Advertisement

Zikir berasal dari kata Arab iikr, makna asalnya antara lain: mengingat, menyebut dan mengucapkan. Adapun yang dimak­sud dengan zikir dalam istilah agama Islam sebagai dapat dipahami dari beberapa ayat al-Quran dan al-Hadis ialah mengingat dan menyebut-nyebut nama Tuhan (Asma Allah) atau keagungan sifat-sifatNya•se­perti dalam membaca kalimat-kalimat tas­bih, tahmid, tahlil atau tauhid, dan takbir (subhan Allah wa al-hand li Allah wa la ilaha ills Allah wa Allah Akbar).

Termasuk ke dalam ruang-lingkup zikir ialah membaca doa, mengucapkan Asma al-Husna, dan membaca al-Quran. Bahkan seperti terdapat dalam al-Quran sendiri, Allah menggunakan kata ai iikr yang berarti peringatan — sebagai salah satu na­ma atau julukan bagi al-Quran (surat al­Hijr: 9, an-Nahl: 44, dan Taha: 124) yang memiliki banyak nama[ atau julukan itu.

Advertisement

Menyebut-nyebut Asma Allah, yakni berzikrullah, merupakan salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam agama Is­lam dan karenanya tidaklah mengheran­kan jika dalam aliran-aliran tasawuf atau tarekat, zikir, dipandang sebagai salah satu tiang penting dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah). Adapun manfaat• yang diperoleh dari zikrullah, seperti ditegaskan dalam al-Qur­an (ar-Red: 28), di antaranya ialah mem­buat hati orang yang berzikir menjadi te­nang dan tenteram.

Mengucapkan zikir, pada dasarnya ti­dak dibatasi jumlah bilangannya, demi­kian pula mengenai lafal, waktu, cara dan tempat melaksanakannya. Namun sung­guhpun demikian, zikir seyogyanya dila­kukan di tempat-tempat yang suci dan di­landasi oleh niat yang ikhlas di samping sikap khusyuk dan khudu. Al-Quran menganjurkan umat manusia supaya mem­perbanyak zikir dan berdoa kepada Allah sebagai terdapat dalam sejumlah ayat dan Hadis Nabi. Di antaranya:

. . Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dengan sebanyak-banyaknya, dan bertas­bihlah di waktu petang dan pagi hari.” (Ali Imran: 41).

“Hai orang-orang mukmin, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak­banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya (baik) di waktu pagi (maupun) di waktu siang.” (al-Ahzab : 41-42).

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan sopan-santun (berendah diri) dan suara yang lemah lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melam­paui batas.” (al-A`raf: 55).

Dalam pada itu — setidak-tidaknya me­nurut sebagian ulama — zikir dapat dibe­dakan ke dalam tiga macam yaitu:

  • iikr hi al-lisan yaitu zikir dengan ucapan,
  • iikr bi al-qalb yakni zikir dengan hati, dan

(3) 2ikr bi al-jawrzrih yaitu zikir dengan anggota badan atau pancaindera.

Zikir dengan ucapan ialah seperti mem­baca kalimat-kalimat takbir, tahmid, tas­bih dan kalimat-kalimat taqdis (suci) lain­nya seperti telah disinggung di bagian awal sebelum ini, sedangkan yang dimaksud dengan zikir melalui hati adalah bertafak­kur merenungi kemahabenaran dan kema­habesaran Allah dengan penuh keyakinan dan perasaan tulus. Adapun yang dimak­sudkan dengan berzikir melalui anggota badan dan pancaindera yaitu menjadikan seluruh anggota badan tunduk-patuh da­lam melakukan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah se­babnya mengapa ibadat salat dinamai pula dengan zikrullah (al-Jumah: 9) karena da­lam ibadat salat terkandung secara terpa­du ketiga jenis zikir yang disebutkan di atas.

Berlainan dengan yang telah dikemuka­kan sebelum ini, sebagian ulama tasawuf ada yang menyebutkan bahwasanya zikir dapat dilakukan melalui tujuh penjuru pancaindera yaitu:

  • zikir kedua mata dengan menangis
  • zikir kedua telinga dengan mende­ngarkan hal-hal yang baik-baik
  • zikir lidah dan mulct dengan meng­ucapkan puji-pujian
  • zikir kedua tangan memberikan se­suatu atau sedekah
  • zikir badan dengan memenuhi ber­bagai kewajiban
  • zikir hati dengan penuh rasa takut dan harap kepada Allah

zikir ruh dengan menyerah kepada Tuhan dan rida atas segala keputusannya.

Advertisement