Advertisement

Waad dan Waid me­nurut bahasa berarti janji dan ancaman. Sementara waad bisa mengacu kepada jan­ji baik dan bisa kepada janji buruk (an­caman), maka waid biasanya mengacu ke­pada ancaman (janji buruk) saja. Kendati demikian menurut bahasa, teologi Islam (ilmu kalam) memakai kata waad hanya untuk janji-baik dari Tuhan bahwa Ia akan memasukkan manusia beriman dan ber­amal saleh ke dalam surga-N,ya di hari akhirat, dan memakai kata waid untuk an­caman-Nya bahwa Ia akan memasukkan orang-orang yang durhaka, munafik, dan kafir kepada-Nya ke dalam neraka-Nya di hari akhirat.

Waad dan waid Tuhan itu disampaikan oleh al-Quran melalui berpuluh-puluh ayat­nya, baik ayat-ayat itu memakai kata janji • itu sendiri atau tanpa memakainya. Di an­tara ayat-ayat itu dapat dikemukakan be­berapa buah, yaitu:

Advertisement

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa bagi mereka keampunan (per­lindungan) dan pahala yang besar.” (5:9)

“Sesungguhnya orang-orang yang ber­iman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah sebaik-baik manusia; balasan untuk mereka di nisi Tuhan mereka adalah surga-surga Adn yang di bawahnya menga­lir sungai-sungai, dan mereka kekal abadi di dalamnya; Allah meridai mereka dan mereka pun rida pada-Nya; itulah bagi siapa saja yang takut kepada-Nya.” (98: 7-8)

“Allah menjanjikan untuk orang-orang munafik (laki-laki dan perempuan) dan orang-orang yang kafir, neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. Pembalasan itu cukup untuk mereka; Allah melaknati me­reka, dan bagi mereka azab yang lama.” (9: 68).

“Itulah peraturan-peraturan Allah; siapa yang menaati Allah dan rasul-Nya, niscaya dimasukkan-Nya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal di dalamnya, dan itulah keberun­tungan yang besar. Sedangkan siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya serta melanggar peraturan-peraturan-Nya, akan dimasukkan-Nya ke dalam neraka; is kekal di dalamnya dan memperoleh siksaan yang menghinakan.” (4:13-14)

Selain dari janji dan ancaman seperti di atas, Tuhan pun menegaskan berulang­ulang bahwa Ia tidak akan melanggar, me­nyalahi, atau tidak menepati janji-Nya (3:194; 39:20; 13:31; 14:47; 30:6, dan lain-lain).

Kendati para ulama dalam lapangan aki­dah menyepakati adanya waad dan waid Tuhan dan menyepakati adanya penegas­an-Nya bahwa Ia tidak akan melanggar janji-Nya, renungan-renungan teologis tentang waad dan waid itu melahirkan juga keberagaman pendapat di kalangan mereka. Sebagian (yakni kaum Asy`ari­yah), karena cenderung kepada paham bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Ber­kehendak (bisa dan boleh berbuat apa saja terhadap. makhluk-Nya), dan Tidak Terba­tas (juga tidak terbatas oleh janji-janji­Nya), berpendapat bahwa kendati Tuhan sudah berjanji dan mengancam seperti ter­tera dalam al-Quran dan Sunah-Nabi­Nya, Ia tidaklah wajib atau mesti mene­patinya. Ia hanya jaiz (boleh, tidak mesti, dan tidak mustahil) menepatinya, dan ju­ga jaiz melanggarnya. Dengan kata lain (yang ekstrim) Ia, menurut mereka, boleh saja memasukkan mukmin yang saleh ke dalam surga atau neraka, dan juga boleh saja memasukkan orang yang durhaka ke dalam neraka atau surga. Karena sulit me­nerima implikasi tertentu dari logika bah­wa Tuhan boleh (jaiz) berbuat apa saja terhadap makhluk-Nya, maka kaum Baz­dawiyah (Maturidiyah Bukhara) terpaksa bergeser sedikit dari pendirian Asy`ariyah. Mereka memang tidak merasa keberatan menerima paham bahwa Tuhan boleh saja memenuhi janji-Nya kepada kaum durha­ka atau kafir, sehingga mereka masuk ne­raka di hari akhirat, atau menyalahinya dan memasukkan mereka ke dalam surga. Akan tetapi berkenaan dengan janji baik­Nya, mereka berkeyakinan bahwa tidak mungkin atau tidak jaiz Ia melanggarnya; Ia mestilah menepatinya dengan mema­sukkan mukmin yang saleh ke dalam surga di hari akhirat.

Kaum Mu`tazilah bertentangan secara diametral dengan pendirian kaum Asrari­yah, berkenaan dengan waad dan waid ter­sebut. Bagi mereka Tuhan memang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, tapi itu ti­dak berarti bahwa Ia jaiz (boleh) berbuat apa saja terhadap manusia, kendati manu­sia itu makhluk-Nya. Menurut mereka, mustahil (tidak logis; tidak masuk akal) bahwa Tuhan, sebagai Zat Yang Maha Adil, mau melanggar waad dan waid-Nya. Bila manusia saja amat tercela karena mau melakukan pelanggaran terhadap janjinya, apalagi Tuhan, Zat Yang Maha Sempurna, tentu lebih tidak pantas lagi melakukan­nya. Bagi mereka, pendirian pihak lain bahwa jaiz (boleh) saja Tuhan melanggar janji baik dan ancaman-Nya, memasukkan mukmin dan kafir ke surga atau sama-sa­ma ke neraka, bahkan juga jaiz (boleh) memasukkan mukmin yang saleh ke nera­ka dan kafir ke surga, adalah pendirian yang aneh, sumbang, dan bukanlah pendi­rian yang memuliakan Tuhan, tapi meren­ dahkan-Nya. Pandangan yang benar, me­nurut Mu`tazilah adalah bahwa Tuhan mesti atau wajib menepati janji dan an­caman-Nya, karena menepati janji dan an­caman-Nya itu selain merupakan tindakan terbaik atau paling pantas Ia lakukan, juga pembalasan yang dijanjikan (surga untuk mukmin yang saleh dan neraka untuk yang durhaka) merupakan tindakan yang amat adil. Menghubungkan kemestian atau kewajiban untuk menepati janji dan ancaman, kepada perbuatan Tuhan, menu-rut mereka, tidaklah merendahkan Tuhan, dan tidak mengandung arti bahwa ada se­suatu yang lebih. tinggi dari-Nya. Kata wajib pada ungkapan “Tuhan wajib mene­pati janji dan ancaman-Nya” dan “Ia wa­jib bersifat esa, tak-bermula, kekal, dan sebagainya” sama maksudnya: mustahil Ia tidak berbuat atau bersifat demikian. Kaum Maturidiyah Samarkand sependiri­an dengan Mu`tazilah: tidak mungkin Tu­han melanggar janji dan ancaman-Nya.

Incoming search terms:

  • apa pengertian waad dan waid
  • waad dan waid
  • arti waad dan waid
  • pengertian waad dan waid
  • sejarah waad dan waid

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • apa pengertian waad dan waid
  • waad dan waid
  • arti waad dan waid
  • pengertian waad dan waid
  • sejarah waad dan waid