Advertisement

Artikulasi Mulut yang Kompleks, Kita tahu bahwa artikulasi mulut harus dikombinasikan dengan posisi glotis yang khas. Namun, contoh bunyi ceklik memperlihatkan pada kita bahwa bunyi mungkin dihasilkan oleh kombinasi dari dua artikulasi mulut. Tidak jarang orang mengkombinasikan artikulasi konsonan, sebuah labial misalnya, dengan posisi alat ucap yang menghasilkan vokal tertentu seperti [i] atau [u]. Artikulasi konsonan yang dikombinasikan dengan dorongan seluruh lidah ke arah depan langit-langit keras, dengan bunyi palatalisasi yang mengkombinasi­kan artikulasi palatal dengan artikulasi khusus: sebuah [p] tidak mungkin palatal karena ia labial, namun dapat dipalatalisasi dan di­lambangkan dengan [p ]. Bahasa Rusia mengenal sederet bunyi palatalisasi, terutama [t ] dan [d ‘] yang memang dihasilkan oleh kombinasi dari dua artikulasi yang berbarengan, yaitu apikal dan dorso-palatal, dan bukan [t] dan yang merupakan satu artikulasi dorso-palatal.

Artikulasi konsonan yang dikombinasikan dengan majunya bibir dan mundurnya seluruh lidah ke arah langit-langit lunak, yang me­rupakan ciri vokal [u], disebut konsonan labio-velarisasi. Sebuah [t] misalnya, yang kodratnya apikal dapat dilabio-velarisasikan dan di­lambangkan dengan [tw]. Sebuah [p], meskipun kodratnya labial, juga dapat dilabio-velarisasikan. Bibir yang siap membentuk [pw], maju lebih jauh ke depan untuk menghasilkan [p]. Yang disebut labio-velar adalah bunyi yang mengkombinasikan labial dan artikulasi velar tanpa dapat diketahui mana yang lebih khusus. Labio-velar tertentu mengkombinasikan oklusi dorsal dan artikulasi bibir dan lidah yang merupakan ciri [u]. Dalam bahasa Indo-Eropa ditemukan labio-velar yang seperti itu, yang dilambang­kan dengan [*kw], [*gw], dan sebagainya. Namun, labio-velar yang sebenarnya mengkombinasikan artikulasi labial dan artikulasi velar dari tipe yang sama: dua letupan, dua geseran atau dua artikulasi spiran. Konsonan labio-velar yang malar, biasanya bersifat spiran dan dilambangkan dengan [w] atau, jika tingkat pembukaannya sama dengan [u] dilambangkan dengan [12]. Dalam pengucapan bahasa Inggris tertentu ditemukan konsonan tak bersuara yang ditranskripsikan dengan [w], bentuk grafisnya wh. Konsonan labio­velar yang tidak malar memiliki dua letupan berbarengan yang terle­pas secara berurutan; bunyi velar dahulu, kemudian bunyi labial. Lambangnya [kp], [gb]. Kedua oklusif ganda ini sering dijumpai di Afrika.

Advertisement

Berbagai artikulasi konsonan dapat dikombinasikan dengan do­rongan seluruh lidah ke arah belakang rongga mulut tanpa penam­bahan, seperti hainya pada konsonan labio-velarisasi, dorongan dan pembulatan bibir ke depan. Konsonan itu disebut velarisasi atau faringalisasi. Velarisasi (atau faringalisasi) harus diikuti perubahan artikulasi secara khusus pada konsonan tertentu: seluruh lidah ter­bawa ke belakang, ujungnya berada di belakang alveolum dan bukan di belakang lidah, sehingga t velarisasi, yang dilambangkan dengan

  • lebih bersifat apiko-alveolar daripada apiko-dental.

Dapat dimengerti bahwa vokal yang besentuhan dengan konso­nan palatalisasi, labio-velarisasi atau velarisasi, tambernya dipe­ngaruhi oleh artikulasi konsonan itu. Di antara dua buah konsonan palatalisasi, sementara lidah harus pada posisi vokal [i], sebuah vokal cenderung diartikulasi di depan sambil masih mempertahankan bentuk bibir yang bulat, sehingga [t’ut’], misalnya, akan diartikulasi [t’Ut’] pada kenyataannya.

 

Advertisement