Advertisement

Wahyu, makna aslinya adalah isyarat yang cepat atau bisikan yang halus. Dalam istilah Syara wahyu berarti firman (petun­juk) Allah yang disampaikan kepada an­biya” (para nabi) dan aw/iya (para wali, yaitu hamba Allah yang tulus yang tidak diangkat sebagai nabi).

Dalam al-Quran tercantum ada 15 ben­tuk kata yang berasal dari akar kata wah­yu, yaitu awha (14:13; 16:68; 17:39, 19:11; 41:12; 53:10, 10, 99:5), awhaitu (5:111), awhairff (4:163, 163, 163, 7: 117, 160; 10:2, 87; 12:3, 15; 13:30; 16: 123, 17:73; 86, 20: 38, 77; 21:73; 23: 27; 26:52, 63;28:7,35:31,42:7, 13, 52), ntihi (12:109; 16:43; 21:7, 25), ralhilhi (3 :44, 12:102), raltifha (11:49), layllhfina (6:121), yrti (6:112; 8:12;34:50, 42:3). faytihiya (42:51), Cihiya (6:19, 93, 106, 145; 11:36, 18:27; 20:48; 29:45; 39:65, 43:43, 72:1), yUha (6:93), yial; (6:50; 7:203, 10:15, 109; 11:12; 18:110, 20: 13, 38, 21:108; 33:2, 38:70; 41:6; 46: 9; 53:4), watt}, un/in/an (21:45; 42:51; 53:4), wahyini. (11:37; 23:27), dan wah­yuhu (20:114). Ternyata istilah wahyu (dalam berbagai bentuk katanya itu) digu­nakan secara universal (umum), artinya wahyu itu disampaikan (dianugerahkan) kepada seluruh makhluk-Nya, baik benda yang tak bernyawa, seperti kepada langit dan bumi (41:11, 12, 99:1-5); binatang, seperti kepada lebah (16:68-69); kepada para malaikat (8:12); kepada manusia bia­ sa, selain nabi dan rast+1, seperti kepada ibu Nabi Musa (28:7), kepada para murid Nabi Isa (5:111); dan kepada para nabi (akan diuraikan berikutnya).

Advertisement

Wahyu Tuhan yang’ dianugerahkan ke­pada manusia itu melalui tiga cara, yang sekaligus menunjukkan tingkat (kualitas) wahyu itu sendiri, sebagai dijelaskan al­Quran 42:51 (“Dan tidak terjadi Tuhan berbicara kepada manusia, kecuali dengan wahyu, atau dari balik tirai, atau dengan mengutus seorang utusan, dan mewahyu­kan dengan izin-Nya apa yang Ia kehen­d aki).

Cara yang pertama yang disebut wahyu (dalam arti asalnya, yaitu dengan mengil­hamkan suatu pengertian dalam hati, atau isyarat yang cepat, atau membisikkan da­lam hati). Jenis wahyu yang terjadi de­ngan cara ini disebut wahyu khafi (wahyu batin), dan bisa dialami oleh para nabi dan bukan nabi.

Cara yang kedua ialah yang disebut dari balik tirai (min ware’ Termasuk da­lam wahyu dengan cara ini adalah rusyat (impian), kasyf (vision) dan illyJrn (men­dengar suara atau mengucapkan kata-kata dalam keadaan perpindahan untuk semen­tara waktu ke alam rohani, yaitu dalam keadaan antara tidur dan jaga). Wahyu je­nis ini juga bisa dialami oleh para nabi dan bukan nabi, dan merupakan bentuk yang paling sederhana.

Cara yang ketiga ialah wahyu yang di­sampaikan oleh Malaikat Jibril dalam bentuk kata-kata. Wahyu jenis ini merupa­kan wahyu yang paling yakin dan paling terang, yang disebut wahyu matluww (wahyu yang dibaca), dan khusus clianuge­rahkan kepada para, nabi. Kitab-kitab suci merupakan catatan resmi dari wahyu ter­tinggi ini; dan biasanya, secara teknis, isti­lah wahyu diterapkan terhadap jenis wah­yu ini, untuk membedakannya dari jenis wahyu yang lebih rendah.

Diturunkannya wahyu kepada manusia, yang terdiri dari berbagai jenis itu, adalah untuk menolong manusia itu sendiri agar dapat mencapai tujuan hidupnya (sebagai khalifah Allah di muka bumi), yaitu me­naklukkan alam dan menaklukkan diri sendiri. Manusia dapat mencapai keseml’urnaan dalam segala bidang atas usaha­nya sendiri, ia dapat menaklukkan dan mengendalikan alam dengan ilmu pengeta­huan dan teknologinya serta kekuatan yang diberikan kepadanya. Tetapi ia sa­neat lemah dalam menghadapi dirinya sen­diri. Kemampuan untuk mengendalikan diri itu hanya dapat diperoleh dengan cara mendekatkan diri kepada Allah; dalam rangka penyempurnaan diri inilah wahyu sangat diperlukan oleh manusia.

Wahyu yang diturunkan kepada manu­sia itu bukan saja bersifat universal (dalam art bahwa wahyu jenis rendah berupa il­ham. rukyat dan kasyaf merupakan penga­laman universal manusia, dan wahyu jenis tinggi, yang disampaikan melalui Malaikat Jibril, dianugerahkan kepada setiap bangsa dan umat manusia melalui para nabinya masing-masing), melainkan juga bersifat progresif (berkembang), yang mencapai kesemiximaannya pada al-Quran yang di­tuninkan kepada Nabi Muhammad sebagai cram an-nabivyin (nabi terakhir).

Dengan turunnya al-Quran, yang ber­fungsi sebagai penyempurna, pembuat te­rang, penjaga dan hakim barn kitab-kitab sebelumnya (5:48: 16:63-64), maka te­lah berakhirlah penurunan wahyu mela­lui Malaikat Jibril, sekaligus telah tertu­tuplah pintu wahyu jenis tertinggi itu Meskipun demikian, karunia rohani dari Tuhan masih tetap diturunkan kepada ma­nusia sampai berakhirnya kehidupan di dunia ini, yaitu melalui wahyu jenis lain­nya (ilham, rukyat atau kasyaf).

Advertisement