Advertisement

Setiap Bahasa Memiliki Artikulasi Sendiri, Semua bahasa memang sama dalam hal melaksanakan artikulasi ganda, namun masing-masing berbeda dalam cara pemakainya meng­analisis data pengalaman dan dalam cara mereka menonjolkan ke­mungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh alat wicara. Dengan kata lain, setiap bahasa mengartikulasikan ujaran maupun penanda dengan caranya sendiri. Untuk mengungkapkan keadaan tertentu, orang Indonesia mengatakan saya pusing, sedangkan orang Spanyol mengatakan me duele la cabeza. Bagi orang Perancis dan orang Indo­nesia, subjek ujaran adalah pembicara, sedangkan bagi orang Spa­nyol kepalalah yang menderita. Pengungkapan rasa sakit berbentuk nomina dalam bahasa Perancis dan verba dalam bahasa Spanyol serta Indonesia. Rasa sakit tersebut dalam bahasa Perancis menimpa ke­pala, sedangkan dalam bahasa Spanyol maupun dalam bahasa Indonesia menimpa orangnya. Memang dapat saja orang Perancis me­ngatakan la tete me fait mal ‘kepala menyakitkan saya’, namun yang pasti adalah bahwa di dalam situasi tertentu, orang Perancis dan orang Spanyol maupun orang Indonesia secara wajar melakukan ana­lisis yang sama sekali berbeda. Contoh lain, kita dapat bandingkan padanan-padanan berikut: Latin: poenas dabant dan Perancis:. ils .taient punis dan Indonesia mereka telah dihukum; Inggris: smoking prohibited, Rusia: kurit’ vospre,k(zetsja dan Indonesia: dilarang merokok; Perancis: on peut compter sur lui dan Indonesia: dia dapat dipercaya.

Kita telah mengetahui bahwa kata-kata suatu bahasa tidak me­miliki padanan yang tepat di dalam bahasa lain. Hal itu jelas sejalan dengan berbagai analisis data pengalaman. Mungkin perbedaan di dalam menganalisis mengakibatkan perbedaan cara di dalam menin­jau suatu gejala, atau konsepsi yang berbeda mengenai suatu gejala mengakibatkan perbedaan dalam analisis situasi. Sebenarnya tidak mungkin kita bertolak dari salah satu urutan tersebut.

Advertisement

Mengenai artikulasi penanda, kita tidak boleh mengkaji fakta berdasarkan graf, rineskipun itu berupa transkripsi dan bukan bentuk tulisan. Kalau kita bertolak dari /saja masuk auin/ dan /saja pusio/, kita tidak boleh menganggap bahwa /a/ yang pertama di dalam /sa­ja/ mencakup realitas bahasa yang sama dengan /a/ yang di dalam /mal/. /a/ Perancis dilafalkan secara dangkal, sedangkan /a/ dari saya adalah satu-satunya vokal terbuka di dalam bahasa Indonesia, sehingga lebih terbuka sifatnya. Hanya karena alasan praktis dan eko­nomis yang membuat orang mentranskrip fonem dari dua bahasa yang berbeda dengan lambang yang sama.

Advertisement