Advertisement

Lailatulkadar yang lazim juga diung­kapkan dengan Malam Kadar, berarti ma-lam kemuliaan, malam yang mulia, malam keagungan, atau malam yang agung. Ung­kapan Lailatulkadar itu mengacu kepada suatu malam di bulan Ramadan, yang pa­da malam itu terjadi suatu pengalaman rohaniah yang istimewa dan agung, baik pada Nabi Muhammad ataupun pada din umatnya yang tekun beribadat di bulan puasa itu. Menjumpai Lailatulkadar ber­arti memperoleh suatu pengalaman roha­niah yang tinggi, dan berarti pula bahwa orang yang memperoleh pengalaman itu telah memiliki tingkat kesucian rohani yang tinggi.

Malam, yang pada malam itu Nabi Mu­hammad untuk pertama kalinya meneri­ma ayat-ayat al-Quran, telah dinyatakan di dalam al-Quran sendiri sebagai Lailat al­Qadr. Dikatakan begini: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kadar; dan tahukah kamu apakah malam kadar itu? Malam kadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ar-Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan untuk meng­atur segala urusan. Sejahtera malam itu sampai terbit fajar.” (97:1-5)

Advertisement

Malam pertama kali Nabi Muhammad menerima ayat-ayat al-Quran itu, juga di­nyatakan di dalam al-Quran sebagai Lailat Mubtirakat, yakni Malam yang Diberkahi. “Demi Kitab (al-Quran) yang menjelas­kan! Sesungguhnya Kami telah menurun­kannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang membe­ ri peringatan.” (44:2,3) Berdasarkan in­formasi al-Quran juga bahwa kitab suci itu diturunkan pada bulan Ramadan (2:185), pada hari bertemunya dua pasukan (8:41), para ulama menyatakan bahwa Lailatul­kadar yang dijumpai Nabi Muhammad un­tuk pertama kali adalah malam 17 Rama­dan 620 (13 SH), yang kemudian dikenal juga dengan sebutan malam Nuzfil al-Qur’an (turunnya al-Quran).

Bahwa Lailatulkadar itu lebih baik dari seribu bulan, seperti dinyatakan dalam al­Quran dan juga dalam Hadis Nabi, dapat­lah dipahami antara lain dengan penger­tian bahwa pengalaman rohaniah yang di­alami pada malam itu amat tinggi sekali nilai atau derajatnya, tiada taranya untuk dibandingkan dengan pengalam an-penga­laman rohaniah biasa. Nabi Muhammad, kendati hidup dalam kesucian jiwa dan di­kenal dengan gelar al-Amin, yang amat di­percaya, tetap solo berada dalam keadaan tidak tahu apa itu kitab suci dan apa itu iman (lihat al-Quran 42:52), serta berada dalam keadaan bingung (93:7), tapi peng­alaman rohaniah yang diperolehnya dalam bentuk “menerima wahyu” untuk perta­ma kalinya, telah meningkatkan statusnya dari calon nabi dan rasul menjadi nabi dan rasul Tuhan secara aktual; dengan pengala­man rohaniah demikian, is berobah dari keberadaan yang bingung kepada keber­adaan yang disinari terang benderang oleh sinar wahyu, demi memimpin umat manu­sia ke jalan yang membahagiakan mereka di dunia dan akhirat.

Pengalaman berjumpa dengan Lailatulkadar bukanlah pengalaman khusus untuk Nabi Muhammad, tapi juga dapat dialami oleh para pengikutnya, kendati pengala­man rohaniah yang dapat dialami oleh me­reka tidak setinggi yang dialami olehnya. Perintah agar berpuasa, lebih banyak ber­amal baik, beribadat pada malam hari, membaca dan merenungkan makna-makna yang dikandung al-Quran, dan sebagainya, pada bulan Ramadan, lebih-lebih pada se­puluh hari terakhir bulan itu (ditingkat­kan dengan beritikaf di dalam mesjid), pada satu sisi, dapat dipandang sebagai pe­rintah untuk berjuang sungguh-sungguh meningkatkan kesucian rohaniah. Hanya dengan meningkatkan kesucian rohaniah itu, kemungkinan untuk berjumpa dengan Lailatulkadar, yakni berjumpa dengan pengalaman rohaniah yang tinggi atau is­timewa, menjadi besar. Bila umat Islam Adisuruh untuk mencari Lailatulkadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, maka hal itu mengandung arti bahwa me­reka harus meningkatkan mujiihadah (per­juangan) mereka untuk lebih bertekun dalam ibadat, agar, seperti halnya suatu latihan keras dalam olahraga, “prestasi puncak”, yakni puncak kesucian rohani, dapat dicapai.

Berbahagialah mereka yang, setelah me­lalui latihan keras beribadat di bulan Ra­madan, berhasil mencapai puncak kesu­cian rohani yang berlanjut dengan perjum­paan dengan Lailatulkadar atau penga­laman rohaniah yang istimewa. Bila mere­ka melihat bahwa segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit bersujud ke hadirat Allah, atau melihat alam terang benderang walaupun di tempat yang gelap sekali, atau mendengar salam ‘clan tutur kata para malaikat, maka itu semua merupakan ba­gian dari pengalaman rohaniah Lailatul­kadar, bukan pengalaman mata dan te­linga jasmaniah. Pengalaman rohaniah Lailatulkadar meningkatkan statusnya di sisi Tuhan lebih tinggi dari sebelumnya.

Advertisement