Advertisement

Zamzam adalah sumur bersejarah yang terletak di dalam lingkungan Mesjid al­Haram, Mekah. Zamzam berarti “air me­limpah”; sedangkan kata kerja zamzama artinya “meneguk air”. Sumur antik yang juga disebut “Sumur Ismail” (Bi’r Isma’il) terletak searah dengan pojok tenggara Ka’bah, tempat “Batu Hitam” (al-Hajar al­Azwad). Akhirnya Zamzam menempati bangunan tersendiri dalam lingkungan Mesjid al-Haram. Karena letaknya di ling­kungan kawasan kering dan tandus tidak mengherankan bahwa kedalaman sumur tersebut mencapai kurang lebih 45 meter. Sebagai sumur bersejarah-keagamaan, Zam­zam menempati posisi penting bagi para penziarah tanah suci, termasuk para jema­ah haji. Air Zamzam diyakini memiliki berkat kesehatan bagi yang meminumnya. Karenanya di samping meminum air Zam­zam yang segar, para penziarah jauh biasa­nya tidak ketinggalan membawa pulang air tersebut sebagai hadiah bagi keluarga dan kerabat mereka di tanah air.

Asal-usul Zamzam dihubungkan dengan Nabi Ibrahim. Dalam versi Islam, Mekah (Bakkah) tumbuh menjadi sebuah tempat penting adalah akibat tindakan Nabi Ibra­him yang menjadikan Mekah sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Zamzam memancar­kan air untuk pertama kalinya adalah ber­kat pertolongan langsung Allah, untuk menyelamatkan Ismail yang masih kecil bersama ibunya, Hajar, dad kehausan dan kekeringan sewaktu beberapa lama diting­galkan Ibrahim ke luar Mekah. Hajarlah yang memulai memanfaatkan air Zamzam dan meletakkan batu-batu di tepinya se­bagai pagar dan penahan. Bagaimanapun, jauh sebelum Islam datang Zamzam telah dikenal luas oleh suku-suku Arab, bahkan disebutkan bahwa para penziarah Persia telah datang ke Zamzam untuk melepas­kan nazar mereka sambil bersembahyang.

Advertisement

Sebelum munculnya Quraisy sebagai kelompok dominan di Mekah tidak ba­nyak yang diketahui secara pasti tentang Zamzam. Suku Jurhum yang menjadi pen­dukung Nabi Ibrahim dan kemudian Is­mail di Mekah kelihatannya mewarisi pe­nguasaan atas Zamzam dan kawasan pen­ting sekitarnya. Menurut satu sumber, Jur­hum sendiri terusir dari Mekah karena ke­curangan dan korupsi atas pemanfaatan harta dan sumbangan yang diserahkan ke temp at suci tersebut. Khususnya Zamzam dan Ka’bah. Kelihatannya Zamzam telah pula digunakan sebagai tempat menyem­bunyikan kekayaan, seperti emas. Hal ini terbukti dari sejumlah besar batangan emas dalam berbagai bentuk yang ditemui sewaktu Abdul Mutalib, kakek Nabi, kern-ball menghidupkan Zamzam. Tidak dike­tahui secara pasti apakah emas tersebut dilemparkan ke dalam Zamzam guna menghidari perampasan dari para penye­rang. Yang jelas Abdul Mutalib memanfa­atkan sebagian emas tersebut untuk meng­hiasi pintu Ka’bah yang barn diperbaiki. Sedangkan sisanya disimpan di dalam Ka’bah, Tindakan Abdul Mutalib ini juga menunjukkan bahwa untuk beberapa pe­riode, Zamzam telah dilupakan atau bah­kan sengaja dimatikan. Satu sumber klasik menyebutkan bahwa sebelum dihidupkan­nya kembali Zamzam, penduduk Mekah telah membangun sejumlah sumur. Tetapi inisiatif Abdul Mutalib akhirnya telah me­ngembalikan lagi peranan penting Zam­zam. Tidak diketahui apakah hal ini ber­hubungan dengan kebijaksanaan Abdul Mutalib yang membebaskan para pemakai dari pungutan, berlainan dengan pemilik sumur-sumur yang lain.

Kedudukan Zamzam tidak bisa dipisah­kan dari letaknya dalam Mesjid al-Ha­ram. Sebagai pusat ziarah, keberadaan Zamzam sangat diperlukan, terutama oleh para musafir. Sentralitas Zamzam ini telah menjadikan pengurusan pembagi­an air bagi penduduk sekitarnya serta para penziarah tidak boleh diabaikan. Sampai dengan masa awal Islam keluarga al-Abbas telah bertanggung jawab mengurus per­soalan akomodasi dan suplai air (arrili­dah wassiqayah) bagi para penziarah ke Ka’bah. Bisa dibayangkan pentingnya pe­ngaturan pembagian air ini semasa Mekah harus mandiri menjamin keperluan para penghuninya, baik yang menetap maupun penziarah, termasuk pada “musim sibuk” di bulan-bulan Ramadan sampai dengan Zulhijjah. Hingga dewasa ini sewaktu pe­merizitah Saudi Arabia telah mampu men­datangkan air yang relatif melimpah ke Mekah, Zamzam tetap mempertahankan posisinya yang khas dalam menyediakan air bagi para penziarah ke Mesjid al-Ha­ram.

 

Advertisement