Advertisement

Li`an (Lan) adalah kata Benda (mas­dar) dari kata kerja Lifana — yulDnu — lanan, atau jamak dan kata “al-la`nat.” Kata Wein terainbil dari kata “al-len (masdar dari — yal’anu — la`nan), yang secara harfiah berarti jauh (al-ib`c7d), laknat atau kutukan dan siksaan. Adapun yang dimaksud dengan Wan -dalam istilah fikih (hukum Islam) ialah kesaksian atau sumpah yang diucapkan seorang suami yang menuduh istrinya berbuat zina.

Menurut al-Quran (surat an-Nur: 6-9), suami yang menuduh istrinya berbuat zina tanpa menghadirkan empat orang saksi (lihat al-Quran surat an-Nur: 4), diwajib­kan menyampaikan kesaksian atau sum­pah guna membuktikan kebenaran tuduh­annya. Kesaksian atau sumpah yang demi­kian dalam istilah fikih disebut Wan, se­dangkan pelakunya dijuluki mu ia7n. Suami istri yang melakukan Wan biasa di­sebut dengan istilah mutalitinc7n, maksud­nya suami istri yang saling menyatakan Wan.

Advertisement

Dinamai Wan karena pada kesaksian atau sumpah yang kelima dari Wan itu orang yang melakukan Wan menyatakan siap menerima laknat atau kutukan dari Tuhan jika kesaksian atau sumpahnya ter­nyata tidak benar alias dusta. Atau dina­mai Wan karena mulein yang ternyata berdusta berarti jauh dari rahmat Allah, jauh dari kebenaran dan atau karena Wan menjauhkan antara suami dengan istri (berpisah). Suami istri yang melakukan Wan, dengan sendirinya tali perkawinan mereka dipandang putus dan tidak dibo­lehkan untuk mengadakan akad nikah kembali.

Li`an wajib dilakukan apabila seorang suami menuduh istrinya berbuat zina, atau karena menolak (tidak mengakui) bayi yang dikandung istrinya sebagai anaknya. Dalam pada itu para ahli fikih (fukaha) berbeda pehdapat tentang ke­harusan Wan bagi suami yang menuduh istrinya berbuat zina, dan dia dapat me­majukan saksi-saksi yang diperlukan. Me­nurut Abu Hanifah, Daud az-Zahiri dan lain-lain, suami tersebut tidak harus me­lakukan Wan; tapi sebagian ahli fikih yang lain, seperti Malik dan asy-Syafil, menya­takan sebaliknya yakni tetap harus juga melakukan Wan.

Para ulama juga berselisih pendapat mengenai status Wan, apakah dia tergo­long ke dalam jenis kesaksian (syanddat) atau termasuk ke dalam bentuk sumpah (yamin). Menurut kebanyakan mereka (jumhur ulama), di antaranya Imam Ma­lik dan Imam Syafi`i, Wan tergolong ke dalam yamin dan tidak kepada syahadat. Sedangkan sebagian yang lain seperti Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya, berpendirian bahwa Wan termasuk ke da­lam syahadat dan tidak tergolong yamin.

Di samping kedua pendapat tersebut masih ada pendapat ketiga yakni pendapat Ibnu Qayyim al-huziah yang menggolong­kan Wan ke dalam yamin dan sekaligus juga sebagai syahadat. Menurut pendapat yang terakhir ini, Wan adalah kesaksian (syahadat) yang dikuatkukuhkan dengan qasam (sumpah) dan dilakukan secara ber­ulang-ulang (lima kali), sedangkan sumpah yang paling berat (yamin mugallazat) ialah sumpah yang dilakukan dengan kata ke­saksian (lafz asy-syahridat) yang disebut­kan berulang kali guna menghilangkan ke­ragu-raguan dan sekaligus menguatkan ke­benaran. Sifat kesaksian dan sumpah yang demikian, keduanya memang termasuk dalam

Para ulama telah sepakat bahwa Wan harus dilakukan di muka hakim atau peng­adilan atau di hadapan pejabat lain yang dibenarkan menurut peraturan perundang­undangan. Adapun cara-cara melakukan Wan dimaksud secara global adalah seba­gai berikut:

Pertama: suami disuruh mengucapkan kalimat yang pada hakikatnya menyata­kan bahwa kesaksian dan atau sumpah yang disampaikannya itu benar dan (tidak berdusta). Pernyataan tersebut dilakukan sebanyak empat kali, dan kemudian di­akhiri dengan pernyataan (kelima): “Lak­nat atau kutukan Allah menimpa diri saya jika tuduhan saya ini ternyata tidak be­nar.”

Kedua: Setelah suami selesai menyam­paikan Wannya, hakim menanyakan kepa­da pihak istri apakah dia menerima atau menolak tuduhan suaminya. Jika si istri menolak (menyangkal) tuduhan suami­nya, dia disuruh menyatakan kesaksian dan atau sumpahnya secara sungguh-sung­guh bahwa tuduhan suaminya itu adalah tuduhan yang tidak benar. Pernyataan ter­sebut disampaikan sebanyak empat kali juga, untuk kemudian ditutup dengan per­saksian dan atau sumpah yang kelima (ter­akhir) yang menyatakan bahwa “Keben­cian Allah akan menimpa dirinya jika tu­duhan suaminya ternyata benar.”

Ketiga: Apabila suami yang menuduh istrinya berbuat zina itu ternyata tidak bersedia melakukan Wan, hakim harus menghukum suami tersebut dengan hu­kuman dera sebanyak 80 kali jika dia orang merdeka, dan 40 kali jika dia se orang hamba-sahaya. Kalau yang meno­lak Wan itu istrinya yang dituduh zina, maka hukumannya berupa hukuman zina (had azzina) yaitu hukum jilid 100 kali atau rajam (lihat Zina). Demikian menu-rut sebagian ulama seperti Malik, asy-Sya­Wit dan lain-lain. Adapun menurut Abu. Hanifah dan beberapa ulama lainnya, suami yang tidak mau melakukan Wan tersebut tidak harus dihukum seperti yang dikemukakan sebagian ulama di atas, akan tetapi ia ditahan (dipenjara) sampai dia bersedia melakukan Wan atau menyatakan bahwa tuduhannya itu dusta belaka dan ia mencabut kembali tuduhannya. Demikian pula jika yang menolak Wan itu istrinya. Ia tidak boleh dihukum dengan hukuman zina, tetapi ia ditahan atau dipenjara sam­pai dia mau melakukan Wan atau membe­narkan tuduhan yang dimajukan suami­nya.

 

Advertisement