Advertisement

KLASIFIKASI DAN PENAMAAN TUMBUHAN, Tumbuhan begitu banyak dan beraneka ragam dalam bentuk dan strukturnya, sehingga untuk mempelajarinya sebagai kelompok organisme, bukan sebagai individu, perlu diklasifikasikan lebih dulu. Jika sekelompok tumbuhan ditelaah dengan cermat, akan segera tampak bahwa di antara tumbuhan tersebut terdapat berbagai tingkat kesamaan. Beberapa tampak .sangat mirip satu sama lain sehingga sukar dibedakan, sedangkan yang lain jelas sangat berbeda. Fakta ini membawa kita secara logis pada usaha untuk menyusunnya dalam berbagai kelompok. Anggota suatu kelompok akan lebih mirip satu sama lain daripada dengan anggota kelompok lain. Kesukaran yang dihadapi adalah pemilahan kelompokkelompok tersebut menurut kriteria yang mendasar, bukan kriteria yang dangkal. Tetapi pada kenyataannya, bila semua struktur kehidupan berbagai macam tumbuhan dibandingkan, hanya terdapat sekitar sepuluh pola pokok organisasi yang mendasari keanekaragaman tersebut. J adi rumput, palem, semangka, dan kaktus, meskipun tampaknya sangat berbeda, semuanya mempunyai akar dan batang yang khas atau yang telah mengalami modifikasi, sebuah tipe daun (makrofil) yang telah berkembang melalui cara khusus, dan semuanya berkembang biak dengan biji. Dalam kesamaan ciri-ciri dasar organisasi dan reproduksi ini, setiap ciri merupakan modifikasi pola umum. Bersama-sama dengan pohon berbiji telanjang, paku-pakuan, paku rambut, dan beberapa macam tumbuhan lain dapat dikelompokkan dalam satu dari sepuluh divisi besar dunia tumbuhan, Tracheophyta. Dalam divisi ini tercakup semua tumbuhan yang mempunyai jaringan pembuluh yang disebut ;diem, yang digunakan untuk mengangkut air dan berbagai larutan. Demikian pula lumut dan lumut hati, yang mempunyai ciri-ciri dasar sama, dikelompokkan dalam sebuah divisi lain, yaitu Bryophyta.

Dengan cara yang sama dengan pembagian dunia tumbuhan menjadi berbagai divisi, setiap divisi dapat dipecah lagi menjadi kelompok-kelompok lebih kecil. Rumput, palem, semangka, dan kaktus dikelompokkan dalam kelas Angiosperma. Kelas ini karena jumlahnya besar (sekitar 250 000 macam tumbuhan) dipecah lagi menjadi dua anak kelas. Rumput dan palem mempunyai hanya satu daun lembaga atau kotiledon dalam bijinya. Ciri ini dipakai untuk membedakan anggota anak kelas Monokotil dengan anak kelas lain, Dikotil, yang anggota-anggotanya mempunyai dua helai daun lembaga seperti pada semangka dan kaktus. Kelas dibagi lagi menjadi bangsa (rumput dan pelem termasuk dalam bangsa yang berbeda, demikian pula semangka dan kaktus), bangsa menjadi suku, suku menjadi marga, dan akhirnya marga menjadi jenis. Dalam penggunaan praktis, jenis merupakan satuan klasifikasi terkecil. Meskipun konsep jenis ini penting, sangatlah sukar untuk membuat definisi mengenai jenis. Tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa suatu jenis terdiri atas sekelompok individu yang dapat saling kawin, dan satu dengan yang lain sangat mirip sehingga secara praktis dapat dianggap sebagai sesuatu yang sama. Penerapan sistem klasifikasi ini pada satu jenis, yaitu blewah atau semangka belanda (bukan semangka biasa.

Advertisement

Cara baku penamaan tumbuhan untuk maksud pengacuan sehingga para botaniwan dapat menunjukkan dengan tepat tumbuhan yang dimaksud. Nama-nama daerah berubah-ubah dari satu bahasa ke bahasa lain dan bahkan dari satu tempat ke tempat lain dalam suatu negara, sehingga tidak berinanfaat untuk maksud klasifikasi. Yam adalah contoh nama daerah yang memiliki banyak arti. Dalam pengertian sempit yam adalah tumbuhan bermanfaat yang mempunyai nilai komersial termasuk dalam marga Dioscorea, atau umbi berbagai jenis tumbuhan tersebut. Tetapi di Amerika Serikat yam umumnya berarti ketela rambat (Ipomoea batatas). Yam sering pula dikacaukan dengan talas-talasan yang dapat dimakan, seperti jenis-jenis dari marga Colocasia, Alocasia, dan Xanthosoma, yang lebih tepat disebut cocoyam, taro, dasheen, eddo, tanis, atau yautia. Sebenarnya hampir semua akar, umbi, dan rimpang berpati yang dapat dimakan dan yang tumbuh di daerah tropik kadang-kadang juga disebut yam. Untuk maksud ilmiah, setiap jenis tumbuhan, baik yang masih hidup maupun yang sudah menjadi fosil diberi nama yang terdiri atas dua kata, yaitu nama ganda atau binomial, ditulis dalam bahasa Latin. Yang pertama menunjukkan marganya, dan semua nama marga huruf awalnya ditulis dengan huruf besar. Nama yang kedua adalah penunjuk jenis atau specific epithet, untuk membedakan nama suatu jenis dari yang lain. Penunjuk jenis harus ditulis dengan huruf kecil misalnya Bunchosia swartziana. Dahulu huruf awalnya ditulis dengan huruf besar bila penunjuk jenis itu diambil dari nama orang (biasanya penemu tumbuhan tersebut), misalnya Bunchosia Swartziana, yang diambil dari nama Swartz. Oleh karena ada kalanya jenis yang sama diberi nama-nama berbeda (sinonim) oleh botaniwan lain, dan kadang-kadang pula (meskipun jarang) nama yang sama (homonim) diberikan kepada jenis-jenis berbeda, maka nama binomial diikuti dengan nama seorang atau beberapa orang yang memberi atau menerbitkan nama tersebut. Tata cara ini memberikan titik acuan tertentu bagi sebuah nama, sebab pertelaan asli yang biasanya dilengkapi dengan spesimen tumbuhan yang dikeringkan, selalu tersedia untuk ditelaah. Semangka belanda dan mentimun termasuk dalam marga Cucumis, tetapi nama jenis semangka belanda adalah Cucumis melo L., dan mentimun Cucumis sativus L. sedangkan L. adalah singkatan dari Linnaeus. Demikian pula kutipan lengkap untuk labu siam atau Sechium edule (Jacq.) Swartz., tetapi di sini nama Jacq. (singkatan dari Jacquin) diletakkan dalam kurung, yang berarti bahwa Jacquin semula menempatkan labu siam dalam marga Sicyos tetapi kemudian dianggap lebih sesuai dimasukkan ke dalam marga Sechium, diberi nama binomial baru, dan dipublikasikan oleh Swartz. Alasan Swartz untuk mengubah nama dapat diterima, dan dengan demikian nama Sechium edule menjadi nama yang benar. Dalam penggantian posisi taksonomi seperti itu, nama pengarang semula dikutip di antara tanda kurung dalam penulisan nama binomial yang baru. Dalam prakteknya penambahan nama pengarang biasanya tidak perlu dalam penulisan nama tumbuhan, kecuali bila diperkirakan ada kemenduaan, atau bila ketepatan mutlak diperlukan seperti dalam majalah ilmiah internasional.

Advertisement