Advertisement

Wahabiyah adalah ge­rakan sosial-politik berdasarkan keislaman menurut alam pikiran pendirinya, Mu­hammad bin Abdul Wahab (1703-1787/ 1115-1201 H). Nama “Wahabiyah” di­berikan oleh lawan-lawan gerakan ini pa­da masa hidup pendirinya dan kemudian dipakai oleh orang-orang Eropa. Pendiri­nya sendiri menamakannya “Muwahhidun atau Muwahhidin” (kaum unitarian) dan sistem atau tarekat mereka adalah “Mu­hammadan” (kata ini dapat menunjuk ke­pada Muhammad bin Abdul Wahab sendi­ri, tetapi juga mengisyaratkan kepada Na­bi Muhammad). Mereka mengaku golong­an Sunni, pengikut mazhab Ahmad bin Hambal versi Ibnu Taimiyah yang dalam tulisan-tulisannya banyak menyerang pe­mujaan berlebihan kepada syekh-syekh ta­rekat.

Ajaran Muhammad bin Abdul Wahab merupakan ajaran pemumian yang ingin mengembalikan Islam sebagaimana diajar­kan oleh Nabi Muhammad setelah Islam mengalami penyimpangan-penyimpangan yang membahayakan, terutama keimanan terhadap tauhid atau keesaan Tuhan, se­perti pengkultusan wali-wali dan syekh-syekh tarekat, penyembahan pohon-po­hon keramat, dan sajian-sajian di makam­makam wali-wali dan syekh-syekh terse-but. Hanya saja, karena orientasinya ada­lah kembali ke masa Nabi yang masih ser­ba sederhana, kesederhanaan itu harqs di­lestarikan pula. Keyakinan itulah agaknya yang mendorong gerakan jai untuk meng­hancurkan makam-makam, seperti makam Zaid bin Khattab di Jubailah, dan juga bu­ku-buku teologi.

Advertisement

Sekembalinya dari pengembaraan menri dan pengalaman yang hampir menghabiskan masa mudanya, Ibnu Abdul Wahab bermaksud memulai gerakan pe­murniannya di kampung kelahirannya, Uyainah. Hasilnya ada, tetapi tantangan­nya lebih besar, termasuk saudara kan­dungiya, Sulairnan, dan sepupunya, Ab­dullah bin Husein yang. mengakibatkan pertumpahan darah antara suku-suku di Yamamah, sehingga Ibnu Abdul Wahab bessama keluarmnya terpaksa meninggal­kan Uyainah_ Untungnya di Dariyyah is diterima dengan balk, bahkan ketua suku­nya, Muhammad bin Salid, mendukung idenya dan menyanggupi untuk menye­bar-luaskannya. Dalam kesepakatan selan­jutnya, kekuasaan politik akan berada di tangan Ibnu Sa’ud dan masalah keagama­an di tangan Ibnu Abdul Wahab.

Setahun kemudian, setelah Dariyyah berhasil di”wahabi”kan dan mesjid berlan­tai tanah berhasil didirikan, gerakan ini terlibat perang dengan Syekh Riyad, Dah­han bin Day:was 1747 (1160 H) dan ber­langsung selama 28 tahun. Kemenangan sudah mulai diperoleh, tetapi Ibnu Saud wafat 1764 (1178 H), digantikan oleh putranya, Abdul Aziz, yang berhasilmeng­uMr Dahham dan Riyad 1773 (1187 H) dan menjadi yang dipertuan untuk seluruh Najd. Tahun 1790, Wahabi sudah sampai ke Muntafik dan perbatasan Irak, dan 1801 berhasil menduduki Karbela. Meski­pun pada 1803 imam Wahabi, Abdul Aziz I mati terbunuh oleh Syi`ah yang menya­mar. Hijaz secara bertahap berhasil ditak­lukkan oleh Saud bin Abdul Aziz: Madi­nah (1804), Mekah (1806) dan Jeddah be­berapa tahun berikutnya. Pada 1811, im­perium Wahabi telah membentang dari

Aleppo di utara sampai ke Lautan Hindia, dari Teluk Persia di front Irak sampai ke Laut Merah di barat. Kerajaan Turki Us­mani yang menyadari bahaya yang meng­ancam, menugaskan kepada Muhammad Ali, penguasa Mesir yang merupakan khc7- dim al-haramain (pelayan dua kota suci umat Islam, Mekah dan Madinah), untuk menangani masalah Wahabi ini. Segera Muhammad All mengirim pasukan ke Hi­jaz dipimpin oleh putranya, Tusun, yang dengan susah payah berhasil merebut kembali Madinah 1812 dan Mekah pada tahun berikutnya. Muhammad Ali yang memimpin sendiri 1813, mendapat pukul­an hebat. Untungnya, 1814 Sa`ud mening­gal, sedang putranya, Abdullah, tidak se­kuat ayahnya. Tusun yang ditinggalkan Muhammad Ali, mengadakan perjanjian dengannya yang terpaksa mengakui ke­kuasaan Usmani. Apa hendak dikata, Mu­hammad Ali menolak perjanjian itu, dan mengirim ekspedisi baru di bawah pimpin­an Ibrahim Pasya yang berhasil mendu­duki Dariyyah, pusat gerakan Wahabi, 1818. Abdullah bin Saud menyerah, diki­rim ke Constantinopel dan dihukum peng­gal. Dengan ini, babak pertama imperium Wahabi berakhir.

Setelah Ibrahim Pasya kembali ke Mesh dan meninggalkan pasukan Turki di Hijaz untuk menjaga keamanan, sepupu Saud bernama Turki melakukan pemberontak­an dan mengambil Riyad sebagai pusat gerakannya. Meskipun kemudian Turki terbunuh 1834, putranya, Faisal, dengan dibantu oleh kepala suku Syammar, Ab­dullah bin Rasyid, dapat menyelamatkan gerakannya. Sebagai hadiah, Abdullah bin Rasyid dijadikan gubemur di Hail sampai wafatnya 1847. Keturunan Abdullah ini kemudian mendirikan dinasti di Hail, bah­kan dalam perkembangannya, ketika ter­jadi ketegangan antara Abdullah bin Faisal dan Muhammad bin Rasyid, pertempuran dimenangkan oleh Ibnu Rasyid. Setelah dicapai perdamaian antara keduanya, anak­anak Saud berontak 1884 dan ini membe­ri kesempatan kepada Ibnu Rasyid untuk menduduki Riyad dan ini berlangsung sampai akhir hayatnya 1897. Abdur-Rah­man, putra Faisal yang lain, mendapat suaka di Kuwait, dan pada 1901, putra­nya, Abdul Aziz, berhasil memasuki Ri­yad untuk menegakkan kern ball dinasti Wahabi setelah 11 tahun hidup dalam pengasingan. Tahun 1904, is berhasil se­bagai yang dipertuan bagi semua yang per­nah dikuasai oleh kakeknya di Najd, dan pada 1921, Ibnu Saud merebut Hail dan mengakhiri dinasti Rasyid. Kemudian, seluruh Hijaz dapat dikuasainya: Mekah (1924), Madinah dan Jeddah (1925). Di­nasti Saud inilah yang berkuasa sampai sekarang dengan kerajaannya yang berm-ma al-Mamlakat al-`Arabiyyat as-Seudiy­ya (Kerajaan Arab Saudi). Di luar jazirah Arab, aliran Wahabi ini kelihatannya ter­dapat di India yang digerakkan oleh Say-yid Ahmad Syahid (1786-1831) dan se­kelompok kecil terdapat di Afganistan. Pengaruhnya di Indonesia tampak pada gerakan Kaum Paderi.

Advertisement