Advertisement

INTERAKSI HORMONAL, Penemuan bahwa auksin terlibat dalam pengaturan kegiatan pertumbuhan antara pertumbuhan pemanjangan koleoptil dan pembentukan buah setelah penyerbukan, yang kedua-duanya -auh terpisah oleh waktu dan ruang, pada suatu waktu telah menimbulkan suatu gagasan bahwa IAA merupakan ‘hormon nduk’ dalam tumbuhan. Kepekaan yang berbeda-beda dari -aringan sasaran menimbulkan berbagai reaksi yang berlainan. Penelitian yang didasarkan konsep tindakan auksin ini menimbulkan kekacauan dan bukan kejelasan penafsiran ienomena pertumbuhan sehingga konsep ini akhirnya ditinggalkan ketika penelitian mengenai kultur jaringan tumbuhan menampilkan dua keadaan yang tidak serasi dengan asumsi dasarnya. Ketidakserasian yang pertama ialah bahwa penggunaan auksin pada berbagai konsentrasi dapat mem-bangkitkan reaksi yang sangat berlainan pada jaringan yang sama dalam kultur. Kedua ialah bahwa kelanjutan pertumbuhan jaringan memerlukan kehadiran suatu gugus faktor-faktor pertumbuhan, yang pada waktu itu sebagian besar belum diketahui, tetapi terdapat dalam sumber alami seperti endosperma hara pada kelapa. Dari penelitian ini muncullah konsep mutakhir tentang pengendalian hormon sebagai hasil keseimbangan yang rapuh dari sekurang-kurangnya lima tipe utama hormon, yang saling berinteraksi secara kompleks dalam hubungan antagonisme dan sinergisme. Suatu antagonisme ialah interaksi antara dua zat yang bekerja pada sebuah sistem sedemikian rupa sehingga yang satu menghambat sebagian atau seluruh efek zat yang lain. Sebaliknya, suatu sinergisme ialah interaksi antara dua zat atau lebih yang memiliki efek yang sama dalam suatu sistem tertentu untuk menghasilkan suatu efek yang lebih besar daripada jumlah efek kedua zat itu jika bertindak sendiri-sendiri. Hubungan ini dapat di kan dengan contoh berikut. Telah lama diketahui bahwa kambium sebatang pohon, atau pada hal tertentu kambium tumbuhan daerah beriklim sedang, paling aktif ketika kuncup membuka dan pucuk memanjang. Pembelahan sel kambium bermula dekat kuncup pada masing-masing pucuk, lalu menyebar menjauhinya. Kuncup ujung merangsang kambium untuk membelah diri secara cepat melalui tindakan dua kelompok hormon, yaitu auksin dan giberelin. Penggunaan salah satu hormon saja merangsang kegiatan kambium, akan tetapi efek kedua hormon ini bersama-sama jauh lebih besar daripada jumlah reaksi keduanya secara sendiri-sendiri. Susunan jaringan pembuluh yang dihasilkan oleh kambium juga bergantung pada perlakuan hormon. Dengan IAA saja dihasilkan xilem yang berdiferensiasi penuh, dengan GA3 saja hasil kambium pada sisi xilem tidak berdiferensiasi menjadi xilem dewasa. Dengan berbagai kombinasi kedua hormon diperoleh berbagai tingkatan diferensiasi, dan basil maksimum diferensiasi penuh xilem terjadi pada nisbah GA3/IAA sebesar 100/500 ppm. Pada sisi floem tidak terjadi diferensiasi dengan pemakaian IAA saja, tetapi GA3 saja sangat mendorong diferensiasi. IAA dalam konsentrasi rendah meningkatkan efek rangsangan GA3, tetapi pada konsentrasi lebih tinggi menjadikan antagonistik. Produksi floem maksimum terjadi pada nisbah GA3/IAA sebesar 500/100 ppm, yang merupakan kebalikan nisbah yang mendorong produksi xilem. Dari penemuan semacam inilah, lambat-laun akan diperoleh pengertian mengenai kegiatan yang terjadi secara normal dalam tumbuhan.

Advertisement
Advertisement