Advertisement

Bahasa Sebagai Pranata Manusia, Sering kali bahasa disebut sebagai suatu kemampuan manusia. Kami pun menggunakan istilah itu, meskipun tidak dengan makna yang ketat. Mungkin, karena hubungan antara manusia dengan bahasa begitu khas, sulit bagi kita untuk secara bebas menempatkan­nya di dalam tipe fungsi-fungsi yang lebih luas. Yang jelas, bahasa dihasilkan dengan menggunakan alat tubuh tertentu secara wajar, se­perti bernafas atau berjalan, dan dengan demikian menghalalkan adanya paru-paru dan kaki. Singkatnya orang berbicara tentang alat wicara, namun pada umumnya menambahkan bahwa fungsi utama alat itu bukan untuk berbicara; misalnya, mulut digunakan untuk mengunyah makanan, rongga hidung untuk bernafas, dan seterus­nya. Otak kecil yang dianggap sebagai pusat wicara yang karena ke­rusakannya sering kali mengakibatkan afasia, mungkin sekali ada hubungannya dengan cara kerja bahasa. Namun, tak ada bukti bah­wa fungsi utamanya adalah untuk berbahasa.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, orang cenderung me­nempatkan bahasa di antara pranata manusia yang lain, dan cara memandang seperti itu menunjukkan keuntungan yang tak ter­bantah: pranata manusia merupakan hasil kehidupan bermasya­rakat; dan memang bahasa dibentuk terutama untuk berkomunikasi dan merupakan hasil kehidupan bermasyarakat. Pranata manusia mensyaratkan kerja kemampuan yang paling beraneka ragam. Ke­mampuan itu dapat tersebar luas dan bahkan, seperti bahasa yang universal, tidak identik dalam setiap masyarakat: keluarga misalnya, mungkin merupakan ciri semua kelompok manusia, namun di sana­sini penampilannya berbeda. Demikian juga bahasa yang fungsinya identik, berbeda di setiap masyarakat sehingga hanya mungkin ber­fungsi di antara individu di dalam satu kelompok tertentu. Pranata, yang sama sekali bukan bahan dasar melainkan hasil kehidupan ber­masyarakat, tidaklah tetap; pranata dapat berubah di bawah tekanan berbagai kebutuhan dan di bawah pengaruh masyarakat yang lain. Dan kita pun melihat bahwa berbagai sarana bahasa, yaitu bahasa­bahasa, mengalami hal yang sama.

Advertisement

Advertisement