Advertisement

Zakat menurut bahasa artinya tumbuh berkembang, bersih atau baik dan terpuji. Dalam hukum Islam istilah tersebut ber­arti nama bagi kadar tertentu dari harta kekayaan yang diserahkan kepada golong­an-golongan masyarakat yang telah diatur di dalam kitab suci al-Quran. Zakat adalah suatu institusi keagamaan yang merupa­kan salah satu dari tiang-tiang tertinggi dalam agama Islam. Ia adalah satu syiar agama dan identitas .masyarakat Islam. Di samping sebagai ibadat dalam mendekat­kan diri kepada Allah, ia juga mengandung aspek sosial yang amat mendalam. Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya rela menolong sesamanya (al­Hadis). Begitu tinggi kedudukan zakat da­lam Islam, sehingga ia ditempatkan sejajar dengan asy-Syahadatain, salat lima waktu, puasa Ramadan, dan naik haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu. Penempatan za­kat sejajar dengan rukun-rukun Islam itu mengandung pengertian bahwa seseorang dalam pandangan Islam belum diaggap

sempurna Islamnya sebelum ia bersedia mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan masyarakat yang dal= ke­sempitan. Abu Bakar sendiri tidak mem­bedakan antara kewajiban membayar za­kat dengan kewajiban menunaikan salat. Oleh sebab itu, begitu ia memegang tam­puk pemerintahan setelah Rasulullah wa­fat, yang pertama dilakukannya adalah membersihkan orang-orang yang enggan membayar zakat. Setelah Rasulullah wa­fat, ada sekelompok umat yang mengang­gap bahwa Islam telah berakhir, termasuk zakat dianggap tidak wajib lagi untuk di­laksanakan. Mereka menganggap kewajib­an zakat hanyalah merupakan kewajiban sosial sementara Rasulullah masih hidup, dan kewajiban itu berakhir dengan wafat­nya Rasulullah. Namun Abu Bakar dengan tegas mengatakan: Demi Allah, akan aku tumpas orang-orang yang membedakan antara kewajiban menunaikan salat dan kewajiban zakat.

Advertisement

Selama kurang lebih tiga belas tahun Rasulullah berada di Mekah, zakat secara khusus belum diwajibkan. Namun al-Qur­an sudah mulai mengingatkan bahwa di dalam harta kekayaan yang dimiliki sese­orang ada hak orang lain yang dalam ke­sempitan. Hal itu disebutkan dalam ayat 19 surat az-Zariyat. Zakat harta baru di­wajibkan setelah iman umat Islam mantap dan siap untuk menerima berbagai taklif (perintah atau larangan), setelah dua tahun Rasulullah hijrah ke Madinah, ber­samaan dengan tahun diwajibkan zakat fitrah, dan disyariatkan salat dua hari raya. Jika waktu di Mekah kewajiban membantu fakir miskin baru secara umum, tanpa rnenyebutkan berapa kadar yang harus dikeluarkan, maka setelah di Madi­nah, zakat dengan tegas diwajibkan, de­ngan rincian kadar yang hams dikeluarkan dan kepada siapa diserahkan.

Pada dasarnya setiap macam harta ke­kayaan apabila sampai ukuran nisabnya wajib dizakatkan. Ayat 267 surat al-Baqa­rah secara umum telah menegaskan ke­wajiban mengeluarkan zakat dari setiap hasil-hasil usaha dan apa yang dikeluarkan dari bumi Allah. Dan ayat itu dapat dipa­hami kewajiban mengeluarkan zakat dari setiap bentuk harta kekayaan yang dida­pat dengan jalan apapun yang dibolehkan oleh agama Islam, baik hasil usaha atau jasa, maupun berupa buah-buahan, bina­tang ternak, kekayaan uang emas, perak, dan kekayaan produksi bumi, dan lain­lainnya.

Komoditas dan hasil jasa yang kita se­butkan di atas, baru dikeluarkan zakatnya apabila ia mencapai jumlah tertentu yaitu sampai satu nisab. Umpamanya hasil sa­wah baru wajib dizakatkan apabila sampai 5 awsuq, yaitu sekitar 930 liter. Dari jum­lah tersebut, kadar zakat yang wajib di­keluarkan ialah 10% bila tanaman itu di­airi dengan air hujan, tanpa membutuhkan tenaga manusia, dan 5% jika tanaman itu diairi dengan tenaga atau biaya sendiri. Perhitungan nisabnya adalah pada waktu panen. Adapun kekayaan emas baru wajib dizakatkan apabila sampai jumlah 20 mis­qal, atau sekitar 93 gram. Kadar zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5%, dengan perhitungan berlaku waktu satu tahun. Kekayaan perniagaan atau berupa uang kertas, nisabnya disamakan dengan nisab kekayaan emas, seperti dikemuka­kan di atas.

Ada delapan kelompok masyarakat yang berhak untuk menerima zakat, seper­ti dijelaskan dalam ayat 60 surat at-Tau­bah. Mereka itu ialah, orang-orang fakir miskin, pengurus (amil) zakat, mu’allaf (orang-orang yang dijinakkan hatinya untuk Islam), untuk keperluan memerde­kakan perbudakan, untuk melepaskan orang yang sedang dihimpit utang, untuk jalan Allah, dan untuk membantu orang yang sedang terlantar dalam perjalanan. (Lihat: Asnaf yang delapan).

Zakat, di samping sebagai ibadat, ke­wajiban menyangkut harta yang berfungsi sosial, juga merupakan taklif an-oafs (ke­wajiban pribadi). Dikatakan demikian, karena mengeluarkan zakat adalah meru­pakan beban yang menyangkut dengan jiwa dan diri seseorang. Seseorang akan merasa berat mengeluarkan sebagian dari harta yang dirasanya adalah miliknya, yang pada lahirnya adalah hasil jerih payahnya. Dalam hal tersebut, sikap rakus dan cinta harta selalu menjadi kendala bagi pelaksanaan zakat. Di antara hikmat zakat adalah untuk membasmi sikap rakus dan cinta harta yang berlebihan, agar ma­nusia mempunyai sifat dermawan yang sejati. Apabila sifat dermawan tercapai, maka bukan saja dana zakat yang akan mengalir, tetapi juga dana-dana lain, se­perti infak, sedekah dan lainnya. Dengan demikian, kewajiban zakat merupakan bimbingan menuju masyarakat yang sejah­tera, dan berkeadilan sosial yang merata yang mempunyai tingkat kedermawanan yang tinggi.

Dapat dinyatakan pula, bahwa dua se­tengah persen dari harta kekayaan yang dimiliki, adalah merupakan kewajiban mi­nimum dari kewajiban seorang muslim untuk membantu saudara-saudaranya yang dalam kemiskinan. Setelah. itu, bu­kan berarti ia boleh berlepas tangan dari saudara-saudaranya yang sedang terlantar. Orang yang punya masih berkewajiban un­tuk membela nasib saudara-saudaranya yang berkekurangan. Tidaklah beriman seseorang yang tidur nyenyak kekenyang­an, padahal saudara di samping rumahnya tidak tidur bermalaman karena kelaparan. (al-Hadis).

Advertisement