Advertisement

Zamiyah dan Ribat adalah dua istilah daiam tasawuf yang digunakan untuk me­nunjukkan suatu maksud yang sama, yak­ni suatu ruang (komplek) tempat mendi­dik calon-calon sufi, tempat mereka me­lakukan latihan-latihan tarekatnya, yang diperlengkapi dengan mihrab untuk me­laksanakan salat bedemaah., dan tempat mereka membaca al-Quran dan mempela­jari ilmu-ilmu lain. Jadi, Zawiyah atau Ribat itu merupakan sebuah asrama dan madrasah, atau dalam bahasa lainnya biara para sufi.

Menurut kaum Orientalis Barat, sistem pendidikan tasawuf melalui zawiyah atau ribat itu berasal dan orang Masehi, yang mendidik pendeta-pendetanya dalam se­buah asrama khusus, seperti yang terdapat di dunia Kristen, baik untuk calon-.calon pendeta wanita maupun.pendeta pria.

Advertisement

Terlepas dan pendapat tersebut, kalau melihat data-data historis, cara pendidikan seperti ini sebenarnya sudah terdapat da­lam Islam sejak Nabi Muhammad; yang menyediakan sebuah ruangan khusus di samping mesjidnya di Madinah, yang dise­but Suffah, tempat tinggal para sahabat yang mengikutinya dalam peduangan dan pembangunan Islam, untuk dididik dalam berbagai macam ilmu agama. Mereka yang keluar dari perguruan dan pendidikan ini digelari Ahli Suffah, kemudian mereka terkenal sebagai sahabat-sahabat Nabi yang istimewa dan pemuka-pemuka agama yang berpengaruh.

Para penghuni Suffah itu sebagian besar terdiri dari orang yang miskin yang mengi­kuti Nabi ke Madinah, pada mulanya me­reka bedumlah 400 orang, tetapi kemudi­an jumlah mereka meningkat berlipat gan­da. Mereka menerima pelajaran langsung dan Nabi, mempelajari al-Quran dan ilmu­ilmu lainnya, berpuasa dan keluar mengi­kuti Nabi dalam berbagai peperangan. Ahli Suffah itu mempunyai akhlak yang luhur, iman yang tebal, tawakal dan ikhlas. Di antara mereka terdapat Abu Hurairah, salah seorang sahabat Nabi yang terdekat kepadanya, yang selalu menjadi penghu­bung antara Nabi dengan Ahli Suffah itu.

Perkembangan zawiyah atau ribat itu sangat berkaitan dengan perkembangan kehidupan tasawuf (tarekat) di dunia Is­lam. Semakin pesat perkembangan tasa­wuf dan tarekat, semakin besar dan me­gahlah zawiyah-zawiyah yang didirikan. Persia dan Magribi adalah negeri-negeri yang banyak mempunyai zawiyah yang besar dan indah. Di Persia, istilah yang lazim digunakan adalah ribat (meskipun terkadang digunakan juga istilah khankah, dair atau tekke). Di Marokko dan negeri­negeri Afrika Utara lainnya, istilah zawi­yah sudah digunakan sejak abad ke-13 (7 H), khusus di sebagian negeri Marokko istilah ribat digunakan untuk menunjuk­kan tempat mendidik orang-orang sufi da­lam b id ang ketentaraan.

Kehidupan zawiyah di negeri Spanyol dimulai sejak masa pemerintahan an-Nasiri di Granada. Di antara zawiyah yang mem­punyai pengaruh yang sangat besar, yang berhasil mengeluarkan pahlawan-pahlawan perang kerajaan Sedian (awal abad ke-171 12 H) adalah Zawiyah ad-Dila, terletak di Tatdla, Marokko. Berikutnya berdiri pula zawiyah-zawiyah orang-orang Berber di Tazarawalt dan Ahansal di pegunungan Atlas.

Kejatuhan raja-raja Mamluk, digantikan oleh pemerintahan Turki dalam 1527 (933 H), menandai pertumbuhan zawiyah di Mesh. Setelah kehidupan tasawuf di negeri ini berkembang pesat, berdirilah zawiyah-zawiyah yang cukup terkenal, seperti Zawiyah Muhammad Surur (1517/ 923 H), Zawiyah Abu Su’ud al-Jarihi (w. 1524/930 H) dekat Mesjid Jami Amr bin As, Zawiyah Ibrahim (1534/940 H), Zawi­yah Jalaluddin al-Bakri (1587/996 H) dekat Mesjid al-Azhar, dan Zawiyah al­Khudairi (1546/965 H) di belakang Mesjid Ibnu Tulun.. Selain itu berdiri pula Zawi­yah al-Haluji (1288/688 H), Zawiyah Abdul Hamid dan Abul Khair (1521/927 H), Zawiyah Madyan al-Asymuni, .Zawi­yah Mursyid (w. 1534/940 H), Zawiyah Ali al-Marsyafi (1524/930 H), Zawiyah Ahmad al-Munir atau Abu Taqiyah (1524/ 930H), Zawiyah Abdul Halim al-Munzilawi (w. 1525/931), Zawiyah Syekh. Madyan, Zawiyah Ali al-Misri (w. 1453/861), dan lain-lainnya.

Perkembangan zawiyah atau ribat ini sampai juga ke Indonesia. Hal ini bisa di­lihat dengan adanya mesjid-mesjid yang bernama Dayah di daerah Aceh, adanya istilah Dayeuh untuk menunjukkan nama tempat atau kampung di daerah Pasundan. Demikian juga kata zabitah (berasal dari kata ribat) pernah dikenal orang Indonesia, sebagai pengurus mesjid. Nama-nama dan istilah-istilah tersebut pada mulanya ada7 lah untuk menunjukkan ikhwan (persau­daraan) di kalangan pengikut tarekat yang terikat dengan pelajaran suluk dalam se­buah zawiyah yang lengkap dengan asra­manya.

 

Advertisement