Advertisement

Langgar adalah tempat salat, yang ben­tuknya lebih kecil dari mesjid. Biasanya langgar dibangun tidak memakai kubah besar, seperti biasanya•mesjid. Mengenai bentuknya sama dengan mesjid, yakni per­segi empat. Di Sumatra Barat, langgar di­sebut surau; di daerah Pasundan disebut tajug dan dalam bahasa Arab disebut mu­shalla.

Sebenarnya langgar tidak hanya ber­fungsi, sebagai tempat melaksanakan salat semata-mata, tetapi juga kegiatan-kegiatan lain, seperti mengaji, belajar agama dan lain-lain yang bernafaskan ajaran agama Islam. Pada zaman penjajahan, pusat-pusat penggemblengan ajaran Islam, di samping pesantren, pondok, madrasah yang ada di sekitar mesjid agung, juga langgar-langgar yang terpencil di hutan-hutan dan dusun­dusun.

Advertisement

Langgar, di samping tempat-tempat yang lain tersebut merupakan pusat tern-pat melatih manusia-‘manusia anti kolonial, anti imperialis, anti feodalis dan anti ke­laliman. Di sana dididik manusia-manusia merdeka dan warga negara yang radar, yang mengabdi kepada Tuhannya. Ten-tang kapan mulai adanya langgar-langgar di daerah-daerah yang memakai nama itu, tidak ada kata sepakat di antara para ahli sejarah di Indonesia. Yang jelas, tempat­tempat yang disebut langgar, sampai seka­rang masih terdapat di mana-mana.

 

Advertisement