Advertisement

Zaidiyah berbeda dengan kelompok Syrah yang lain, Syrah Zaidiyah mema­sukkan Zaid bin Ali bin Husein sebagai sa­lah satu imam. Memang nama Zaidiyah j e­las mempunyai hubungan erat dengan na­ma cucu Husein tersebut. Ia termasuk ang­gota keluarga Nabi (ahl al-bait) yang per­tama, setelah tragedi Karbala (681/60 H), mengangkat senjata melawan pemerintah­an Umayyah, Zaid bin Ali memenangkan dukungan orang-orang Kufah untuk meng­organisirkan kekuatan. Bahkan sebelum kedatangannya di Kufah pada 739 (121 H), Zaid telah memulai kegiatan agitasi se­jak berada di Madinah. Karenanya tak mengherankan kalau is pernah sampai tiga kali dihadapkan kepada khalifah Hisyam bin Abdul-Malik (w. 743/125 H) di Da, maskus untuk diinterogasi. Bagaimanapun banyaknya pihak-pihak yang berkepen­tingan dan menanamkan pengaruh di Irak, terutama Kufah, telah mengacaukan stra­tegi Zaid. Akibatnya sewaktu mengadakan penyerangan Zaid gagal mendapatkan du­kungan pasukan sebagaimana yang telah dilaporkan kepadanya. Tetapi semangat dan ketabahan Zaid dan para pengikutnya melawan tentara Umayyah telah meyakin­kan kaum oposisi akan kemungkinan menghadapi kekuatan khalifah. Pada pihak lain, penguasa Umayyah sengaja menyalib tubuh Zaid dan dipamerkan kepada pu­blik sampai berhari-hari guna mengintimi­dasi penduduk. Hasilnya? Zaid justru menjadi simbol dan pahlawan penentang­an terhadap rezim Umayyah bagi kelom­pok aktivis. Anaknya, Yahya, yang sem­pat dilarikan para pengikutnya akhirnya berhasil menyusun kelompok Syrah di

Khurasan. Tetapi pada 743 (126 H) Ia di­tangkap oleh gubernur Umayyah di wila­yah tersebut, kemudian dimusnahkan. Te­tapi satu abad kemudian Zaidiyah muncul dengan kekuatan barn.

Advertisement

Kelompok Zaidiyah meneruskan tradisi Zaid yang agresif. Dalam proses perkem­bangan timbullah ajaran dasar Zaidiyah tentang corak kepemimpinan imam. Se­orang imam hams memiliki ciri-ciri, di an­taranya:

  1. Keturunan ahlul-bait baik termasuk Huseiniyah maupun Hasaniyah, hal ini memberikan implikasi penolakan terhadap sistem pewarisan dan nas dalam kepemim­pinan;
  2. Kemampuan untuk mengangkat sen­jata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang, karenanya tidak diterima adanya teori tentang imam Mandi yang gaib ataupun imam yang di bawah umur (pemimpin yang menegakkan kebenaran dan keadilan adalah otomatik Mandi);
  3. Kecenderungan intelektualisme yang dibuktikan dengan ide dan karya keaga­maan;
  4. Penolakan sifat maksum, bahkan bo­leh bagi mafdul untuk dipilih walau ada yang afdal.

Dengan kondisi demikian tidak aneh bahwa Zaidiyah hampir-hampir gagal membentuk dinasti politik yang stabil dan tanpa gap. Emfesis terhadap sistem meri­tokrasi demikian selalu membuka pintu oposisi yang luas. Sistem suksesi, dus, cen­derung anarkis, apalagi di sini unsur ke­kuatan senjata sangat menentukan. Dalam sejarah Zaidiyah memang sering terjadi dua macam periode krisis: pertama, terda­pat beberapa pemimpin yang memprokla­mirkan din sebagai imam, kedua, tidak ada seorang imam pun yang memprokla­mirkan din atau pantas diangkat. Tetapi Zaidiyah juga mengembangkan mekanis­me pemecahan krisis kepemimpinan, di antaranya, dengan membagi tugas imam kepada dua individu dalam bidang politik dan bidang ilmu serta keagamaan.

