Advertisement

Apakah Bahasa Merupakan Tata Nama? Menurut konsepsi yang sangat naif, tetapi cukup luas tersebar, suatu bahasa adalah daftar kata, artinya daftar produksi bunyi (atau grafis), yang masing-masing berkaitan dengan sebuah benda: untuk binatang tertentu, “kuda”, misalnya daftar yang dikenal dengan nama bahasa Perancis, menghubungkannya dengan produksi bunyi tertentu yang pengungkapan ejaannya berbentuk cheval. Perbedaan antara bahasa-bahasa juga dianggap sebagai perbedaan penyebutan: untuk “kuda”, orang Inggris menyebutnya horse, orang Jerman Pferd, dan orang Indonesia kuda. Belajar bahasa kedua hanyalah mengingat tata nama baru yang sama sekali sejajar dengan tata nama lama. Beberapa kasus yang seharusnya dipandang sebagai penyim­pangan dari pensejajaran itu malah menjadi “idiotisme”. Produksi bunyi itu sendiri lazimnya dibentuk dari bunyi-bunyi yang sama di dalam setiap bahasa. Satu-satunya perbedaan antara bahasa yang satu dengan yang lain adalah pemilihan dan pengelompokan bunyi itu untuk membentuk suatu kata. Pendapat itu ada benarnya kalau kita lebih memperhatikan aksara daripada bunyi, yaitu penggunaan abjad yang sama pada berbagai bahasa. Memang etiket cheval, horse, Pferd, kuda menggunakan huruf-huruf yang berasal dari sistem grafi yang sama, huruf e di dalam ketiga kata bahasa itu, huruf h di dalam cheval dan horse, huruf a di dalam cheval dan kuda, dan seterusnya. Namun, dalam pendengaran ternyata bahwa semua itu bukannya perbedaan pilihan dan pengaturan unsur-unsur yang sama. Itulah sebabnya orang berbicara tentang “aksen”; “aksen” adalah sesuatu yang kurang penting yang ditambahkan pada pelafalan yang wajar dari bunyi-bunyi bahasa dan akan konyol serta hampir-hampir tidak pantaslah kalau kita mencoba meniru aksen ketika kita belajar ba­hasa yang bukan bahasa kita.

Advertisement
Advertisement