Advertisement

Dorsal Postpalatal, Velar, dan .Uvular, Konsonan dorsal yang diartikulasikan ke arah titik tertinggi dalam rongga mulut tidak lagi ditangkap sebagai konsonan “lemah”. Konsonan ini dapat menjadi kurang lebih konsonan depan atau bela­kang sesuai dengan vokal yang menyertainya (lebih ke depan dalam kira, lebih ke belakang dalam kura). Namun, perbedaan itu tidak penting, jika kita dapat membedakan antara oklusif bersuara, [k] , oklusif bersuara [g] dan konsonan sengau [u].

Apabila pendekatan punggung lidah ke langit-langit tidak menghasilkan penutupan yang sempurna, akan didapatkan bunyi malar yang dilambangkan dengan [X] jika tak bersuara, dan [y] jika bersuara. Konsonan malar dorsal tengah ini adalah bunyi yang tidak cukup stabil. Nampaknya sulit untuk mengangkat seluruh lidah ke atas, kecuali jika dapat menemukan penunjang di langit-langit, se­perti pada artikulasi oklusif. Konsonan itu sering tertangkap sebagai [X] seperti yang telah kami sebutkan di atas (2.25) sebagai [cp]: begitu pelafalan agak mengendur, apa yang terdengar bukan lagi disebab­kan oleh udara yang mengalir di punggung lidah, tetapi oleh udara yang lewat melalui glotis, sehingga [X] menjadi apa yang disebut aspirat yang dilambangkan dengan [h]. Inilah yang sering terjadi di dalam bahasa Spanyol di mana “jota” dalam kata paja diartikulasi­kan di tempat yang sama dengan g dalam paga. Yang satu sebagai [X] dan yang lain sebagai [y]. Di sini, seperti pada labial, konsonan ber­suara [y] lebih terdengar daripada yang tak bersuara karena vokal yang menyertainya, sehingga suara itu lebih mencolok. Tidak jarang terjadi bahwa konsonan tak bersuara [X] “berat” ke depan atau ke belakang, artinya diartikulasikan dengan bagian pung­gung lidah yang secara lebih wajar bersentuhan dengan langit-langit. Jika konsonan berat ke depan, hasilnya adalah ] seperti kasus bahasa Jerman ich. Jika ia berat ke belakang, diperoleh sebuah fri­katif kuat yang dilambangkan dengan [x], yang diartikulasikan pada pangkal langit-langit lunak di sekitar anak tekak. Itulah yang terjadi dalam kasus ch bahasa Jerman Buch, ach. Juga kasus “jota” dalam adat bahasa Casrila di mana paja dilafalkan [paxa] dan bukan [paXa]. Dalam adat bahasa itu, konsonan tak bersuara dapat mem­bawa konsonan bersuara untuk mundur sehingga paga menjadi [pau a] yang mengandung frikatif bersuara yang dilambangkan dengan ] sama dengan konsonan r bahasa Perancis dalam kata Paris, yang sering disebut sebagai grasseye yang dipertahankan dengan pelafalan vibran apikal yang disebut roulg.e, frikatif dorso­uvular tak bersuara dan bersuara merupakan realisasi yang acap ter­jadi dari apa yang disebut r kuat dalam kata Portugis di Lisabon atau di Rio de Janeiro.

Advertisement

Bukannya tidak mungkin untuk menghasilkan oklusif dorsal di pangkal langit-langit ke arah anak tekak. Yang tak bersuara, satu­satunya yang sering dihasilkan, dilambangkan dengan [q]. Sedang­kan yang bersuara dan yang sengau, yang lebih jarang dihasilkan, dilambangkan dengan [G] dan [N]. Vibran yang dihasilkan dengan bantuan anak tekak dilambangkan dengan [R]. Bukan hal yang aneh jika artikulasi [x] dan [R] mengandung getaran alat ucap itu.

Advertisement