Advertisement

Auksin, Hormon nabati yang paling dulu dikenal dan paling banyak diteliti termasuk ke dalam kelompok auksin. Hormon ini dihasilkan pada ujung pucuk yang sedang tumbuh, dan setelah bergerak ke bagian-bagian atau organ lain, menghasilkan berbagai efek. Yang paling khas di antaranya adalah pengaturan pembesaran sel. Karena adanya auksin dinding selulosa menjadi kenyal (plastic) dan diperluas oleh potensi osmosis cairan sel. Anyaman fibril selulosa yang menyusun kerangka dinding menjadi kendur, dan hal ini memungkinkan penambahan fibril selulosa. Auksin ditranslokasi ke luar dari tempat sintesis oleh suatu mekanisme pengangkutan yang sangat terpolarisasi yang memerlukan energi metabolisme dan menggerakkan auksin hanya searah. Arah ini selalu menjauhi ujung pucuk, jadi secara anatomi mudah ditentukan.

Untuk penelitian tindakan •auksin digunakan koleoptil kecambah sejenis gandum, Avena sativa, sebagai bahan uji baku. Keuntungan yang besar pada pemakaian koleoptil Avena untuk pengamatan macam ini adalah bahwa pertumbuhannya dari 1 cm sampai pemanjangan maksimum sekitar 6 cm diselesaikan hampir seluruhnya oleh pemanjangan sel. Jika ujung koleoptil Avena dipotong, pemanjangan tunggul terhambat sekali dibandingkan dengan koleoptil yang tetap utuh. Jika potongan itu ditempelkan kembali pemanjangan koleoptil akan berlangsung lagi dengan kecepatan yang hampir normal. Ini menunjukkan bahwa pengaruh yang berasal dari ujung dapat bergerak melalui luka pada jaringan hidup. Jika kemudian ujung koleoptil itu, dengan bagian permukaan irisannya menghadap ke bawah, diletakkan di atas sepotong kecil balok gelatin atau gel-agar selama beberapa jam, kemudian balok gelatin itu tanpa ujung koleoptil diletakkan pada bidang irisan koleoptil yang terpenggal, maka koleoptil akan memanjang hampir sama cepatnya dengan koleoptil utuh. Balok gelatin atau gel-agar yang belum berhubungan dengan potongan koleoptil tidak memberi efek demikian. Keseluruhan basil ini dapat ditafsirkan bahwa auksin yang dihasilkan pada ujung akan bergerak longitudinal ke bawah pada koleoptil , dan merangsang pemanjangan jaringan di sebelahnya.

Advertisement

Dengan menggunakan teknik balok-agar, F.W. Went mengembangkan suatu metode untuk mengamati dan mengukur konsentrasi auksin pada jaringan tumbuhan. J ika sebuah balok-agar yang mengandung auksin diletakkan pada satu sisi tunggul koleoptil yang terpenggal, pemanjangan akan lebih besar pada sisi yang tepat di bawah balok daripada di sisi lain, sehingga koleoptil akan bengkok. Dengan membiarkan auksin yang terdapat dalam sebuah balok-agar berdifusi ke balok-agar lain, Went dapat memperoleh auksin dalam seri pengenceran yang diketahui dan dapat memperlihatkan bahwa lengkungan (diukur sebagai sudut pada   21.1) yang terjadi bila balok itu diletakkan menyebelah pada koleoptil yang terpenggal, dalam batas tertentu, akan sebanding dengan konsentrasi auksin dalam balok. Hubungan antara konsentrasi auksin dan lengkungan koleoptil memungkinkan penggunaan bengkokan koleoptil Avena untuk mengukur konsentrasi -auksin dalam jaringan tumbuhan atau dalam ekstrak. Teknik yang menggunakan reaksi suatu organisme untuk menentukan konsentrasi suatu bahan kimia dalam ekstrak disebut bioesei (bioassay). Pengembangan metode bioesei, Went membuka jalan untuk identifikasi kimia auksin sehingga memungkinkan teknik pemurniannya untuk dikembangkan. Berbagai zat yang memiliki keaktifan auksin telah dapat diisolasi secara murni dari jaringan tumbuhan, tetapi yang paling umum dan paling penting ialah zat yang relatif sederhana, yaitu asam indol asetat (disingkat IAA =

indole-acetic acid). IAA dapat aktif pada konsentrasi yang sangat kecil, 10-6 mg saja sudah cukup untuk menghasilkan lengkungan yang jelas jika diberikan kepada satu sisi koleoptil yang terpenggal.

Selain auksin yang terjadi secara alami, banyak senyawa sintetik memiliki struktur kimia serupa dengan IAA, dan sangat aktif sebagai zat perangsang pertumbuhan. Zat-zat sintetik ini berbeda dengan auksin alami dalam hal sifatnya yang sangat beracun jika kelebihan sedikit saja dalam penggunaannya. Lebih lanjut diketahui bahwa ambang konsentrasi sebagai racun sangat bervariasi menurut jenis  tumbuhan, jadi memungkinkan penggunaan zat-zat ini sebagai pemberantas gulma yang sangat efisien dan selektif. Salah satu contoh senyawa demikian yang kini digunakan secara luas di seluruh dunia adalah 2,4-D (2,4-diklorofenol asam asetat) yang dimanfaatkan sebagai pemberantas gulma jenis-jenis berdaun lebar yang tumbuh di antara tanaman rumputrumputan (berdaun sempit) seperti serealia dan lapangan rumput. Selain mempengaruhi pertumbuhan pada pemanj angan pucuk, termasuk juga reaksinya terhadap cahaya menyebelah yang akan diuraikan pada bab berikut, auksin memegang banyak peranan lain pada perkembangan tumbuhan. Auksin bukan hanya terbentuk pada pucuk yang sedang tumbuh, tetapi juga pada berbagai daerah lain, termasuk beberapa yang terlibat pada tahap reproduksi, misalnya serbuk sari, buah, dan biji. Salah satu gejala yang terkenal yang diperantarai, setidak-tidaknya sebagian, oleh auksin ialah ‘dominansi ujung’. J ika kuncup ujung beberapa tumbuhan yang biasanya tidak bercabang dipotong, beberapa kuncup ketiak yang lazimnya tetap dorman akan tumbuh. J ika kuncup yang terpenggal itu segera diganti oleh sumber auksin, zat penghambat tumbuh segera bekerja dan pertumbuhan kuncup lateral akan gagal. Barangkali dominansi ujung yang utuh disebabkan oleh auksin yang dihasilkan dalam kuncup dan dialirkan ke batang di bawah.

Akar lateral, seperti halnya kuncup lateral, juga dipengaruhi oleh auksin, dan pemakaian zat-zat ini dari luar sangat mendorong pembentukan akar lateral. Penggunaan praktis yang sangat penting gejala ini adalah dalam menggalakkan pembentukan akar pada perbanyakan tanaman dengan setek. Pada kenyataannya penggunaan ini merupakan yang pertama dari banyak kegunaan auksin secara komersial.

Sebuah contoh terakhir adalah peranan yang dimainkan oleh auksin yang terdapat dalam serbuk sari. Salah satu hasil utama penyerbukan bunga adalah peningkatan kandungan auksin dalam bakal buah. Hal ini merupakan permulaan pertumbuhan buah dan dengan menghalangi absisi pada tangkai bunga, buah terbentuk. Pemberian auksin sintetik telah lama dikenal untuk mendorong proses yang sama tanpa penyerbukan dan menghasilkan buah tanpa biji.

Advertisement
Filed under : Ilmu Alam,