Advertisement

Satuan-satuan Segmental, Apabila masalahnya bukan lagi mengenai dua arah lengkung intonasi, melainkan dua buah fonem, keadaan sama sekali berbeda. Kata para /para/ dan bara /bara/ hanya dibedakan oleh pengguna­a.n fonem /p/ di satu pihak dan fonem /b/ di lain pihak. Kita secara tak terasa dapat berpindah dari pelafalan khas fonem /b/ ke pelafal­an khas fonem /p/ dengan jalan mengurangi secara bertahap getaran pita suara. Jadi, secara fisiologis di sini kita menemukan kesinam­bungan yang sama yang tanpa hambatan, yang telah kita temui pada kenaikan suara. Namun, jika suatu perubahan di dalam kenaikan su­ara menyebabkan suatu perubahan amanat yang minim tetapi nyata, hal yang sama tidak mungkin terjadi di dalam kasus getaran yang menandai /b/ dalam hubungannya dengan /p/. Selama getaran ter­sebut masih terdengar, kata yang dilafalkan akan dipahami sebagai “bara”. Namun, apabila batasnya tercapai, yang memang dapat ber­variasi menurut keadaan, pendengar akan memahami para, artinya awal kata tidak lagi diinterpretasikan sebagai /b/, melainkan /p/. Jadi, makna amanat pun sama sekali berubah. Jika pembicara me­lafalkan dengan buruk, atau jika ada bunyi sehingga keadaan tidak mempermudah tugas saya sebagai pendengar, mungkin saja saya ragu untuk menginterpretasikan apa yang saya dengar sebagai ini bara bagus atau ini para bagus. Namun, saya mau tidak mau harus memilih di antara kedua interpretasi tersebut. Pengertian amanat an­tara tidak ada artinya sama sekali. Begitu pula orang tidak mungkin menangkap sesuatu yang kurang sedikit dari “bara” atau lebih sedikit dari “para”, orang tidak mungkin melihat kenyataan bahasa yang kira-kira /b/ atau kira-kira /p/. Segmen apa pun di dalam suatu ujaran yang dikenali sebagai segmen Indonesia harus dapat dikenali ATAU sebagai /b/ ATAU sebagai /p/ ATAU sebagai salah satu dari ke-29 fonem bahasa tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa fonem adalah satuan segmental. Ciri segmental dari fonem itu tentu saja tercakup di dalam penjelasan yang telah diberikan di atas bahwa fonem yang terdapat di dalam setiap bahasa tertentu jumlahnya. Aksara alfabetis kita, yang asalnya suatu pinjam terjemah dari lafal fonematis, masih mempertahankan ciri segmentalnya: mungkin saja di dalam membaca sebuah teks tulisan tangan kita ragu untuk meng­interpretasikan sesuatu sebagai sebuah u atau sebuah n, namun kita pun tahu bahwa mau tidak mau unsur tersebut harus sebuah u atau sebuah n. Membaca melibatkan pengenalan setiap huruf sebagai salah satu dari suatu jumlah tertentu satuan yang masing-masing, oleh penyusun di percetakan diberi kotak tertentu, dan bukan lagi interpretasi subjektif dari rincian bentuk setiap huruf yang berdiri sendiri. Sebuah teks yang dicetak secara baik adalah sebuah teks di mana perbedaan antara a yang berdiri sendiri yang berurutan begitu minimnya sehingga sama sekali tidak mengganggu pengenalan dari semua a itu sebagai satuan graf yang sama. Begitu pula halnya de­ngan ujaran dan fonem: ujaran akan semakin jelas apabila pengung­kapan berurutan dari fonem yang sama segera terkenali sebagai satu­an bunyi yang sama.• Hal itu sesuai dengan apa yang telah dijelaskan di atas mengenai solidaritas yang mempersatukan /m/ dari masa dan /m/ dari masuk. Memang itu satuan yang sama, dan nampak dari transkripsinya yang identik, yaitu satuan yang harus diungkapkan oleh para penutur secara sama kalau mereka memang ingin memu­dahkan pemahaman dari apa yang mereka katakan. Jadi, satuan segmental adalah satuan yang valensi bahasanya sama sekali tidak terpengaruhi oleh perubahan rincian yang ditentu­kan oleh konteks dan keadaan. Satuan tersebut harus ada di dalam mekanisme bahasa apa pun. Fonem merupakan satuan segmental. Unsur-unsur prosodis seperti intonasi yang dijelaskan di atas bukan satuan segmental. Namun, ada unsur prosodis lain yang terpaksa digolongkan dalam prosodi karena tidak terintegrasi di dalam pe­menggalan fonematis dan bersifat segmental seperti juga fonem: unsur tersebut disebut nada yang jumlahnya terbatas di dalam setiap bahasa. Di dalam bahasa Perancis tidak ada nada, begitu pula di se­bagian besar bahasa-bahasa Eropa. Di dalam bahasa Swedia terdapat dua nada, bahasa Cina memiliki empat, sedangkan bahasa Vietnam memiliki enam nada.

Advertisement
Advertisement