Advertisement

Bahaya Terjemahan, Apabila orang berurusan dengan bahasa yang tidak dikenalnya secara baik, orang hanya akan menyadari makna dari satuan ber­maknanya dengan menerjemahkannya ke dalam “bahasanya sendiri”. Bahayanya adalah orang dapat tergoda untuk menafsirkan bahasa yang dideskripsikannya berdasarkan bahasa sasaran. Jika di dalam bahasa yang lain terdapat bentuk yang sama, saya memiliki anak pada satu kasus dan anak-anak pada kasus yang lain, mungkin saya akan membiarkan diri untuk berbicara tentang bentuk tanpa redupli­kasi pada kasus pertama dan pada kasus kedua mengenai reduplikasi. Artinya saya memberi ciri pada bahasa asing berdasarkan bahasa yang saya gunakan untuk mendeskripsikannya. Padahal, kalau bahasa yang satu tidak memiliki bentuk yang selalu sama dengan ben­tuk tunggal dan jamak dalam bahasa Indonesia, maka dengan memberikan ciri reduplikasi padanya merupakan kesalahan yang sama dengan orang Jerman yang berkeras membedakan antara nominatif lelaki dan akusatif lelaki dengan alasan bahwa bahasa Jerman meng­gunakan der Mann untuk sebuah kasus dan untuk kasus lain den Mann. Orang tidak berhak berbicara tentang tunggal dan jamak, apabila bahasa yang ditelaahnya tidak memiliki pemarkah formal yang membedakan bentuk tunggal dan jamak. Jadi, perlu kita sadari akan bahaya yang mungkin terjadi dalam kebutuhan untuk mema­hami bahasa yang lain melalui penerjemahan setiap ujaran ke dalam bahasa kita, artinya mengartikulasi pengalaman asing berdasarkan model yang kita hayati. Sejak awal kita harus memegang prinsip bah­wa di dalam bahasa yang kita telaah pasti kita temukan pembedaan satuan fonologis atau gramatikal yang lazim kita dapati di dalam pengalaman bahasa kita sebelumnya. Sebaliknya, kita harus siap me­nemukan pembedaan yang tidak dapat kita bayangkan yang ter­ungkap secara formal. Kita tidak boleh heran kalau tidak menjumpai pengungkapan kala secara gramatikal, tidak ada pembedaan yang jelas antara bentuk pasif dan aktif, dan ketidakhadiran jenis, atau ke­harusan bagi penutur untuk membedakan antara “kita” yang menca­kup lawan bicara dan “kami” yang tidak mencakupnya, atau antara bentuk-bentuk verbal yang menunjuk kepada sesuatu yang nampak dan bentuk lain yang mengacu pada sesuatu yang tidak berada di da­lam medan pandangan. Pada dasarnya kita tidak boleh beranggapan bahwa bahasa mana pun berfungsi subjek di dalam proposisinya, mengenal adjektiva dan membedakan kata kerja dari kata benda. Singkatnya, karena kita sudah sepakat untuk menyebut “bahasa” apa pun yang berkaitan dengan definisi tertentu (band. 1.14), kita harus waspada agar tidak menyatakan kehadiran sesuatu yang tidak ada di dalam bahasa, baik secara implisit maupun eksplisit di dalam definisi kita.

Jika kita menelaah bahasa di dalam fungsinya sebagai alat komu­nikasi, wajarlah apabila kita menyebut bentuk yang menguraikan pengalaman yang akan disampaikan sebagai artikulasi pertama, dan bentuk penanda dalam fonem yang berurutan sebagai artikulasi ke­dua. Namun, jangan dilupakan bahwa di dalam komunikasi bahasa, kita “mengartikan” sesuatu yang tidak terungkap dengan sesuatu yang terungkap. Jadi, wajarlah jika penyusun deskripsi, yang bekerja dengan meneliti fakta teramati, bertitik tolak dari sesuatu yang ter­ungkap, yaitu penanda yang kemudian meningkat ke sesuatu yang tidak terungkap. Jadi, penanda harus dideskripsi berdasarkan kom­ponen bunyinya, yaitu fonem dan kalau perlu ciri distingtif lainnya. Oleh karena itu, wajar jika deskripsi suatu bahasa dimulai dengan pe­nyajian fonologinya, artinya yang muncul pertama kali sebagai apa yang sudah kami sebut sebagai artikulasi kedua. Jadi, itu adalah syarat dan metode di dalam analisis fonologi yang akan kita telaah pertama-tama.

Advertisement

Advertisement