Advertisement

Bahasa Bukanlah Pinjam Terjemah dari Realitas, Pengertian bahwa bahasa merupakan tata nama muncul berda­sarkan gagasan yang sederhana bahwa dunia berikut isinya diatur, se­suai dengan pandangan manusia, dalam kategori-kategori objek yang sama sekali berbeda, yang masing-masing mau tidak mau menerima satu sebutan di dalam setiap bahasa. Hal itu benar sampai batas ter­tentu, misalnya mengenai jenis makhluk hidup. Tetapi begitu kita berpindah ke bidang lain, kita dapat menganggap wajar perbedaan air yang mengalir dan air yang tidak mengalir. Tetapi di dalam ke- dua kategori tersebut, siapa yang tidak menganggap semena pembedaan antara lautan, laut, danau, rawa, payau, jeram, sungai? Masyarakat beradab mungkin sekali telah membuat agar orang Barat menganggap Laut Mati sebagai laut, sedangkan Danau Besar Asin sebagai danau. Namun, orang Perancis adalah satu-satunya yang membedakan antara le fleuve, sungai yang bermuara di laut, dan la sungai yang bermuara di sungai lain. Di bidang lain, orang Indonesia membedakan antara hutan dan kayu, sedangkan orang Perancis memiliki sebutan yang sama untuk kedua kenyataan tersebut, yaitu bois. Orang Denmark memiliki kata trce, yang berarti pohon dan bahan kayu, dan bersaing dengan t+mmer, kayu bangunan, tetapi tidak menggunakan kata tersebut untuk menyebut tempat yang ditumbuhi pepohonan, yang disebut skov, maupun untuk menyebut kayu bakar, yang disebut brcende. Untuk mengungkapkan makna pokok dari kata Perancis bois, bahasa Spanyol membedakan antara bosque, madera, lena, bahasa Italia antara bosco, legno, legna, legname, bahasa Jerman antara Wald, Gehdlz, Holz, bahasa Rusia antara les, d&evo, drovd, sedangkan bahasa Indonesia membedakan hutan, pohon, pokok kayu. Setiap kata tersebut mudah diterapkan pada hal-hal yang oleh bahasa Perancis hanya diartikan ‘kayu’: bahasa Jerman Wald paling kerap bermakna ‘hutan’; kata Rusia d&evo seperti kata Denmark troe, merupakan padanan wajar dari kata Perancis arbre. Untuk pelangi, orang Perancis, yang sepaham mengenai hal itu dengan sebagian besar orang Barat, membedakan antara ungu, biru, hijau, kuning, jingga, dan merah. Tetapi pembedaan tersebut tidak ada di dalam pelangi itu sendiri, yang ada hanya sebuah kontinuum dari warna ungu ke warna merah. Kontinuum tersebut diungkapkan secara berbeda oleh berbagai bahasa. Tanpa perlu keluar dari Eropa, tercatat bahwa di dalam bahasa Breiz dan bahasa Gaelig kata glas mengacu pada bagian pelangi yang kira- kira meliputi wilayah-wilayah yang oleh bahasa Indonesia disebut biru dan hijau. Sering pula kita melihat bahwa apa yang kita sebut hijau terbagi antara dua satuan yang mencakup bagian yang biasa kita sebut biru, dan bagian lain yang dekat ke warna pokok kuning. Beberapa bahasa hanya memiliki dua warna yang berkaitan secara kasar dengan kedua paruh pelangi. Semua itu, berlaku pula bagi segi-segi yang lebih abstrak dari pengalaman manusia. Kita tahu bahwa kata-kata seperti kata Indonesia mengambil hati, Jawa ngepek ati, tidak ada padanannya yang tepat di dalam bahasa Perancis. Bahkan kata­kata seperti kata Perancis prendre, Inggris take, Jerman nehmen, Rusia brat; Indonesia mengambil, yang dianggap sebagai padanan, tidak selalu digunakan di lingkungan yang sama, atau dengan kata lain, tidak mencakup secara tepat medan makna yang sama. Sebenar­nya setiap bahasa memiliki pengaturan yang khas dari data peng­alaman. Belajar bahasa lain, bukanlah memberi etiket baru pada benda yang telah dikenal, melainkan membiasakan diri menganalisis secara lain apa yang menjadi objek komunikasi bahasa.

Advertisement
Advertisement