Advertisement

Sifat-sifat asam amino timbul sebagai akibat adanya rantai samping serta gugus amino dan gugus karboksil. Sifat yang ditimbulkan oleh rantai samping bergantung pada kehadiran gugus fungsional. Misalnya, sebuah rantai samping berupa gugus alkil akan relatif lembam, sedangkan rantai samping berupa gugus sulfidril —SH, atau tambahan gugus —NH2 atau gugus COOH akan lebih reaktif. Sifat asam amino yang disebabkan oleh adanya rantai samping yang reaktif akan menjadi penting bila asam-asam amino yang memilikinya bergabung menjadi protein. Dari sifat-sifat yang disebabkan oleh adanya gugus —NH2 dan gugus —COOH yang dimiliki oleh tiap asam amino pada atom karbon-a, hanya sifat keelektrolitannya yang akan diuraikan dalam buku ini.

Dalam larutan cair, asam amino akan bereaksi baik dengan asam maupun dengan basa, karena memiliki sekurangkurangnya sekelompok basa —NH2 yang dapat di-ionisasi (–> —NH3±) dan sekelompok asam —COOH yang dapat di-ionisasi (— —000-). Karena dapat berkelakuan baik sebagai asam maupun basa, maka asam-asam amino dijuluki elektrolit amfoter. Walaupun selama ini glisin diungkapkan dengan H—CH(NH2)COOH, rumus ini bukanlah rumus yang tepat untuk meng kan strukturnya, baik dalam .bentuk kristal maupun dalam bentuk larutan. Hal ini disebabkan oleh karena glisin berbentuk suatu senyawa ion dengan gugus —NH2 maupun —COO berionisasi sekaligus, sehingga rumusnya yang tepat adalah:

Advertisement

H—CH(NH3±)C00:

Ion-ion bermuatan ganda yang berlawanan seperti ini disebut zwitterion, istilah bahasa J erman untuk makna “dua macam ion”.

Jika suatu asam ditambahkan ke dalam larutan glisin yang netral, yaitu pH-nya dikurangi, ion H- dari asam akan bereaksi dengan ion —COO- membentuk gugus —COOH yang tidak bermuatan. Akibatnya, muatan yang tinggal dalam molekul glisin adalah muatan positif ion —NH3±, sehingga molekul itu menjadi H—CH(NH3±)COOH dan hanya bermuatan positif. Sebaliknya, jika suatu basa ditambahkan ke dalam larutan netral, yaitu pH-nya dinaikkan, ion-ion .1-1+ dibebaskan dari gugus — NH3± bermuatan dan bereaksi dengan ion —OH- yang berlebihan dalam larutan sehingga terbentuklah air. Molekul glisin ini sekarang menjadi H—CH(NH2)C00- dan hanya bermuatan negatif. Jadi, bergantung pada pH larutan sekitarnya, glisin dapat bermuatan positif atau negatif atau netral. pH yang memungkinkan jumlah muatannya nol, yaitu jika glisin berada pada bentuk “zwitterion”, disebut titik isoelektrik. Perubahan bentuk glisin dari satu bentuk ke bentuk lain merupakan sifat umum semua asam amino.

Advertisement