Advertisement

Artikulasi Ganda, Kita sering kali mendengar orang mengatakan bahwa bahasa manusia diartikulasikan. Mereka yang berkata demikian mungkin se­kali mengalami kesulitan untuk merumuskan secara pasti apa yang dimaksudkannya. Namun jelas bahwa istilah itu berkaitan dengan ciri yang memang menandai bahasa. Meskipun demikian, kita perlu membatasi pengertian artikulasi bahasa itu dan mencatat bahwa arti­kulasi itu terungkap pada dua tataran yang berbeda: setiap satuan yang dihasilkan dari artikulasi pertama memang diartikulasikan lagi dalam satuan artikulasi yang lain.

Artikulasi pertama bahasa adalah artikulasi tempat segala fakta pengalaman yang harus disampaikan, segala kebutuhan yang ingin diberitahukan kepada orang lain, diungkapkan dalam bentuk urutan satuan yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk bunyi dan makna. Jika saya merasa sakit kepala , saya mungkin mengungkap­kannya dengan teriakan. Hal tersebut dapat terjadi di luar kehendak; dalam hal itu teriakan merupakan gejala fisiologis. Teriakan tersebut mungkin pula kurang lebih dikehendaki dan bertujuan memberi­tahukan penderitaan saya kepada sekeliling saya. Namun, hal itu tidak cukup untuk membentuk komunikasi bahasa. Setiap teriakan tak dapat dianalisis dan dikaitkan dengan himpunan yang tak dapat dianalisis dari rasa sakit. Situasinya akan berbeda sekali jika saya mengucapkan kalimat saya masuk angin. Di dalam urutan ketiga satuan: saya, masuk, angin, tak satu pun yang berkaitan dengan rasa sakit saya yang khas. Setiap satuan dapat terletak di dalam konteks lain untuk mengkomunikasikan fakta pengalaman yang lain: kata masuk, misalnya, di dalam saya masuk rumah, dan angin di dalam saya tidak mendapat angin. Kita melihat bahwa artikulasi pertama memungkinkan penghematan yang besar: dapat kita bayangkan, mi­salnya suatu sistem komunikasi menggunakan suatu teriakan khusus yang berkaitan dengan suatu situasi tertentu atau dengan satu fakta pengalaman. Namun, cukup kita bayangkan tak terbatasnya variasi situasi dan fakta pengalaman itu untuk memahami bahwa, jika sistem yang semacam itu harus memberikan pelayanan yang sama dengan bahasa-bahasa, kita harus memiliki sejumlah tanda yang berbeda yang begitu besar sehingga daya ingat manusia tidak mungkin me­nyimpannya. Beribu satuan, seperti saya, masuk, angin, yang dapat berkombinasi secara luas, memungkinkan kita untuk menyampaikan lebih banyak hal yang tidak mungkin dilakukan oleh berjuta teriakan yang tak berartikulasi.

Advertisement

Artikulasi pertama adalah cara pengaturan pengalaman ber­sama milik para anggota suatu masyarakat bahasa tertentu. Hanya di dalam rangka pengalaman tersebut, yang perlu dibatasi pada apa yang dimiliki bersama oleh sejumlah besar orang, orang berkomuni­kasi dengan menggunakan bahasa. Kekhasan pikiran hanya dapat di­ungkapkan dalam urutan tak terduga dari satuan-satuan. Pengalaman pribadi, yang tak terkomunikasi di dalam kekhasannya, teruraikan dalam urutan satuan, yang masing-masing berkadar kekhasan lemah dan dikenal oleh semua anggota masyarakat. Orang menunjukkan kekhasannya hanya dengan penambahan satuan-satuan baru, misal­nya dengan menambahkan adjektiva pada nomina, adverbia pada adjektiva, umumnya dengan menambahkan determinator pada yang ditentukan.

Set’ap satuan artikulasi pertama itu, seperti yang telah kita lihat, mengungkapkan makna dan bentuk bunyi (atau fonis). Satuan ter­sebut tidak mungkin lagi dipilah dalam urutan satuan-satuan yang lebih kecil yang memiliki makna: himpunan saya berarti “saya” dan kita tidak mungkin memberi pada sa- dan pada -ya makna lain yang penjumlahan keduanya sepadan dengan “saya”. Namun bentuk bunyi yang dipilah dalam urutan satuan, masing-masing satuannya ber­tugas membedakan saya misalnya, dari satuan-satuan lain seperti kaya, paya, daya. Inilah yang disebut artikulasi kedua dari bahasa. Dalam hal saya, terhitung tiga buah satuan; kita dapat menampil­kannya dengan menggunakan huruf s a y a, yang secara konvensional diletakkan di antara garis miring, jadi /saja/. Nampak bahwa berkat adanya artikulasi kedua, bahasa bersifat hemat: seandainya kita harus mengaitkan pada setiap satuan bermakna terkecil suatu bunyi khusus dan tak terpilah, kita harus membedakan beribu-ribu bunyi, yang pasti akan melampaui batas kemampuan alat ucap dan kepeka­an pendengaran manusia. Berkat artikulasi kedua, bahasa-bahasa dapat memiliki beberapa puluh bunyi yang berlainan yang dapat di­kombinasikan untuk memperoleh bentuk bunyi satuan artikulasi per­tama: saya, misalnya, menggunakan dua kali satuan bunyi yang kita tampilkan dengan huruf /a/, dan di antara kedua /a/ tersebut di­sisipkan satuan lain yang kita lambangkan dengan /s/ dan /j/.

Advertisement