Advertisement

Faring, Bagian saluran pernapasan yang terletak sejajar dengan jakun disebut “laring”. Sedikit di atasnya, pipa pernapasan berakhir pada sebuah rongga, yaitu faring, yang dapat juga disebut mulut bagian belakang. Apabila kita melihat bagian dalam mulut di cermin, maka terlihat rongga belakang faring yang terletak pada bagian belakang sekali. Langit-langit, yang membentuk lengkung mulut, berakhir ke arah faring dengan kerutan kulit lembut yang disebut langit-langit lembut, yang membentuk dua buah busur terpisah di tengah-tengah ruang mulut, berkat adanya lidah kecil yang disebut anak tekak (dalam bahasa Latin uvula, yang menurunkan adjektiva “uvular” untuk menyebut produk bunyi yang dihasilkan oleh gerakan anak tekak). Faring berhubungan dengan rongga hidung selama langit-la­ngit lembut tidak menempel ke rongga belakang. Sedangkan bagian bawah dan belakang faring merupakan awal tenggorokan. Faring dapat dibandingkan dengan lintasan kereta api. Jalan tempat lalu lintas• kendaraan selama pintu lintasan tidak ditutup, dapat diban­dingkan dengan saluran pernapasan yang berawal dari rongga hidung, lalu dilanjutkan dengan faring oleh pipa pernapasan menuju paru-paru; sedangkan rel kereta api dapat dibandingkan dengan jalan makanan yang berawal di mulut dan diteruskan ke sebelah be­lakang faring oleh pangkal tenggorokan menuju lambung. Gumpalan makanan yang didorong oleh lidah ke arah belakang dan bawah da­pat dibandingkan dengan kereta api yang hanya lewat apabila pintu lintasan yang menghentikan lalu lintas di jalan ditutup, maksudnya di sini adalah lewatnya udara. Pintu lintasan itu dapat dibandingkan dengan langit-langit lembut yang dapat dinaikkan seperti yang telah dijelaskan di atas, dan epiglotis yang menutup kembali lubang pipa pernapasan serta menahan butir -butir makanan agar tidak tersesat ke laring. Epiglotis dan pangkal tenggorokan kelihatan hampir tidak berperan di dalam wicara. Pada saat orang berbicara, langit-langit lembut berada pada posisi terangkat atau diturunkan. Jika langit­langit lembut diturunkan, maka sebagian udara dihembuskan mele­wati rongga hidung dan mengalir ke luar tanpa mendapat hambatan. Udara itu tidak dapat lagi digunakan oleh mulut, yang merupakan tempat sebagian besar bunyi untuk mendapatkan ciri khasnya. Jadi, berbagai bunyi terbedakan dengan lebih baik jika saluran udara se­luruhnya tiba di mulut, artinya jika langit-langit lembut dalam ke­adaan terangkat. Oleh karenanya, dalam wicara posisi langit-langit lembut yang demikian jelas lebih sering terjadi daripada posisi yang memungkinkan mengalirnya udara dari faring ke rongga hidung.

Advertisement
Advertisement