Advertisement

Kriteria Produktivitas, Di dalam linguistik sinkronis lebih baik kita hanya memperhati­kan komposisi dan derivasi yang sifatnya produktif. Memang sering kali sulit untuk menetapkan produktivitas suatu afiks, apakah kita harus menganggap sufiks -cete jika seorang anak, yang bertitik tolak dari michant, mechancete ‘nakal, kenakalan’, membentuk cochonce­te (seharusnya conchonnerie ‘kekonyolan’) dari cochon ‘babi’. Apakah kita dapat menemukan kata baru yang dibentuk dengan sufiks -aison? Yang harus dihindari adalah melakukan analisis yang melampaui batasan makna: terasa lucu jika kita melihat di dalam avalanche ‘sal – ju longsor’ sebuah kata turunan dari avaler ‘menelan’ karena hanya para ahli etimologi yang dapat menangkap analogi semantis di antara kedua kata itu. Tidak benar pula jika kita menyebut -cevoir sebagai monem setelah memisahkannya dari recevoir ‘menerima’, percevoir ‘menangkap’, clecevoir ‘mengecewakan’ karena penutur biasa hanya melihat kata-kata itu sebagai persamaan bentuk, padahal untuk membentuk sebuah monem diperlukan sebuah penanda dan sebuah petanda.

Sering kali di antara kedua unsur yang membentuk kata maje­muk, satu kehilangan otonominya dan hanya ada dalam bahasa itu di dalam kata majemuk tadi. Itulah yang terjadi, misalnya dengan -tin, dalam laurier-tin ‘nama bunga’. Dalam hal ini, kita tidak dapat me­nyebutnya afiks karena sebuah afiks merupakan alat derivasi dan de­rivasi merupakan proses produktif yang membentuk sintem.

Advertisement

Advertisement