Advertisement

Aktualisasi, Di atas kami telah menjajaki kemungkinan untuk mengungkap­kan pengertian fete ‘pesta’ dan keberadaan efektif suatu pesta hanya dengan sebuah monem. Hal itu mungkin dalam bahasa Perancis, ka­rena kedua pengertian itu harus merupakan objek dari sebuah ungkapan yang berbeda. Di dalam banyak bahasa, penggunaan se­buah monem di dalam suatu situasi yang sangat takrif, oleh mulut pe­nutur tertentu, di dalam kesempatan yang khusus, tidak cukup untuk mengkonkretkan secara memadai salah satu realita semantis yang di­kandung oleh perlambangannya; untuk dibuat sebagai sebuah ujaran yang memadai secara kebahasaan. Fete ‘pesta’ secara mandiri bukan sebuah amanat bahasa, dan agar dapat menjadi amanat bahasa, fete ‘pesta’ harus diteguhkan di dalam realitas dengan jalan memarkah keberadaan efektif seperti dalam kalimat it y a fete ‘ada pesta’, keber­adaan yang mungkin seperti dalam kalimat it y aurait fête ‘mungkin ada pesta’, dan bahkan ketiadaan pesta it n’y a pas fete ‘tidak ada pes­ta’. Jadi, seperti yang lazim disebutkan, monem harus diaktualisasi. Untuk itu diperlukan sebuah konteks, artinya paling sedikit harus ada dua monem, yang .satu merupakan pembawa amanat dan lainnya dapat dianggap sebagai aktualisator. Bahasa Perancis termasuk da­lam tipe bahasa yang seperti itu. Situasi tidak mencukupi untuk mengaktualisasi sebuah monem tunggal, kecuali dalam hal seruan, serapah atau salam: va! ‘ayor, cours! ‘larir, vole! ‘terbang’, trite ‘cepat’, ici! ‘di sini’, traitre! ‘pengkhianat!’, salut! ‘hair. Dalam hal jawaban seperti oui ‘ya’, non ‘tidak’, Jean, demain ‘besok’, pertanyaan telah terlebih dahulu memberikan konteks yang diperlukan bagi aktualisa­si. Dalam hal yang lain lagi, ujaran yang dibentuk oleh sebuah monem merupakan bentuk ringkas dari ujaran yang lebih panjang, yang bermakna sama: defendu! ‘dilarang!’ yang berasal dari c’est defendu. Ujaran semacam itu adalah ujaran yang dipreteli yang oleh penuturnya selalu dapat dibentuk kembali secara lengkap jika diper­lukan, lebih kurang seperti orang Jerman, yang mengatakan [na mt] dari Gut en Abend,  akan menemukan kembali bentuk [gu tn? a bnt] jika diminta untuk menyebutkannya. Demikian juga halnya bagi orang Indonesia yang meringkas saya tidak tahu menjadi tahu untuk menyatakan kemasabodohan.

Advertisement
Advertisement