Advertisement

Sabir dan “Pijin”, Sampai di sini, kami telah berusaha menggambarkan berbagai situasi sosiolinguistik di dalam lingkungan di mana suatu bahasa ber­sama memperlihatkan persatuan. Hal yang menarik perhatian kami sekarang adalah situasi di mana seorang individu atau suatu kelom­pok individu ingin menjalin hubungan di luar lingkungan bahasa ber­sama yang dimilikinya. Jika, seperti yang lazimnya terjadi, individu uu atau kelompok itu ingin menjalin komunikasi bahasa dengan me­reka yang dijumpainya, dia harus meyakinkan orang-orang itu agar belajar bahasanya, atau dia sendiri belajar bahasa orang-orang itu. Meskipun demikian, bukannya tidak mungkin bahwa keinginan un­tuk berkomunikasi muncul di kedua belah pihak sehingga masing­masing kelompok yang berhasil, berupaya untuk mengenali apa yang dikatakan kelompok lain dan menirunya sesuai dengan kemampuan­nya. Hasilnya adalah bahasa campuran, yang oleh masing-masing ke­lompok yang bersentuhan akan cenderung dilihat sebagai bahasa kelompok lain, padahal sebenarnya hanya separuhnya. Idiom itu, bagi para pemakainya, akan merupakan bahasa khusus, yang struk­turnya sulit dikenali, dan berkosa kata terbatas pada kebutuhan yang diciptakan dan yang memungkinkannya terus hidup. Alat komuni­kasi yang agak terbatas ini sering kali disebut sabir, nama yang telah lama digunakan di pelabuhan-pelabuhan Laut Tengah, yang dikenal juga dengan sebutan lingua franca. Sabir tidak selalu hanya diguna­kan oleh pemakai yang berasal dari dua kelompok etnis, namun seba­gai lingua franca sabir dapat digunakan sebagai alat penghubung di antara segala bangsa yang berada di dalam suatu wilayah geografis tertentu. Ungkapan pasar macaehe bono, yang dipungut dari sabir Afrika Utara, menggambarkan dengan jelas ciri keanekaan dalam idiom itu: macache adalah perubahan bentuk dari bahasa Arab ma kan si “tidak”, dan hono semacam denominator lazim dari bentuk­bentuk roman dalam kata bon ‘baik’. Di antara bahasa-bahasa cam­puran jenis ini, perlu disebutkan pula jargon chinook yang pada abad XIX digunakan oleh bangsa Indian di pantai timur Pasifik, untuk berhubungan dengan suku-suku lain dan dengan para pendatang yang berbahasa Perancis dan Inggris. Lebih dekat lagi dengan kita, baik dari segi ruang maupun waktu, adalah bahasa russnork yang lahir berkat sentuhan antara para nelayan Rusia dan Norwegia di pantai Laut Artik, dan yang hidupnya hanya sebentar tetapi telah dideskripsikan dengan lengkap, sehingga merupakan contoh yang baik dari sebuah idiom campuran yang lahir berkat sumbangan yang sepa­dan dari dua buah bahasa yang terkenal.

Tidak ada Batas yang jelas antara sabir dan pijin, kecuali bahwa pijin memungut kosa kata dari satu bahasa saja yaitu bahasa Inggris. Sebenarnya pijin dan yang sejenisnya masih memainkan peran lingua franca di Dataran Laut Tengah. Lagi pula semua pijin mengandung jejak pengaruh bahasa lain di samping bahasa Inggris: dalam pijin mana pun terdapat kata savvy “tahu”, yang jelas berasal dari bahasa roman (bk. sabir), yang otomatis digunakan oleh penutur bahasa Ing­gris yang berusaha membuat mengerti seorang asing. “Bahasa negro kecil” kurang lebih sama dengan pijin, tetapi di lingkungan Perancis, dan digunakan sebagai bahasa penghubung bagi orang-orang yang berbicara bahasa yang berbeda.

Advertisement

Advertisement