Advertisement

Wakalah atau Wikalah makna asal­nya adalah melimpahkan atau menyerah­kan, seperti dalam ungkapan wakkaltu amri ila Allah. Artinya, aku serahkan urus­anku kepada Allah. Di samping itu, kata wakalah juga terkadang dipergunakan un­tuk pengertian pemelihara atau pelindung seperti dalam Firman Allah: Hasbuna Allah wani’m al-waki1 yang berarti: “Cu­kuplah Allah (yang menjadi penolong) ka­mi, dan Allah adalah sebaik-baik pemeli­hara atau pelindung.” (Ali Imran: 173).

Adapun yang dimaksud dengan waka­lah atau wikalah dalam istilah para ahli fi­kih Islam ialah perwakilan, yakni permin­taan seseorang kepada orang lain supaya menggantikan hal atau perbuatan yang menurut ketentuan hukum dan kebiasaan boleh diwakilkan atau digantikan seperti dalam transaksi jual-beli, sewa-menyewa, dan lain sebagainya.

Advertisement

Menurut ketentuan hukum fikih, wakalah (perwakilan) tergolong ke dalam salah satu jenis akad dari sekian banyak jenis akad. Oleh karena itu wakalah tidak dianggap sah (benar) bila rukun dan sya­rat-syarat wakalah itu sendiri tidak terpe­nuhi.

Advertisement