Advertisement

Struktur Protein Tersier, Sebagai tambahan pada susunan pilin rantai peptida sepanjang rantai itu, lipatan selanjutnya, yang disebut struktur tersier, terjadi dan mengubah keseluruhan rantai menjadi sebuah struktur yang padat dan hampir bulat. Lipatan tiga dimensi ini terjadi terutama karena pertalian antara gugus —R dari rantai samping yang menonjol dari rangka rantai polipeptida. Pertautan silang yang paling penting ialah jembatan disulfida kovalen dari sistin, yang tersusun atas dua residu sistein (lihat halaman 161). Kemungkinannya ialah 13.ahwa sistin diselipkan ke dalam rantai peptida selama sintesis, akan tetapi lebih mungkin lagi bahwa sistin terbentuk di tempat itu dari oksidasi satuan sistein tetangganya. Rantai polipeptida protein sangat panjang, sehingga dengan sendirinya dapat melengkung sedemikian rupa membentuk jembatan disulfida antara kedua residu sistein yang tadinya terletak berjauhan pada rantai itu (  14.4). J ika hal ini terjadi, rantai polipeptida memperoleh susunan lipatan yang stabil. Jembatan disulfida mungkin juga terbentuk antara residu sistein pada berbagai rantai polipeptida, jadi mempertahankan gabungan rantai menjadi struktur stabil.

Tipe pertautan lain yang terjadi pada struktur tersier ialah ikatan elektrostatik (disebut juga jembatan garam) yang terjadi antara sebuah gugus amino terionisasi (misalnya lisin) dan sebuah gugus karboksilat terionisasi pada rantai samping asam amino lain (misalnya asam glutamat), jika pH-nya cocok. Pertautan ini tidak sekuat ikatan kovalen dan mudah pecah, misalnya karena perubahan pH medium sekelilingnya.

Advertisement

Berdasarkan konformasi tersiernya protein dapat digolong-kan menjadi dua kelompok utama, yaitu protein berserat dan protein bulat. Protein berserat, seperti dinyatakan oleh namanya, terdiri atas rantai polipeptida lurus yang secara teratur tersusun menjadi serat panjang atau lembar pipih. Protein ini tidak larut dalam air dan dapat dianggap sebagai bahan struktural dasar (misalnya otot, urat, dan sebagainya) pada tubuh binatang. Sebaliknya, protein bulat memiliki molekul yang berlipat-lipat menjadi bentuk bulatan yang kompleks. Kebanyakan protein macam ini relatif larut dalam air dan pada umumnya aktif dalam proses fisiologi. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah enzim, protein yang berfungsi sebagai pengangkut (misalnya mioglobin) dan beberapa hormon.

Denaturasi. Jika diperlakukan dengan ‘kasar’ (lihat di bawah) protein akan kehilangan kemampuan untuk melaksanakan fungsinya. Jika tergolong ke dalam tipe bulat, protein akan menjadi sangat sulit larut. Dikatakan protein itu mengalami denaturasi. Susu kental dan bagian putih telur rebus adalah contoh protein terdenaturasi.

Penjelasan mengenai denaturasi adalah bahwa perlakuan kasar merusak struktur tersier suatu protein. Suatu bahan yang memecah atau melemahkan pertautan yang mempertahankan struktur tersier yang tepat disebut suatu denaturan. Berlatar belakang pengetahuan mengenai gaga-gaga yang memper-tahankan struktur tersier ini, sekarang ada kemungkinan untuk menjelaskan kegiatan tiap denaturan. J adi bahan pereduksi atau pengoksidasi akan mendenaturasi banyak protein sebab bahan ini memecah jembatan disulfida, dan pH ekstrem mendenaturasi protein dengan jalan pengisian atau pengosongan gugus terionisasi. Pengaruh suhu kurang spesifik, karena peningkatan suhu akan mempergiat gerakan acak atom-atom molekul protein dan cenderung meningkatkan kemungkinan pecahnya segala macam ikatan.

Advertisement