Advertisement

Batas Artikulasi Ganda, Semua bahasa memiliki tipe organisasi seperti yang baru saja di­jelaskan di atas. Namun, hal itu tidak berarti bahwa bahasa tidak menggunakan sarana yang tidak termasuk di dalam artikulasi ganda. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, sering kali ciri interogatif yang terdapat di dalam suatu ujaran hanya ditandai oleh lagu suara me­naik pada kata terakhir. Dengan demikian nampak dengan jelas per­bedaan antara pernyataan ini hari Minggu dan pertanyaan ini hari Minggu? Yang terakhir ini merupakan padanan dari apakah ini hari Minggu? Itu sama saja dengan mengatakan bahwa naiknya suara di dalam hari Minggu? memainkan peran yang sama dengan tanda /apakah/ yang dituliskan apakah. Jadi, dapat dikatakan bahwa leng­kung lagu tadi adalah sebuah tanda, sama dengan apakah dengan petanda “interogasi” dan penanda yang terdengar, yaitu naiknya suara. Namun, penanda apakah termasuk di dalam artikulasi kedua berkat adanya urutan enam fonem /apakah/, dan di dalam artikulasi pertama dalam arti tanda tersebut terdapat di antara urutan monem, sedangkan penanda lengkung lagu tidak. Memang penanda tersebut tidak memiliki tempat tertentu di dalam pertuturan, tetapi dapat di­katakan tertumpuk pada kedua artikulasi, dan tidak mungkin dipilah menjadi urutan fonem. Fakta bahasa yang tidak termasuk di dalam artikulasi berbentuk fonem sering kali disebut “suprasegmental” yang membentuk sebuah bab yang berjudul prosodi, yang berbeda dengan fonematik di mana’satuan-satuan artikulasi kedua dibahas.

Advertisement
Advertisement