Advertisement

Afrikat, Apabila orang melafalkan suatu bunyi dan khususnya sebuah oklusif, biasanya ada tahap meletakkan alat ucap pada posisi ter­tentu, tahap memanfaatkan posisi itu untuk menghasilkan bunyi yang khas, dan terakhir pengenduran alat ucap kembali ke posisi netral. Pada umumnya, hanya tahap kedualah yang disebut “siap” yang ter­dengar, karena hanya .tahap ini yang khas. Namun, dapat terjadi bahwa pengenduran alat ucap lambat agar tidak terlewatkan oleh pendengar, terutama apabila ia tidak terbiasa untuk menghasilkan bunyi yang dimaksud dan oleh karenanya tidak peka terhadap satuan ucapnya. Itulah yang terjadi dengan palatal. Seperti telah kita lihat di atas (2.29), orang yang tidak memiliki bunyi itu di dalam baSasa­nya, cenderung menginterpretasikannya sebagai [t] atau [k], [d] atau [g] ditambah [i]. Artikulasi oklusif yang tahap ketiganya berupa frikatif disebut afrikat (atau semi-oklusif). Afrikat yang sangat sering dijumpai ada­lah yang dihasilkan oleh letupan yang diperoleh dengan menempel­kan bagian punggung ujung lidah pada daerah kaki gigi atas, yang menghasilkan posisi pelafalan [t] dan pengenduran yang dapat di­interpretasikan sebagai [S]. HaI ini memperjelas mengapa kita sering melambangkannya dengan digrafi [t]. Namun, lebih baik jika cara ini digunakan untuk melambangkan urutan [t + seperti yang ter­dapat di dalam bahasa Perancis toute chose ‘apa pun’ [tutoz] dan untuk melambangkan afrikat digunakan suatu tanda seperti [e]. Dengan demikian, dalam bahasa Inggris dapat dibedakan antara (r)ight ship [….aitsip] ‘kapal yang cocok’ dan I chip [aieip] ‘saya me­ngerik’. Afrikat chuintant ini terdapat pula dalam kata Spanyol chato, Italia citth, Rusia C.aj, Indonesia cicak. Frikatif bersuara dapat ditemukan pada awal kata Inggris jet         Italia giallo, Indonesia jaga, dan dilambangkan dengan atau, meskipun kurang tepat, Afrikat desis tak bersuara terdapat pada awal kata Jerman zehn, Italia zio dapat dilambangkan dengan [c] (daripada [ts] meskipun ada konflik dengan penggunaan tanda ini bagi oklusif palatal; bk. 2.29). Paling sering orang puas dengan digrafi untuk melambangkan afrikat desis bersuara yang terdapat pada awal kata Italia zero ([dz]). Ditemukan pula jenis afrikat dengan geseran bibir (atau lebih tepat labiodental) [pf] (Jerman Pferd’kuda’), dengan geseran dorso-uvular [kx], dengan geseran interdental [te], dengan geseran lateral [tl], dan seterusnya.

Advertisement
Advertisement