Advertisement

“Nomina” dan “Verba”, Dalam hal monem leksikal, dapat dibedakan terlebih dahulu jika perlu, antara monem yang mungkin digunakan sebagai predikat dan monem-monem yang lain. Pembedaan ini tidak harus mencakup pembedaan tradisional antara “verba” dan “nomina”: di dalam baha­sa Latin, Paulus bonus “Paul baik hati” dan bahasa Rusia dom nov “rumah itu barn” atau dalam bahasa Indonesia ia guru, bonus, nov, dan guru merupakan predikat meskipun bukan verba. Dan banyak lagi bahasa yang memiliki unsur leksikal yang dapat digunakan se­bagai predikat. Namun, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu menyusun kelas-kelas unsur leksikal berdasarkan kemungkinannya berkombinasi dengan berbagai modalitas: beberapa di antaranya yang mungkin berkombinasi dengan modalitas waktu dan modalitas persona dapat disebut “verba”; yang lainnya yang berkombinasi de­ngan modalitas jumlah atau milik dapat disebut “nomina”. Namun, penggunaan istilah-istilah itu ada kerugiannya, yaitu istilah itu men­jolok kenyataan bahasa yang khas bagi bahasa-bahasa mereka yang telah menyusun peristilahan tata bahasa tradisional. Pendek kata, lebih baik tidak berbicara tentang “nomina” dan “verba” apabila kita mendeskripsikan suatu bahasa di mana semua unsur leksikal terkom­binasi dengan modalitas persona dan modus, namun hanya yang da­pat berkombinasi dengan aspek, atau yang mengungkapkan objek atau tindakan dalam kelangsungannya, bebas dari jarak waktu itu atau sebagai hasil sesuatu yang lain, yang dapat disebut verba: dalam bahasa Kalispel, monem seperti turn’ “ibu” atau citxu “rumah” berkombinasi dengan modalitas yang berkaitan dengan (1) apa yang dalam bahasa kita disebut pronomina persona (ein-ttim’ “saya ibu “), (2) dengan adjektiva posesiva (an-citxu “itu rumahmu”), (3) dengan subjungtif (q-citxu “agar menjadi rumahmu”); monem-monem yang lain seperti moqu “gunung”, atau kup “mendorong” berkombinasi de­ngan modalitas yang sama, tetapi dengan ditambah modalitas yang lain, dan khususnya modalitas aspek, misalnya aspek berlanjut yang diparkah oleh es(0atau es-…-i dalam esa-meiqu “itu sebuah gunung” dan es-kup-i “ia mendorong”. Jelaslah bahwa unsur-unsur leksikal ba­hasa tersebut yang berkombinasi dengan aspek dan unsur-unsur yang tidak berkombinasi, tidak membentuk dua kelas yang berbeda dari segala segi seperti nomina dan verba bahasa Perancis, melainkan ter­dapat dua pembagian bawahan dari satu kelas satuan yang sama yang semuanya mungkin digunakan sebagai predikat dan bukan seba­gai predikat. Mungkin sekali bahwa monem-monem yang menunjuk tindakan dan monem yang menunjuk objek cenderung berkombinasi dengan modalitas yang berbeda. Namun, ilustrasi yang terdahulu menunjukkan bahwa tanda yang menunjuk objek “gunung” dapat melemah” seperti tanda yang menunjuk pada tindakan mendorong, dan bukan lagi sebagai tanda yang menunjuk objek lain, yaitu rumah.

Sebenarnya lebih baik jika kita mempertahankan istilah “verba” untuk menunjuk monem yang hanya digunakan sebagai predikat. Se­perti halnya dalam bahasa Perancis, jette ‘membuang’, donne ‘mem­berikan’, mange ‘makan’ yang hanya mungkin digunakan sebagai bukan predikat apabila berbentuk partisip atau infinitif, artinya dengan menambahkan monem yang mengubah statusnya.

Advertisement

 

Advertisement