Advertisement

Wakaf berasal dan kata waqafa yang menurut bahasa berarti menahan, atau berhenti. Dalam hukum fikih istilah terse-but berarti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama zatnya kepada seseorang, atau neiir (penjaga wakaf), atau kepada suatu badan pengelola, dengan ketentuan bahwa hasil atau manfaatnya digunakan kepada hal-hal yang sesuai dengan ajaran syariat Islam. Dalam hal tersebut benda yang diwakafkan bukan lagi hak milik yang mewakafkan, dan bukan pula hak milik tempat menyerahkan, tetapi ia men­jadi hak Allah (hak umum).

Wakaf disebut juga sedekah jariyah, seperti didapati dalam sebuah hadis yang menjelaskan bahwa hanya tiga macam manfaat dari perbuatan seseorang yang se­lalu mengalir kepadanya setelah id mati: yaitu anak yang saleh yang mendoakan orang tuanya, ilmu yang diajarkannya yang dimanfaatkan orang, dan sedekah jariyah (H.R. Muslim). Yang dimaksud de­ngan sedekah jariyah dalam hadis tersebut ialah wakaf.

Advertisement

Asal mula disyariatkan wakaf dalam Islam ialah pada waktu Umar bin Khattab mendapat sebidang tanah perkebunan di Khaibar. Kepada Rasulullah, Umar bin Khattab meminta pendapat mengenai har­tanya itu. Rasulullah menasihatkan jika Umar mau, lebih baik diwakafkan saja ta­nah itu dan hasilnya disedekahkan kepada orang yang sedang membutuhkan (H.R. Bukhari dan Muslim). Tanah tersebut lalu diwakafkan oleh Umar bin Khattab dan hasilnya disedekahkan kepada orang-orang fakir miskin, untuk memerdekakan budak dan kepentingan-kepentingan lain di jalan Allah, sedangkan naziniya (pengurusnya) diberi pula pembagian selayaknya.

Wakaf di samping mempunyai nilai iba­dat, sebagai tanda syukur seorang hamba atas nikmat yang dianugerahkan Allah, juga berfungsi sosial. Dengan wakaf, di sam­ping dana-dana sosial lainnya, kepincang­an di antara kelompok yang berada dan yang tidak berada dapat ditipiskan, teruta­ma bentuk wakaf yang dikhususkan kepa­da satu kelompok yang tidak mampu. Dan dengan wakaf juga, penyediaan sarana-sa­rana ibadat dan pendidikan, seperti mes­jid, musalla dan gedung-gedung sekolah, akan lebih memungkinkan.

Ada dua macam wakaf yang dikenal da­lam hukum Islam. Yaitu wakaf zurri dan wakaf khairi. Wakaf zurri yang disebut juga wakaf ahli ialah wakaf yang dikhusus­kan oleh yang mewakafkannya untuk ke­rabatnya, seperti anak, cucu, saudara atau ibu bapaknya. Wakaf seperti ini bertujuan untuk membela nasib mereka. Dalam pan­dangan Islam, seseorang yang punya harta yang hendak mewakafkan sebagian harta­nya, sebaiknya lebih dahulu melihat kepa­da sanak familinya, bila ada di antara me­reka yan sedang membutuhkan pertolong

Adapun wakaf khairi ialah wakaf yang diperuntukkan kepada amal kebaikan se­cara umum. Wakaf bentuk itulah yang di­lakukan oleh sahabat Umar bin Khattab pada tanah yang diperolehnya di Khaibar.annya. Jika ternyata ada yang sedang membutuhkan, maka wakaf lebih afdal di­berikan kepada mereka. Seorang sahabat Rasulullah bernama Abu Talhah hendak mewakafkan sebagian hartanya. Lalu Ra­sulullah menasihatkan agar berwakaf saja kepada kerabatnya yang sedang membu­tuhkan (H.R. asy-Syaikhan).

Harta yang telah diwakafkan seseorang berarti telah lepas dari hak miliknya dan menjadi kepunyaan Allah. Artinya walau­pun manfaatnya dapat diambil oleh ma­syarakat umum, namun benda yang diwa­kafkan itu harus tetap dan tidak dapat di­miliki oleh siapa pun.

Menurut sebagian ahli hukum, umpa­manya golongan dari pengikut Ahmad bin Hambal, suatu wakaf yang tidak atau ku­rang bermanfaat lagi, boleh dijual dan di­ganti dengan yang baize yang lebih ber­manfaat. Umpamanya tikar yang diwakaf­kan di mesjid, apabila telah usang atau ti­dak dapat dimanfaatkan lagi, boleh dijual dan uangnya dibelikan lagi kepada kepen­tingan yang sama.

Orang tempat berwakaf, berhak the­manfaatkan sesuatu yang diwakafkan un­tuknya itu seperti mendiami rumah, mengambil buah-buahan dan sebagainya. Akan tetapi hendaklah is mengetahui sya­rat-syarat dari yang mewakafkan. Sese­orang hendaklah terikat dengan syarat­syarat dari yang mewakafkan. Umpama­nya dalam wakaf zurri, jika yang mewa­kafkan menyaratkan agar hasil sesuatu yang diwakafkannya itu dibagi sama di an­tara kerabatnya, maka dalam pelaksanaan­nya hendaklah is terikat dengan ketentuan tersebut. Sebidang tanah yang diwakafkan untuk membangun mesjid, hendaklah di­gunakan untuk tujuan tersebut. Segala ke­tentuan dari yang mewakafkan hendaklah dipatuhi, selama tidak berlawanan dengan ajaran agama Islam.

Dari yang berwakaf sendiri tujuan wa­kaf hendaklah jelas, wakaf zurri atau wa­kaf khairi. Penegasan tujuan wakaf itu sangat membantu dalam penentuan pen­dayagunaan harta wakaf itu. Semacam wa­kaf yang tidak dapat diketahui apakah maksud yang berwakaf untuk khusus ke­rabatnya atau untuk umum, maka nazir­nya (pengatur atau penjaganya) berhak untuk menentukan pemanfaatannya.

Wakaf adalah salah satu realisasi dari pelaksanaan perintah Allah dalam al-Qur­an agar seseorang menafkahkan sebagian hartanya ke jalan Allah. Harta dalam pan­dangan Islam mempunyai fungsi sosial dan bukan merupakan milik mutlak bagi sese­orang. Harta benda yang ada pada tangan seseorang adalah sesuatu yang dipercaya­kan Allah yang harus digunakan sesuai de­ngan ajaran-Nya. “Tidaklah akan tercapai oleh kamu suatu kebaikan, sebelum kamu sanggup menafkahkan sebagian harta yang kamu sayangi.” (Ali Imran: 92). Dan da­lam surat al-Hajj: 77 Allah berfirman: “Perbuatlah olehmu kebaikan, dengan itu kamu akan mendapat kemenangan.”

Advertisement