Advertisement

Madinah nama kota tempat hijrah Nabi Muhammad pada 622. Madinat an-Nabi berarti “Kota Nabi”; tempat itu sebelum­nya dikenal dengan nama Yasrib. Berlain­an dengan Mekah yang tandus dan berbu­kit, Madinah terdiri dan deretan oasis yang subur. Semenjak awal karenanya para penghuninya telah bercocok tanam. Pertanian adalah merupakan tulang pung­gung perekonomian Madinah. Suku-suku yang dominan di kota tersebut adalah Aus dan Khazraj, yang berasal dari Arabia Se­latan. Di samping itu terdapat kelompok­kelompok Yahudi seperti: Nadir, Qainu­qa dan Quraizah yang menguasai pasar dan perdagangan. Namun menjelang datangnya Islam, telah terjadi pergeseran­pergeseran yang mengacu kepada prospek kelompok-kelompok `Aus dan –,Khazraj dengan semakin sempitnya peranan orang­orang Yahudi. Akibatnya terjadilah kon­flik bahkan pertempuran-pertempuran an­tara dua suku besar tersebut. Puncak per­musuhan ini ditandi dengan pertempuran Bu as pada 617, lima tahun sebelum Hi­jrah. Tak ada satu pihak pun yang dapat mengklaim kemenangan; akhirnya mereka sepakat untuk menerima perjanjian gen­catan senjata (as-sulh). Situasi inilah yang kemudian telah mcrubah bukan saja masa depan Madinah melainkan dunia lewat hijrah Nabi ke kota tersebut.

Kedatangan Nabi ke Madinah menim­bulkan perubahan-perubahan besar. Ken­dati para pengikut Nabi yang berhijrah ke Madinah. tak lebih dari 70 sahabat ternya­Aa perpindahan itu cepat merubah situasi di Madinah. Keberadaan sekumpulan orang-orang Islam, baik Muhajirun mau­pun Ansar, di bawah pimpinan Nabi telah mendorong diantaranya pembangunan tempat dan sarana ibadat, khususnya mes­jid, serta penegasan bahwa Madinah ada­lah “Tanah Suci” identik dengan Mekah. Persaudaraan dan ikatan yang terbina di­antara mereka begitu kuatnya sehingga Nabi tidak kesulitan untuk menyiapkan mereka guna menghadapi kekuatan Qurai­sy yang kokoh, baik dalam Perang Badr maupun Uhud. Memang kekompakan pen­duduk Madinah secara umum telah dica­nangkan dalam sebuah persetujuan yang lazim disebut “Konstitusi Madinah”. Ke­berhasilan kepemimpinan Nabi telah me­nyatukan Madinah dan menjadikannya kekuatan baru di Arabia, kendati penga­kuan berbagai kelompok atas kenabian Muhammad tercapai secara berangsur-ang­sur. Bahkan sampai batas tertentu Nabi terpaksa mengambil tindakan tegas terha­dap para penghalang proses pembaharuan yang dilaksanakannya sebagaimana ter­bukti dari hukuman berat yang dijatuhkan kepada kelompok-kelompok Yahudi Ma­dinah. Sampai dengan meninggalnya pada 632 (11 H) Nabi telah mengubah Madinah yang cerai berai menjadi kesatuan yang di­segani.

Advertisement

Sepeninggal Nabi, Madinah tetap mam­pu mempertahankan posisinya yang pen­ting. Madinah bertahan sebagai ibukota sebuah tatanan politik (khilafah) yang se­makin meluas kurang lebih selama 25 tahun. Kendati wafatnya Nabi menimbul­kan perselisihan mengenai “pengganti”- nya (khalifah), tokoh-tokoh Muhajirun berhasil meyakinkan pihak-pihak lain bahwa Abu Bakarlah yang semestinya tampil.
Ketiga penggantinya secara berurutan juga tinggal di Madinah, kecuali Ali yang dipaksa perkembangan situasi untuk meninggalkan Madinah pada 656 (35 H). Semenjak itu peranan Madinah dalam bidang politik dan administratif menjadi surut ; namun is tetap bertahan sebagai pu­sat keagamaan dan keilmuan.

Simbol-simbol keagamaan yang dimiliki Madinah menjadikannya pusat beribadat dan juga berkumpulnya para cendikia­wan. Sebagai Tanah Suci lengkap dengan mesjid yang dibangun Nabi, Madinah me­narik bagi orang-orang yang ingin tekun beribadat. Hal ini lebih dimungkinkan ber­kat kesuburan dan kedamaian yang dimili­kinya. Memang Madinah menjadi tempat pilihan bagi para sahabat guna menikmati hari tua mereka. Karenanya tak menghe­rankan jika Madinah mampu menarik minat para pencaii ilmu, bahkan sampai dengan periode modern, Di camping itu, keberadaan para tokoh dan cendekiawan yang tidak melibatkan diri secara langsung dalam percaturan politik justru sering di­manfaatkan para politikus untuk meme­nangkan simpati umat berdasarkan hu­bungan mereka dengan orang-orang Madi­nah tersebut. Kecenderungan semacam ini dapat ditemukan dalam gerakan-gerakan yang dipimpin Ibnu Zubair (681-692/62 —73 H), Abu Hamzah (747-748/129— 130 H), dan Muhammad al-Nafs az-Zaki­yah (762/145 H).

Sampai dewasa ini Madinah torus men­dapatkan kunjungan ratusan ribu penzia­rah dari seluruh pelosok dunia Islam se­tiap tahunnya, terutama untuk bersem­bahyang di Mesjid Nabawi. Juga didirikan­nya sebuah universitas di kota tersebut berhasil mengumpulkan pencari ilmu dari berbagai negara.

 

Advertisement