Advertisement

Zat Tumbuh Nabati, SEBAGAI tambahan kepada bahan mentah anorganik (air, karbon dioksida, dan garam mineral) yang diperoleh tumbuhan dari lingkungannya, ada senyawa organik tertentu yang disebut hormon yang diperlukan tumbuhan untuk pertumbuhannya. Ketika istilah hormon untuk pertama kalinya diperkenalkan, istilah itu digunakan untuk menyatakan zat apa pun yang dihasilkan dalam suatu bagian organisme yang ditranslokasi ke tempat di mana efeknya terhadap metabolisme dan pertumbuhan sangat besar, jadi berfungsi sebagai kurir kimia (chemical messenger). Sejak diperkenalkan istilah ini memiliki dua pengertian. Yang pertama ialah bahwa hanya sejumlah kecil zat yang diperlukan untuk mempengaruhi proses fisiologis, hormon hampir selalu bertindak pada konsentrasi kurang dari seperseribu molar dan sering pada kisaran sepersejuta molar. Pengertian kedua ialah bahwa hormon-hormon ini merupakan zat yang terjadi secara alami. Hormon nabati berbeda dengan hormon hewani yang hanya efektif pada organ ‘sasaran’ tertentu. Pada hormon nabati sering sulit dibedakan antara tempat ia diproduksi dan tempat ia bertindak, dan lebih lanjut lagi diketahui bahwa berbagai hormon sering berinteraksi dengan cara yang kompleks untuk mengatur proses fisiologi tertentu. Penggunaan istilah ‘hormon nabati’ juga telah diperumit, yang sebetulnya tak perlu, oleh kenyataan bahwa banyak bahan kimia sintetik yang dapat mengubah pertumbuhan, dulu juga disebut hormon. Bahan kimia sintetik ini, yang dapat bertindak seperti hormon, lebih baik disebut pengatur nabati (plant regulator) yang istilahnya kadang-kadang disesuaikan dengan proses yang dipengaruhinya, misalnya pengatur tumbuh nabati (plant growth regulator). Hal ini tidak berarti bahwa bahan kimia sintetik dan alami selain hormon tidak dapat bertindak sebagai kurir kimia, tetapi bahwa kriteria tambahan tertentu selain peningkatan tindakan fisiologis harus dipenuhi bila suatu zat organik akan digolongkan sebagai hormon. Bukti nyata yang pertama mengenai hadirnya kurir kimia pada tumbuhan diungkapkan oleh Charles Darwin (ia terkenal karena teorinya mengenai evolusi organik). Dalam mengamati pembengkokan organ tumbuhan ke arah cahaya, dijumpainya bahwa kecambah rumput dapat dicegah pembengkokannya jika bagian terujung koleoptil (struktur tabung yang menutupi daun sebenarnya, yang merupakan bagian pertama semai rumput yang muncul di atas /permukaan tanah pada waktu berkecambah) ditutupi dengan topi buram (opaque) walaupun bagian yang bengkok ke arah cahaya terletak agak jauh dari ujung. Oleh karena itu, tentu ada suatu ‘pengaruh’ pengatur yang dikirim dari daerah yang tanggap akan rangsangan cahaya (ujung koleoptil) ke daerah yang bereaksi (bagian yang bengkok). Pengaruh ini sekarang dikenal sebagai hormon yang dihasilkan di ujung dan bergerak ke bawah ke daerah pertumbuhan, tempat terjadi pembengkokan.

Zat tumbuh nabati, sebagai istilah kolektif untuk hormon dan pengatur tumbuh nabati, digolongkan terutama berdasar-kan pengaruh zat-zat itu pada proses fisiologi tertentu. Hal ini secara tidak langsung dinyatakan dengan nama beberapa kelompok, misalnya absisin (abscicins) mengatur absisi, auksin mengatur pemanjangan sel, sitokinin mempengaruhi sitokinesis sehingga terlibat dalam pengaturan pembelahan sel, dan ‘florigen’ terlibat dalam menginduksi pertumbuhan bunga. Karena zat-zat ini dikelompokkan berdasarkan proses fisiologinya, suatu bahan kimia tunggal atau sekelompok bahan kimia yang berkerabat erat kadang-kadang dapat digolongkan menurut berbagai cara, sebab zat ini mungkin dapat mempengaruhi lebih dari sebuah proses. Misalnya etilen, sebuah hidrokarbon sederhana yang berupa gas, yang telah bertahun-tahun dikenal memiliki efek yang drastis terhadap tumbuhan, adalah hormon pematangan buah untuk tipe-tipe buah tertentu, suatu absisin karena tindakannya pada absisi, dan suatu penghambat tumbuh karena interaksinya dengan auksin pada proses pertumbuhan. Korelasi antara klasifikasi kimia dan klasifikasi fisiologi bergantung pada pengetahuan yang tepat mengenai identitas kimia dan cara bertindak berbagai zat tumbuh.

Advertisement

Sama halnya dengan hewan tinggi, tumbuhan berbunga memiliki beberapa tipe hormon yang berbeda, yang mengatur banyak aspek pertumbuhan, perkembangan, dan metabolic-. me. Karena tumbuhan tak memiliki sistem saraf, maka sistem pengaturan hormonlah yang penting untuk komunikasi antarsel. Seperti halnya mesin yang memerlukan pengatur percepatan dan rem untuk pengendalian yang efektif dan cermat, demikian juga sistem pertumbuhan memerlukan zat perangsang tumbuh (growth promoting substance) dan penghambat (inhibitor). Ada lima kelompok utama zat tumbuh nabati, tiga di antaranya adalah perangsang dan dua penghambat.

 

Advertisement