Advertisement

Lignifikasi, Dinding-dinding tebal mencolok dari sel-sel yang memberi kekuatan mekanis biasanya penuh berisi lignin (zat kayu). Zat ini adalah suatu polimer kompleks terdiri atas unit-unit fenilpropanoida yang tampaknya dirangkai bersama dalam berbagai cara ‘membentuk molekul-molekul tiga dimensi yang kompleks dan bercabang banyak dengan komposisi bervariasi. Pengumpulan lignin dalam sebuah sel bermula di dalam lamela tengah lalu tersebar melalui dinding-dinding sel primer dan sekunder. Modifikasi struktur dinding sel ini hampir selalu berakibat kematian menyeluruh bagi protoplas di dalamnya. Lignifikasi tidak terlalu mengganggu permeabilitas dinding sel terhadap air dan bahan-bahan terlarut, tetapi mengubah sifat fisik dan kimiawi dinding sel. Dinding sel yang terlignifikasi menjadi lebih keras dan lebih tahan terhadap tekanan daripada dinding sel berselulosa. J adi lignifikasi dapat dibandingkan dengan prinsip beton bertulang pada gedung-gedung; selulosa memberi semacam batang yang tahan tegangan tinggi dan lignin merupakan bahan yang tahan tekanan. Sifat-sifat kayu sebagian besar disebabkan oleh tingginya kandungan sel-sel yang terlignifikasi di dalam kayu tadi. Dinding sel yang terlignifikasi dapat dibedakan dari selulosa secara kimiawi dengan pewarnaan sebagai berikut: (1) larutan Schultze menimbulkan warna biru pada dinding selulosa tetapi kuning pada dinding sel berkayu; (2) suatu larutan beralkohol dari floroglusinol diikuti oleh beberapa tetes asam klorida kuat menimbulkan warna merah cerah pada dinding sel berkayu; (3) suatu larutan garam anilin (biasanya klorida atau sulfat) memberi warna kuning pada dinding sel berkayu.

Suatu uji lignin harus selalu dilakukan ketika memeriksa iaringan tumbuhan untuk menentukan macam sel yang dijumpai. Tetapi harus diingat bahwa sel berkayu pada saat dewasa sangat mungkin tidak memberi reaksi positif terhadap pewarnaan lignin pada tahap perkembangan dini.

Advertisement

 

Advertisement