Advertisement

Bentuk, Jaminan bagi Ciri Linguistik, Apabila orang beroperasi di dalam “bahasanya sendiri” bahaya­nya adalah penggunaan mawas diri: mengingat saya penutur bahasa Perancis dan bahwa kata maison ‘rumah’ adalah kata Perancis, maka saya tinggal mencari apa makna kata maison bagi saya, lalu saya me­rumuskan makna katanya. Celakanya, ketika saya mencoba untuk melihat kata yang mengingatkan sesuatu pada saya, suatu gambaran yang kurang lebih beraneka ragam muncul dan saya yakin bahwa be­berapa ciri dari gambaran yang saya peroleh bukanlah ciri yang akan dilihat oleh orang lain. Jadi, jelas bahwa gambaran tadi, yang ber­variasi setiap saat pada diri saya, tidak dapat dianggap sebagai “makna” kata maison yang begitu lazim bagi penutur bahasa Peran­cis. Satu-satunya yang saya ketahui dari makna kata maison adalah bahwa suatu tipe pengalaman tertentu pada diri saya diasosiasikan dengan penanda /mezb/ atau dengan penanda grafisnya maison, dan bahwa asosiasi yang sama ada pada diri para penutur bahasa Peran­cis. Buktinya saya temukan di dalam perilaku mereka, termasuk di dalamnya perilaku bahasa di mana kata maison hadir tepat sama di dalam konteks yang saya sendiri pun akan meletakkannya pada kata yang sama. Perlu dicatat bahwa pandangan ke sebuah rumah tidak secara otomatis memicu proses bahasa yang berasosiasi dengannya, dan demikian pula halnya penggunaan kata maison tidak selalu men­jolok pengalaman yang pernah dialami. Bahkan nampaknya lebih mungkin bahwa semua itu tidak pernah terjadi, dan bahwa pada umumnya suatu ujaran tidak disertai oleh sederet kenangan atau ke­sadaran yang berkaitan dengan setiap satuan bermakna yang ber­urutan tadi. Hal itu tidak terbandingkan dengan kecepatan wacana. Bukan ahli linguistik yang harus mengatakan masalah itu. Ia akan puas dengan mengatakan bahwa yang diakui sebagai bagian dari ba­hasa hanyalah segala sesuatu yang lazim bagi sejumlah penutur. Hal itu sesuai dengan akal sehat dan mawas diri sebagai metode peng­amatan karena metode itu selalu hanya mencapai satu orang yang se­benarnya sebagai pengamat dan sekaligus objek yang diamati berada di dalam kondisi yang paling tidak menguntungkan untuk melakukan penelitian separuh-separuh. Yang secara menyeluruh bersifat lazim bagi sejumlah penutur dan langsung teramati adalah reaksi bahasa dan nonbahasa pada amanat fonis yang membentuk komunikasi. Jadi, hanya yang terlibat secara bentuk di dalam amanat fonislah yang memiliki “makna” di dalam linguistik. Setiap perbedaan maknaselalu berkaitan dengan perbedaan bentuk di suatu tempat di dalam amanat. Kami mungkin dibantah karena adanya kasus homonimi, te­tapi sebuah segmen seperti bisa /bisa/ sebenarnya tidak bermakna apa pun di luar berbagai bentuk konteks (Dukun itu tidak bisa me­ngeluarkan bisa ular dari kakinya), yang memberi valensinya, sebagai semacam perilaku, atau sebagai benda beracun.

Hal itu berakibat yang sama sekali tidak boleh dilalaikan. Di satu pihak sebuah unsur bahasa baru benar-benar memiliki makna apabila berada dalam konteks dan situasi tertentu. Secara mandiri, monem atau tanda yang lebih sengkarut hanya mengandung poten­sial semantik. Hanya potensial tertentu yang terungkap di dalam per­tuturan tertentu. Kalau kita ambil lagi contoh rumah, kata itu di dalam pertuturan ibu tidak di rumah, ia mewakili ibu rumah tangga, ia dibawa ke rumah sakit, di dalam setiap kasus, konteks menonjolkan potensial tertentu dan membuang yang lain dalam kegelapan. Di lain pihak, tak satu pun dari satuan gramatikal maupun leksikal yang dapat disebut bahasa, jika satuan itu tidak berkaitan dengan per­bedaan fonis yang menjadi cirinya dan membedakannya dengan kate­gori yang bertipe sama. Misalnya, kita tidak dapat berbicara tentang reduplikasi sebagai penanda jamak di dalam suatu bahasa yang tidak memiliki sistem yang membedakan antara bentuk tunggal tanpa re­duplikasi dan bentuk jamak yang dengan reduplikasi, seperti anak yang berbeda dengan anak-anak.

Advertisement

Advertisement