pernah bersenggama meskipun telah pernah me­nikah.

Advertisement

Menurut jamhur fukaha (kebanyakan ahli hukum Islam) bahkan ada yang me­nyatakannya sebagai ijmak, hukuman bagi pezina muhsan berbeda dengan hukuman bagi pezina gair muhsan. Menurut mereka, hukuman bagi pezina muhsan ialah rajam atas dasar al-Hadis; sedangkan hukuman bagi pelaku zina gair muhsan berupa hu­kum dera (jilid) seratus kali sesuai petun­juk al-Quran (surat an-Nur: 2).

Dalam pada itu mereka berbeda penda­pat mengenai penjatuhan hukuman yang lain di samping hukuman jilid bagi pelaku zina gair muhsan dan hukuman rajam bagi pezina muhsan. Menurut sebagian ahli fikih, di antara asy-Syafil dan Ahmad, se-lain hukuman 100 kali dera, pezina gair muhsan hams juga dibuang (diasingkan) untuk satu tahun lamanya; sementara se­bagian yang lain memandang tidak perlu hukuman pengasingan itu karena hukum­an bagi pezina gair muhsan telah dianggap cukup dengan hukuman dera 100 kali.

Seperti halnya terhadap zina gair muh­san, mereka juga berlainan pendirian me­ngenai penggabungan hukuman rajam dan jilid bagi pezina muhsan. Menurut sebagi­an mereka, di antaranya Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi`i, pezina muhsan tidak boleh dikenai hukuman jilid karena hukuman yang wajib dikenakan kepada pezina muhsan hanyalah hukuman rajam. Sedangkan menurut sebagian yang lain seperti Ibnu Hazm, Ishaq, dan al-Hasan al­Basri, hukuman bagi pezina muhsan ialah hukuman dera 100 kali dan kemudian di­rajam sampai mati. sah menurut syariat, yakni zina, pelaku­nya harus dihukum jilid sebanyak 100 kali tanpa harus membedakan siapa pelakunya apakah ia gadis dan perjaka (mereka yang belum pernah kawin) ataupun janda dan duda bahkan kakek-kakek dan nenek-ne­nek sekalipun.

Bahwa hukuman zina itu 100 kali jilid, menurut kaum Khawarij, adalah sesuai dan bahkan tepat menurut aturan al-Qur­an (an-Nur: 2) yang berlaku umum. Se­dangkan Hadis yang memerintahkan hu­kuman rajam bagi pezina muhsan sebagai yang dipegangi oleh mayoritas ulama, di kalangan kaum Khawarij dinilai sebagai Hadis ahad yang tidak cukup kuat untuk mengkhususkan keumuman surat an-Nur: 2 di atas. Bertolak belakang dengan keba­nyakan umat Islam yang meman’dang rajam sebagai salah satu hukum pidana Islam, kaum Khawarij memandangnya se­bagai hukuman pidana orang-orang Yahu­di yang tidak boleh diterapkan dalam Islam.

Dalam pada itu para ulama menetapkan beberapa persyaratan tertentu yang mem­benarkan pelaku zina dapat dikenai hu­kuman. Beberapa persyaratan penting yang dimaksudkan adalah:

  • pelakunya berakal sehat,
  • pelakunya orang dewasa atau balig,
  • perbuatan zina itu dilakukan atas kemauan sendiri yakni tidak ada orang lain yang memaksanya.

Sehubungan dengan beberapa persyarat­an yang telah dikemukakan tadi, maka zina yang dilakukan oleh anak kecil, orang gila, dan orang-orang yang dipaksa (diper­kosa) pelakunya tidak dapat dikenai hu­kuman dengan jenis hukuman di atas.

Advertisement