Advertisement

Wandatul Wujud (wandat al-wujud) secara harfi berarti kesatuan wujud. Kesa­tuan wujud ini dapat dipahami sebagai satu wujud atau kesatuan dari bagian-bagian wu­jud sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan wujud. Wandatul Wujud te­lah menjadi istilah yang cukup dikenal da­lam lapangan tasawuf; istilah tersebut mengacu kepada paham atau aliran yang dibangun oleh sufi terkemuka dari Anda­lusia, Ibnu Arabi (w. 1240/637 H), dan para pengikutnya yang cukup banyak, se­perti: Sadruddin al-Qunyawi (w. 1274/ 673 H), Mu’ayyaduddin al-Jandi (w. 1301/ 700 H), Seaduddin Said al-Fargani (w. 1301/700 H), Abdurrazzaq al-Kasyani (w. 1335/736), Daud al-Qaisyari (w. 1350/ 751 H), Abdur-Rahman al-Jami (w. 1492/ 898), dan lain-lain. Kelihatannya istilah wandatul-wujud itu belum muncul dari Ibnu Arabi sendiri, tapi dari kalangan para pengikutnya dan dari kalangan yang me­nyerang paham atau aliran tersebut.

Paham wandatul wujud Ibnu Arabi itu, menurut yang dapat dipahami para sarja­na tasawuf, lebih kurang sebagai berikut: Wujud itu hanya satu, bukan banyak. Wu­jud yang satu itu adalah Wujud dengan pengertian: yang ada dengan sendirinya, keberadaannya tidak karena yang lain dan tidak bergantung pada yang lain. Wujud yang satu ini disebut juga Wujud hakiki, yang dapat dipandang dengan dua macam pandangan. Pertama, Ia dapat dipandang sebagai Wujud mutlak, tanpa terkait de­ngan sifat-sifat dan nama-nama. Wujud mutlak ini menyerupai “Yang Esa” dalam paham Plotinus; hakikat Wujud mutlak itu tidak bisa diterangkan, tidak bisa diba­yangkan oleh pikiran, dan tidak bisa di­gambarkan dengan ungkapan-ungkapan positif. Ia hanya bisa dibicarakan dengan ungkapan-ungkapan negatif, seperti: Ia ti­dak seperti ini atau tidak seperti itu. Pen­deknya Wujud mutlak itu transenden, ma-ha gaib, dan sama sekali berbeda dengan apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra serta berbeda dengan apa yang dapat di­bayangkan oleh pikiran manusia. Wujud hakiki yang dipandang sebagai Wujud mutlak ini disebut oleh Ibnu Arabi dengan berbagai sebutan, seperti: (kebu­taan), an-Nuqtat (titik), Markaz ad-Ddirat (pusat lingkaran), dan lain-lain.. Kedua, Wujud hakiki itu dapat dipandang sebagai Wujud yang tidak mutlak, tapi sudah ter­kait dengan nama-nama dan sifat-sifat, yang menggambarkan ain (hakikat, iden­titas, kepribadian, tipe, atau bentuk) Wu­jud hakiki itu. Wujud hakiki, dalam pan­dangan kedua ini, dikatakan sebagai Wu­jud hakiki yang bertajalli, Berta ‘ayyun, atau “menyatakan did dan identitas” me­lalui nama dan sifat. Dengan kata lain: Wujud hakiki yang sudah bernama dan bersifat itu adalah Wujud hakiki yang da­pat diketahui identitas atau hakikat-Nya. Al-Asmd` al-Husnd (nama-nama yang in­dah) adalah nama-nama Wujud hakiki itu, dan di antara nama-nama itu adalah Allah, nama yang menghimpun segenap nama dan sifat yang dapat dikaitkan dengan Wu­jud hakiki tersebut.

Advertisement

Bagaimana dengan keberadaan alam atau makhluk ini? Alam dalam paham wandatul wujud tidaklah berwujud, de­ngan pengertian tidak berwujud hakiki. Keberadaan alam adalah karena Wujud ha­kiki (Allah) dan selalu bergantung pada­Nya. Keberadaannya tidak wajib (mesti) karena dirinya, tapi wajib karena yang lain (yakni Allah). Alam ini diciptakan oleh Allah, karena Ia ingin dikenal oleh alam. Alam ini diciptakan berdasar pada ‘ain Allah sendiri. Dengan kata lain ‘aM (haki­kat, kepribadian, bentuk, identitas, tipe) ketuhanan pada Allah, menjadi prototip atau pola dasar bagi penciptaan alam. Ia (alam) diciptakan sedemikian rupa, se­hingga ciptaan itu selain menjadi bayang­an yang tidak sempurna dari Zat yang ma-ha sempurna, juga menjadi tempat bagi tajalli (penampakan diri secara tidak lang­sung) nama-nama, sifat-sifat, atau hakikat Tuhan. Di antara alam empiris ini, manu­sialah tempat tajalli yang lebih sempurna bagi sifat-sifat dan nama-nama Tuhan, se­dang di antara manusia, tajalli yang paling sempurna berlangsung pada insan-insan kamil, seperti para nabi dan para wali (su­fi). Paham bahwa alam merupakan wujud bayangan dari Wujud hakiki (Allah), da­lam paham wandatul wujud ini, menyeru­pai paham Plato, yang memandang alam empiris ini sebagai bayangan tidak sem­puma dari alam idea yang hakiki.

Paham wandatul wujud selain memper­oleh banyak pendukung di kalangan kaum sufi, juga memperoleh banyak penyerang, lebih-lebih dari kalangan ulama syariat. Sebab utama lahirnya sikap yang kontro­versil itu adalah adanya ungkapan-ungkap­an, baik dari Ibnu Arabi sendiri maupun dari kalangan pengikutnya, yang diguna­kan tidak dengan pengertian yang sudah lazim dipahami oleh umumnya para ula­ma_ Ungkapan-ungkapan tersebut bila di-ben pengertian seperti yang lazim dipa­hami, niscaya tampak menyimpang dari ajaran Islam. Ungkapan ini (misalnya): “Maha suci Dia (Allah),yang telah mencip­takan segala sesuatu, sedangkan Dia ada­lah ‘aitdie7 (ain segala sesuatu itu),” bila dipahami ungkapan ain tersebut dengan pengertian yang lazim, yakni diri, maka jadilah Tuhan menurut ungkapan itu diri segala sesuatu, atau dengan kata lain sega­la sesuatu itu adalah Tuhan. Bila demikian yang dikehendaki oleh para penganut wandatul wujud itu, tentulah paham de­mikian menyimpang dari ajaran Islam. Ta­pi tampaknya pengertian yang mereka ke­hendaki tidak begitu. Bagi mereka, haki­kat atau sifat-sifat dan nama-nama Tuhan menjadi ‘ain atau prototip, patron, pola dasar, atau contoh hakiki bagi hakikat, atau sifat-sifat makhluk-Nya. Sifat-sifat Tuhan seperti: mendengar, mengetahui, adil, dan sebagainya menjadi contoh bagi adanya sifat-sifat demikian pada makhluk­Nya seperti manusia.

Advertisement