Zaidiyah berhasil membangun kekuasa­an politik di dua kawasan. Yang menarik, sebenarnya Zaidiyah adalah kelompok Syrah legitimis yang berhasil untuk pertama kalinya mendirikan negara, kecil se­kalipun. Negara ini didirikan oleh’Hasan bin Zaid .di kawasan pantai selatan Laut Kaspia (Tabaristan dan Dailam) pada 864 (250 H). Melewati berbagai tantangan, ke­kuasaan Zaidiyah bertahan, kendati harus berpindah-pindah bahkan terputus untuk beberapa masa, hingga 1126 (520 H).

Di Yaman, Zaidiyah justru berhasil membangun kekuasaan yang cukup stabil. Pendirinya adalah Yahya bin Husein bin al-Qasim ar-Rassi al-Haqq) pa­da perempat terakhir abad ke-9. Kealotan Zaidiyah Yaman ini sangat dipengaruhi oleh pengaruh dan pertahanan mereka yang kokoh di Sa`dah. Kota kecil ini sela­lu menjadi tempat bertahan sewaktu Ya­man dikuasai oleh kekuatan-kekuatan yang lebih besar, termasuk Usmani pada abad ke-16. Di samping itu sistem kepe­mimpinan Zaidiyah yang relatif terbuka memungkinkan pergantian kepemimpinan tanpa banyak kesulitan. Memang berbagai anggota keluarga ahlul-bait telah rnemim­pin keyajaan Zaidiyah di Yaman, seperti keluarga ar-Rassi, Aiyani, ad-Dailami, dan as-Saraji. Pada awal abad ke-20, kembali imam al-Mutawakkil Yahya bangkit meng­angkat senjata dan menduduki San’a pada 1918. Kendati Yaman akhirnya dipecah menjadi dua negara modern tetapi penga­ruh Zaidiyah tetap dominan.

Zaidisme berkembang dan dianut oleh berbagai kelompok. Yang agak menonjol dan populer adalah Jan.tdiyah, Sulaimani­yah (Jaririyah) dan Batriyah. Kelompok Sulaimaniyah, umpamanya, mengakui de facto kekhalifahan Abu Bakar dan Umar berdasarkan prinsip, kebolehan kepemim­pinan mafdul, dan menganggap umat me­ninggalkan hal yang lebih tepat (al-cislah) dengan mengabaikan Ali. Sedangkan bagi Jarudiyah yang mempercayai kedatangan Mandi, figur yang ditunggu adalah Mu­hammad an-Nafs ai-Zakiyyah. Mereka menganggapnya tidak pernah terbunuh ataupun meninggal, dialah al-Mandi al­Muntazar. Di samping itu, Zaidisme yang berkembang dan bertahan di Yaman ada­lah mirip Mu`tazilisme dalam akidah, cen derung anti-Murji`isme dalam etik, dan berpendirian puris dalam menolak tasa­ wuf. Memang organisasi tarekat dilarang dalam pemerintahan Zaidiyah. Juga, da­lam fikih ibadat Zaidiyat cenderung me­nunjukkan simbol dan amalan Syi`ah, urn­pamanya azan yang diselingi Hayya `ala khair al-`aural, takbir sebanyak lima kali dalam salat janazah, menolak sahnya meng­usap “kaos kaki” (maslch al-khuffain), me­nolak imam sembahyang yang tidak saleh, dan menolak binatang sembelihan non muslim. Dalam fikih kemasyarakatan, Zai­diyah menolak kawin campuran dan ka­win mut`ah. Kumpulan ajaran fikih Zaidi­yah cukup bervariasi, kemungkinan besar disebabkan oleh fragmentasi komunitas dan terputus-putusnya entitas politik me­reka. Bahkan tulisan fikih beberapa ulama Zaidiyah sulit untuk dibedakan dari pen­dapat-pendapat imam fikih empat yang terkenal; begitu juga di antara buku-buku fikih Zaidiyah ada yang digunakan oleh para penganut mazhab empat, misalnya buku Nail al-Aut& karya Muhammam as­San’ani biasa digunakan oleh orang-orang

Sebagai buku fikih Zaidiyah stan­dar dan formal di Yaman digunakan buku tulisan Ahmad al-Murtada, al-Azhar fi Fiqh (immah al-A tVir, dan ar-Raud an-Nadi karya al-Husein as-San’ani.

 

 

Advertisement