Advertisement

Patois, Di sebagian besar daerah pedesaan Perancis, pada abad XIX dan di banyak masyarakat desa sekarang ini, anak yang belum ber­usia sepuluh tahun dipajankan pada bentuk-bentuk bahasa yang cukup berbeda, baik dalam fonologi maupun tata bahasa dan kosa kata. Hal ini membuat pengamat bahasa melihat adanya dua idiom yang bersaingan, dan bukan dua variasi dari bahasa yang sama. Da-lam hal ini, bentuk bahasa yang dipelajari pertama-tama dan biasa­nya digunakan di kalangan keluarga, disebut patois dilafalkan [pat­wa]. Sebagai saingan patois, anak mengenal dan lazim menggunakan suatu bentuk bahasa yang tanpa ragu akan dikenali sebagai bahasa Perancis, meskipun bentuk itu berbeda dengan berbagai bentuk yang digunakan di Paris atau di kota-kota lain. Begitu anak masuk seko­lah, is akan membiasakan diri, seperti juga anak Paris, dengan ben­tuk sastra dan bentuk puitis. Tidaklah penting apakah patois itu ber­sifat roman, artinya turunan dari bahasa Latin seperti halnya bahasa Perancis, dan oleh karenanya cukup dekat dengan bahasa itu, atau jauh lebih berbeda, seperti halnya patois yang digunakan di desa Flandre atau di Bretagne Bawah, atau pun seperti halnya di Daerah Baska, atau bahasa yang hubungan genetisnya dengan rumpun baha­sa yang masih diragukan. Ciri khas situasi patois adalah sebagai berikut: di satu pihak, kedua sistem yang hadir cukup berbeda sehingga situasi patois dianggap sebagai dua ragam yang berbeda, yaitu baha­sa vernakular dan bentuk lokal dari idiom yang lazim. Di lain pihak, bahasa lokal dianggap sebagai bentuk bahasa yang tidak sempurna yang hanya dapat memberikan kata pungutan kepada bahasa nasio­nal. Oleh karenanya, sebuah patois bertahan selama ada orang-orang yang menganggapnya lebih mudah daripada bahasa nasional, di da­lam kesempatan-kesempatan tertentu. Maka, dari definisinya patois dapat dikatakan mudah hilang. Patois dapat hilang karena sedikit demi sedikit dirancukan dengan bentuk bahasa lokal: ada daerah­daerah di mana bahasa Perancis lokal kurang lebih “dipatoiskan” se­suai dengan keadaan dan lawan bicara. Patois mungkin pula hilang karena ditinggalkan, artinya orang tua memutuskan untuk tidak lagi berbicara patois dengan anak-anak mereka. Situasi patois dapat pula dihapus pada saat bahasa lokal, atau suatu bentuk yang sangat serupa dengannya, di mata mereka yang menggunakannya memperoleh prestise yang cukup, yang membalikkan arus yang cenderung mengu­cilkannya dari kemandiriannya demi bahasa yang lebih umum: bahasa Vlam di Perancis Utara tetap merupakan patois, selama tidak ditinggalkan oleh penuturnya. Bahasa itu dapat pula menjadi variasi dari bahasa Belanda bagi mereka yang secara sadar menghendakinya demikian. Perbedaan sudut pandang ini dengan cepat akan menim­bulkan perbedaan yang besar di dalam perilaku bahasa para penutur yang menghindari kata-kata tertentu dan bentuk-bentuk tertentu un­tuk menggunakan bentuk yang lain.

Advertisement
Advertisement