Advertisement

Wandatusy Syuhud (watzdat asy-syu­hud), yang secara harfi mengandung arti keesaan penyaksian, adalah satu paham dalam tasawuf tentang keesaan Tuhan dan sekaligus keesaan wujud, yang tampak da­lam penyaksian hati-nurani. Istilah wanda­tusy syuhud sebagai nama paham tersebut dimunculkan oleh kalangan sufi yang ti­dak menyetujui paham wandatul wujud yang ditegakkan oleh Ibnu Arabi dan pa­ra pengikutnya. Mereka yang memuncul­kan atau memasyhurkan istilah tersebut antara lain adalah Alaud Daulah as-Simna­ni (1337/737 H) dan Ahmad as-Sirhindi (w. 1624/1034 H).

Menurut paham wandatusy-syuhud, ke­esaan Allah disaksikan oleh mata batin manusia yang mengalami kasyaf (terbuka­nya atau lenyapnya hijab atau dinding yang membatasi mata hati dengan Tu­han). Sebagai akibat penyaksian mata ba­tin itu, keyakinan orang yang mengalami penyaksian tersebut tentang keesaan Tuhan meningkat ke taraf yang tertinggi, atau dengan kata lain lebih tinggi dari ta­raf keyakinan yang hanya berupa membe­narkan berita al-Quran dan Hadis atau te­lah diperkuat dengan dalil-dalil rasional. Pe nyaksian keesaan Allah itu sekaligus berarti penyaksian satu-satunya wujud. Hanya Allah saja satu-satunya wujud yang disaksikan oleh mata batin seseorang pada pengalaman kasyaf itu. Wujud segenap alam empiris, termasuk wujud dirinya, pa­da scat itu lenyap atau sirna dari penyak­siannya, baik dari mata batinnya maupun dari mata kepalanya.

Advertisement

Kehadiran Tuhan dalam penyaksian mata batin seseorang telah menyebabkan lenyapnya kehadiran alam empiris dan di­rinya sendiri baik dari penyaksian mata kepalanya maupun dari penyaksian mata hatinya. Keadaan itu dapat ditamsilkan se­perti kehadiran matahari yang terang benderang yang telah menyebabkan lenyap­nya bintang-bintang yang banyak dari pe­nyaksian mata-kepala manusia. Pesona ke­indahan wujud Tuhan adalah sedemikian rupa, sehingga dapat menyerap segenap perhatian hati orang yang sedang menyak­sikan-Nya. Sebagai akibatnya, mata kepa­lanya kendati tampak masih terbuka dan berhadapan dengan alam empiris, menjadi “tertutup” oleh kehadiran wujud-Nya da­lam penyaksian mata-hatinya. Keberadaan alam empiris dan dirinya menjadi tersem­bunyi di balik kehadiran wujud Tuhan. Hanya wujud Tuhan saja dengan berbagai rahasia-Nya yang tampak oleh penyaksian mata batin tersebut.

Tidak seperti paham wandatul wujud, paham wandatusy syuhud ini tidak menim­bulkan sikap kontroversil di kalangan kaum sufi. Kendati istilah wandatusy syu­hud itu muncul sebagai reaksi terhadap paham wandatul wujud, namun esensi pa-ham wandatusy syuhud itu sudah terdapat pada keterangan-keterangan para sufi abad ke-9 dan 10 (3 dan 4 H), seperti Juneid al­Bagdadi, al-Kalabazi, dan lain-lain. Melalui wibawa al-Gazali (w. 1111/505 H) esensi paham wandatusy syuhud dapat diterima oleh umumnya kalangan sufi. Para sufi yang mengeluarkan ungkapan-ungkapan aneh (syatalilit), seperti al-Bistami, al-Hal­laj, dan lain-lain, dianggap sedang meng­alami wandatusy syuhud ketika menge­luarkan kata-kata aneh tersebut (ungkap­an aneh itu seperti: tidak ada dalam ju bahku kecuali Allah).

Menurut paham wandatusy syuhud, penyaksian mata batin terhadap wujud Tuhan saja, tidaklah mengandung arti bah­wa wujud alam dan diri yang sedang me­nyaksikan itu sungguh-sungguh tidak ada. Alam dan dirinya tetap saja ada,; tapi pada saat itu sedang lenyap atau tersembunyi di balik kehadiran Tuhan dengan segala raha­sia-Nya. Bila kasyaf atau penyaksian itu telah berakhir (mungkin setelah berlang­sung beberapa menit, beberapa jam, atau beberapa hari), alam empiris dan dirinya kembali tampak oleh mata-kepalanya atau hadir dalam kesadarannya yang biasa.

Dalam persepsi kalangan sufi yang me­nerima paham wandatusy-syuhud, tapi menolak paham wandatul wujud, tentu kedua paham tersebut tampak berbeda, bahkan bertentangan. Mereka memandang wandatul wujud sebagai paham yang mengingkari adanya wujud selain dari wu­jud Tuhan, dan itu berarti berbeda atau bertentangan dengan paham wandatusy­syuhud, yang tidak mengingkari adanya wujud alam (termasuk manusia) di sam­ping wujud Tuhan, kendati dalam masa penyaksian mata-batin, hanya wujud Tu­han saja yang tampak. Masalah perten­tangan kedua paham tersebut masih bisa diperdebatkan, karena persepsi pendu­kung wandatul wujud dan persepsi penen­tangnya tentang paham wandatul wujud itu sendiri tidak sama. Tampaknya peng­anut wandatul wujud hanya mengingkari wujud alam sebagai wujud yang berdiri sendiri dan yang ada karena dirinya sen­diri, tapi tidak mengingkarinya sebagai wujud yang tergantung selamanya pada wujud Tuhan yang hakiki. Tampaknya wandatul wujud dalam persepsi penganut­nya tidak mengandung pertentangan de­ngan paham wandatusy syuhud.

 

Advertisement