Advertisement

Uzlah (`uzlat) secara etimologis diperkirakan, berasal dari akar kata ‘azala — ydzilu — `azlan yang artinya menjauhkan diri atau memisahkan diri dari masyara­kat. Dalam istilah tasawuf uzlah berarti mengasingkan atau memisahkan diri dari masyarakat, terutama yang di dalamnya banyak terjadi maksiat dan kejahatan, ka­rena (masyarakat demikian) dianggap da­pat mengganggu zikir kepada Allah, bah­kan lebih dari itu dapat menyeret pada ke­jahatan dan kehancuran pribadi.

Dalam membahas masalah uzlah ini yang menjadi masalah adalah kapan (da­lam kondisi bagaimana) uzlah dibolehkan atau diharuskan, dan kapan (dalam kondi­si bagaimana) pula uzlah dilarang.

Advertisement

Menurut al-Gazali seseorang diboleh­kan bahkan diharuskan uzlah dalam dua keadaan: pertama, ketika suatu saat (di dalam masyarakat) tedadi kerusakan dan banyak beredar fitnah terhadap agama; kedua, ketika masyarakat sudah (terbiasa) menyalahi janji dan mengabaikan amanat yang dipercayakan kepadanya.

Sebaliknya, menurtrt al-Gazali selanjut­nya, tidak diperbolehkan uzlah dalam tu­juh keadaan:

Pertama. ketika menjalani proses bela­jar dan mengajar, yang dalam Islam meru­pakan ibadat yang terpenting.

Kedua, ketika berusaha meratakan manfaat kepada masyarakat atau ketika mengambil manfaat dari orang lain, yang semuanya harus dilakukan dengan cara hi­dup bersama (dalam masyarakat).

Ketiga, ketika mendidik atau melatih orang lain dalam membangun (memper­baiki) akhlak dan budi pekerti (biasanya dilakukan oleh para sufi kepada murid­muridnya), dengan menghilangkan sifat­sifat buruk, membiasakan mufdhadat (la­tihan keras) dalam menderita dan mem­basmi hawa nafsu.

Keempat, ketika berusaha menjaga ke­mesraan pergaulan antara guru dengan murid, dalam rangka mencapai tingkat takwa.

Kelima, ketika berusaha memperba­nyak pahala yang tidak dapat dicapai jika tidak bergaul dengan masyarakat, seperti melawat kematian, mengunjungi orang sa­kit, salat berjemaah (baik yang wajib atau yang sunah).

Keenam, ketika berusaha tawadu (me­rendahkan diri) dan khusuk kepada Allah dalam beribadat di tengah keramaian, yang tidak dapat dicapai dengan meng­asingkan diri.

Ketujuh, ketika berusaha membiasakan kebajikan terhadap manusia, yang tidak dapat dicapai bila sendirian (tanpa adanya orang lain).

Advertisement