Advertisement

Sifat Vokal dalam Bahasa

Bahasa yang ditelaah oleh ahli linguistik adalah bahasa manusia. Mungkin saja orang menolak untuk menepatkannya, karena peng­gunaan kata lain dari “bahasa” hampir selalu bersifat metaforis: “bahasa binatang” adalah penemuan penulis fabel; “bahasa semut” lebih mengungkapkan hipotesis daripada data pengamatan; “bahasa bunga” merupakan kode seperti kode-kode yang lain. Di dalam baha­sa awam, “bahasa” berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk saling mengerti dengan menggunakan tanda-tanda bunyi. Sifat vokal tersebut perlu diuraikan lebih lanjut: di negeri beradab, sejak beribu tahun yang lalu, orang sering kali menggunakan tanda gambar atau grafis yang berkaitan dengan tanda bunyi bahasa. Itulah yang disebut aksara. Sebelum mesin rekaman bunyi diemukan, tanda bunyi yang dipancarkan langsung ditangkap atau hilang sama sekali. Sebaliknya, tanda yang tertulis berusia sama panjangnya dengan penunjangnya, seperti batu, prasasti atau kertas, dan bekas-bekas yang ditinggalkan oleh pisau baja, belati atau pena pada penunjang itu. Itulah yang di­ringkas dalam sebuah pepatah uerba uolant, scripta manent. Ciri langgeng sesuatu yang tertulis itu telah memberikan prestise yang luar biasa pada aksara. Karya sastra yang merupakan dasar budaya kita pun disampaikan dalam bentuk tertulis (disebut littraire juga karena disajikan dalam bentuk tertulis). Aksara alfabetis mengungkapkan se­tiap tanda dengan sederet huruf, yang terpisah dengan rapi di dalam teks tercetak, dan yang diajarkan di sekolah: setiap orang Indonesia yang berpendidikan akan mengetahui unsur-unsur apa yang mem­bentuk tanda tertulis kenyang, tetapi kemungkinan akan sulit mem­bedakan unsur-unsur bunyi yang membentuk tanda tadi. Semua itu sebenarnya bertujuan satu, yaitu agar orang yang berpendidikan mampu mengenal tanda bunyi dan padanan grafisnya, dan me­maksakan padanan grafis itu sebagai satu-satunya penampilan yang memadai bagi seluruh sistem.

Advertisement

Namun, hal itu jangan membuat kita lupa bahwa tanda-tanda bahasa manusia yang terutama bersifat vokal, bahwa selama beratus ribu tahun tanda-tanda tersebut hanya berwujud bunyi, dan bahwa kini pun sebagian besar makhluk yang namanya manusia mampu berbicara tanpa mampu membaca. Orang belajar berbicara sebelum belajar membaca: membaca menyusul berbicara, dan tidak pernah sebaliknya. Pengkajian aksara merupakan disiplin yang berbeda dengan linguistik, meskipun dalam prakteknya merupakan salah satu cabangnya. Jadi pada pokoknya ahli linguistik tidak memperhatikan fakta-fakta grafis. Ia memperhatikannya hanya apabila, dalam kasus yang sangat terbatas, fakta grafis mempengaruhi bentuk tanda bunyi.

Advertisement