Advertisement

Oklusif Aspirat dan Glotal, Apabila orang melafalkan [ga], maka vokal didahului oleh se­buah konsonan bersuara, artinya pita suara bergetar dari awal sam­pai akhir. Jika orang melafalkan [ka], vokal didahului oleh sebuah konsonan tak bersuara, sehingga getaran hanya dimulai ketika ada vokal. Jika pada saat [k] meletup, pita suara cukup berdekatan untuk segera bergetar, maka terdengar bunyi vokal begitu letupan [k] di­kendurkan; jadi, [k] tidak bersifat aspirat. Namun, jika pita suara tetap terpisah selama pelafalan [k], maka diperlukan beberapa waktu untuk menyusun hubungan sebelum munculnya getaran. Sementara itu, udara yang keluar dari paru-paru bergeser pada pita suara yang menghasilkan bunyi yang disebut aspirat dan dilambangkan dengan [h]; jadi, yang terdengar adalah [kha]. Namun, karena [h] merupa­kan perpindahan posisi glotis yang membedakan [k] dari vokal, maka aspirasi tidak dianggap sebagai bunyi khusus, melainkan sebagai ciri [k] yang khas yang disebut aspirat dan dilambangkan dengan [ke] atau [kh]. Konsonan oklusif tak bersuara dalam bahasa Perancis tidak merupakan aspirat, sedangkan yang dalam bahasa Inggris terdapat sedikit aspirat. Oklusif dapat diartikulasikan dengan glotis yang sama sekali’ter­tutup. Dalam hal ini, udara terkurung di antara letupan khusus (oklusif dorsal, misalnya pada [k]) dan letupan yang terjadi di glotis. Jika seluruh glotis diangkat, maka tekanan udara yang tersimpan akan meningkat dan memungkinkan pemutusan oklusif yang khas. Letupan glotis yang ditimbulkan oleh tekanan udara yang datang dari paru-paru, akan mengikuti dan segera mendahului getaran yang diperlukan untuk menghasilkan vokal berikutnya. Jadi, yang ter­dengar adalah [k?a]. Namun, karena [?] merupakan perpindahan dari posisi glotis yang merupakan ciri [k] ke posisi yang dibutuhkan untuk menghasilkan vokal, maka [?] tidak dianggap sebagai bunyi khusus, tetapi sebagai sebuah [k] glotal, atau yang dalam hal kon­sonan dorsal dilambangkan sebagai [k9]. Jika pengenduran glottis mendahului letupan mulut dan bukan mengikutinya, maka konsonan yang tertangkap adalah konsonan bersuara pre-glotal, misalnya Pg]. Terangkatnya glotis akan menghasilkan tekanan yang cukup bagi udara yang tersimpan, menjadi lebih mudah jika volume rongga yang terjadi di antara kedua letupan dari awalnya lebih kecil. Itu sebabnya mengapa lebih mudah menghasilkan sebuah [k?] daripada sebuah [t?] dan mengapa banyak bahasa yang memiliki konsonan glotal tidak memiliki [p?]. Konsonan glotal atau pre-glotal tidak jarang ditemui di luar Eropa. Apa yang dituliskan q dalam transkripsi Arab sering kali merupakan oklusif dorsal dalam dan glotal.

Dalam memproduksi sebuah oklusif dengan glotis dalam keada­an tertutup, glotis dapat turun dan bukan naik. Akibatnya, tekanan udara yang tersimpan berkurang dan, apabila oklusif mulut yang khas mengendur, udara luarlah yang memproduksi letupan sambil masuk ke dalam mulut. Pada saat yang sama, udara dari paru-paru tersaring melalui glotis yang bergetar dan hasil keseluruhannya ter­tangkap sebagai konsonan bersuara. Bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara demikian disebut implosif atau injectif. Konsonan ini di­lambangkan dengan berbagai cara dan terutama dengan mengguna­kan huruf kapital berukuran kecil ([B], [D], dan sebagainya). Dalam berbagai bahasa Afrika yang mengenal bunyi itu, labial dan apikal lebih sering muncul daripada dorsal.

Advertisement

Advertisement