Advertisement

Luh Mahfuz (laulj matzfaz) berarti papan yang terjaga. Ungkapan ini hanya se­kali raja dapat dijumpai dalam al-Quran (82:22). Ayat ini dan ayat sebelumnya menyatakan bahwa al-Quran yang mulia itu berada dalam papan yang terjaga.

Kebanyakan ulama cenderung mema­hami bahwa Luh Mahfuz itu sesuatu yang berada di alam gaib; padanya terdapat se­genap rancangan atau ketentuan-ketentu­an Tuhan bagi segenap ciptaan-Nya, ter­ masuk semua ayat-ayat al-Quran. Tentang hakikat Luh Mahfuz yang berada di alam gaib itu, sebagian ulama cenderung untuk menyatakan bahwa manusia tidak dapat mengetahuinya dan menyarankan agar orang tidak usah mempersoalkannya. Di kalangan sufi, ada juga tokoh, seperti Abdul Karim al-Jili, yang menetapkan bahwa Luh Mahfuz itu adalah Jiwa Uni­versal, yang merupakan ciptaan Tuhan setelah ciptaan-Nya yang pertama, Akal Pertama. Baginya Akal Pertama mengacu kepada Qalam (pena) Tuhan, sedang Jiwa Universal tidak lain dari Luh Mahfuz. Pada Luh Mahfuz itulah terukir segenap perincian tentang apa yang telah dan akan terjadi, termasuk tentang ayat-ayat kitab suci al-Quran. Luh Mahfuz itu tidak bersi­fat jasmani (materi), tapi tidak lain dari wujud nurani yang bersifat Ilahi.

Advertisement

Di samping itu, ada pula ulama yang berkecenderungan lain dalam memahami ungkapan Luh Mahfuz. Bagi mereka, is itu bukan kesadaran Tuhan, bukan Akal Pertama, bukan Akal Universal, dan bu­kan wujud gaib lainnya. Luh Mahfuz, ken­dati secara harfi berarti papan yang terja­ga, maksudnya tidak lath dari keadaan atau keberadaan yang terjaga. Ungkapan bahwa al-Quran yang mulia berada dalam Luh Mahfuz, dipahami dengan pengertian bahwa kitab suci umat Islam itu berada dalam keadaan terjaga baik, seperti yang dijanjikan juga oleh Tuhan dalam al-Qur­an (15:9: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan aiZikr maksudnya: al­Quran dan sesungguhnya Kami benar­benar menjaganya). Janji ini telah terbuk­ti benar melalui aktivitas Nabi. Muhammad bersama kaum muslimin (dari generasi de­mi generasi), berupa menghafal, mencatat, dan membukukan segera kitab suci terse-but. Sejarah kitab-kitab suci membukti­kan bahwa keterjagaan al-Quran dari per­ubahan, penyisipan, dan lain sebagainya, sangat unik sehingga tidak mungkin ter­tandingi oleh kitab suci mana pun. Karena berada dalam keadaan teijaga baik, maka al-Quran yang dapat dijumpai sekarang di tangan umat Islam, persis sama dengan al­Quran yang diajarkan pertama kali oleh Nabi Muhammad 14 abad yang lalu.

 

Advertisement