Advertisement

Bahasa dan Wicara, Kode dan Amanat, Ketika dikatakan bahwa sebuah bahasa memiliki 29 fonem, yang dimaksud adalah paling banyak di antara 29 satuan artikulasi kedua, seorang pembicara harus memilih pada setiap ujaran yang diungkap­kannya untuk menghasilkan penanda yang sesuai dengan amanat yang ingin disampaikannya: /b/ dan bukan /p/ atau /t/ atau fonem Indonesia apa pun di awal kata bara, kalau saya ingin mengatakan ini bara bagus. Namun, apabila dikatakan bahwa sebuah ujaran me­ngandung 12 fonem, maksudnya adalah ujaran tersebut menampil­kan 12 kepingan berurutan yang masing-masing terkenali sebagai sebuah fonem tertentu tanpa berarti bahwa ke-12 fonem tersebut ber­beda: ujaran ini bara bagus /ini bara bagus/ mengandung 12 fonem dalam arti bahwa ujaran tersebut menampilkan 12 kepingan berurut­an yang masing-masing terkenali sebagai sebuah fonem tertentu; te­tapi ia menggunakan fonem /i/ dua kali, fonem /b/ dua kali, fonem /a/ tiga kali, sehingga hanya menggunakan 5 fonem yang berbeda. Apa yang dijelaskan di sini mengenai fonem berlaku pula bagi satu­an-satuan bahasa yang lebih sengkarut, hanya bedanya kita tidak mungkin mengatakan berapa banyak kata dan monem yang dimiliki sebuah bahasa. Di dalam ujaran anak itu bukan anak Bu Marto, ter­dapat enam monem berurutan, tetapi hanya lima monem yang ber­beda. Kita harus membedakan dengan cermat antara, di satu pihak, fakta bahasa yang bermacam-macam seperti yang muncul di dalam ujaran, di lain pihak, fakta bahasa yang dianggap sebagai menjadi bagian suatu daftar yang dimiliki orang yang hendak berkomunikasi. Bukanlah tugas ahli linguistik sebagaimana adanya untuk memasti­kan di mana, pada penutur, tersimpannya fakta-fakta bahasa ter­sebut, dan bagaimana prosesnya agar penutur mungkin melakukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan komunikatifnya. Namun, ia perlu menganggap bahwa ada suatu organisasi psiko-fisiologis yang sepanjang masa seorang anak belajar bahasa, atau di kemudian hari, kalau seorang belajar bahasa kedua, telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penutur untuk menganalisis peng­alaman yang hendak disampaikannya sesuai dengan norma bahasa tersebut, dan menyediakan, di setiap ujaran, pilihan yang diperlu­kan. Persiapan itulah yang disebut bahasa. Bahasa itu, pada dasar­nya, hanya menampakkan kehadirannya melalui wicara, atau dapat pula dikatakan melalui tindak pertuturan. Tetapi wicara, tindak per­tuturan bukanlah bahasa. Oposisi yang tradisional antara bahasa dan wicara dapat pula disampaikan dengan istilah kode, dan amanat. Kode adalah organisasi yang memungkinkan orang menyusun ama­nat dan melalui kode pula orang berhadapan dengan setiap unsur suatu amanat untuk menapis maknanya.

Pembedaan tersebut sangat berguna. Antara bahasa dan wicara mungkin membuat orang mengira bahwa wicara memiliki organisasi yang tidak terikat pada organisasi bahasa, sehingga orang mungkin, misalnya, menjajagi pengadaan linguistik wicara di samping linguis­tik bahasa. Namun, kita harus yakin bahwa wicara hanya meng­konkretkan organisasi bahasa. Hanya dengan mengkaji wicara dan perilaku yang ditetapkannya pada para pendengar, kita dapat me­ngenal bahasa. Untuk itu kita harus mengesampingkan apa-apa yang terdapat di dalam wicara yang merupakan unsur non-bahasa, seperti tamber bunyi khas seseorang; artinya yang bukan menjadi bagian ke­biasaan kolektif yang diperoleh sepanjang masa belajar bahasa.

Advertisement

Advertisement