Advertisement

Yakin dapat diterjemahkan de­ngan kebenaran yang pasti atau meyakin­kan, dan dapat pula diartikan dengan keyakinan yang benar. Ungkapan itu dapat dijumpai pada dua tempat dalam al-Quran. Pada tempat yang pertama (al­Quran 56:95) ungkapan hakul yakin itu didahului oleh serangkaian pernyataan atau berita tentang nasib seseorang setelah wafat, bahwa ia — bila termasuk dalam golongan orang-orang yang dekat dengan Tuhan — niscaya akan memperoleh ke­gembiraan, kepuasan, atau surga (tarnan) yang menyenangkan; ia sebagai bagian dari golongan kanan, akan berada dalam saleem (bahagia). Bila ia termasuk golongan sesat yang menolak kebenaran, niscaya ia akan diazab dengan air yang mendidih dan pembakaran dalam neraka. Pernyataan atau berita ini diakhiri dengan ungkapan “Sesungguhnya ini adalah hakul-yakin”, yakni kebenaran yang pasti atau meyakin­kan. Ungkapan hakul-yakin itu bisa dipa­hami mengacu kepada pernyataan atau• berita tadi, dan dengan demikian maksud­nya adalah bahwa pernyataan atau berita tersebut adalah berita yang pasti benar, yakni pasti sesuai dengan kenyataan yang akan terjadi kelak di akhirat. Ungkapan tersebut bisa juga dipahami mengacu bu­kan kepada berita atau pernyataan, tapi kepada kenyataan atau peristiwa yang digambarkan dalam berita di atas. Peristi­wa yang diberitakan itu hakul-yakin, yak­ni pasti benar akan terjadi di hari akhirat.

Pada tempat kedua (al-Quran 69:51) ungkapan hakul-yakin itu didahului oleh keterangan bahwa al-Quran adalah wahyu dari Tuhan semesta alam, yang berfungsi sebagai peringatan atau pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Adapun orang­orang kafir mendustakan al-Quran, dan sikap demikian akan menjadi penyesalan kelak pada mereka. Keterangan ini disusul dengan pernyataan bahwa “Sesungguhnya ia (al-Quran) adalah hakul-yakin”, ung­kapan hakul-yakin di sini dapat dipahami dengan kebenaran atau sumber kebenaran yang pasti benar.

Advertisement

Selain dengan pengertian di atas, kaum sufi memakai ungkapan hakul-yakin un­tuk menunjukkan keyakinan (rasa kepas­tian) tingkat tertinggi yang dapat dimiliki oleh hati manusia, berkenaan dengan pe­ngetahuannya tentang sesuatu, terutama tentang Tuhan dan realitas imateri lain­nya. Orang yang mengetahui atau meyaki­ni adanya Tuhan, atau adanya sesuatu yang lain, tidak berdasarkan penyaksian oleh dirinya langsung, tapi hanya berdasar­kan sikap percaya (sikap membenarkan) pada keterangan orang yang patut diper­caya, seperti Nabi, maka keyakinan orang tersebut dinilai oleh sufi sebagai keyakin­an tahap pertama (paling rendah). Bila sudah diperkuat dengan argumen rasional (dalil akli). setelah mengamati atau mempertimbangkan gejala-gejala yang dapat diamati dan dapat dinilai sebagai tanda bagi keberadaannya, maka ke- yakinannya naik ke taraf yang lebih tinggi (taraf kedua), dan keyakinan ini dinamakan dengan1m al­yaqin). Bila sesuatu itu diketahui berda­sarkan penyaksian matanya sendiri, maka keyakinannya tentang kebenaran atau keadaan sesuatu itu naik ke taraf yang le­bih tinggi lagi (taraf ketiga), dan ini dise­but dengan ainul yakin Cain al-yaqin). Bila sesuatu itu diketahui dengan diyakini berdasarkan tangkapan mata sendiri dan alat indera lain, sehingga keyakinan hati tak mungkin terganggu oleh apapun, atau berdasarkan penyaksian mata batin sendiri, maka keyakinan itu berada pada taraf ter­tinggi, dan itulah yang disebut dengan ha­ktd-yakin (haqqui al-yaqin). Kaum awam (orang kebanyakan) yang meyakini ada­nya surga dan neraka, dinilai baru memili­lci kcyakinan taraf awal, kaum teolog me­miliki keyakinan tentang itu denganihnu/ yakin (taraf kedua). Bila sudah berada di hari akhirat, dan baru menyaksikan de­ngan mata mereka, surga atau neraka itu, maka mereka baru berada dalam taraf ainul yakin. Apabila mereka telah merasa­kan sendiri nikmat surga itu, atau mereka merasakan sendiri azab neraka itu, karena berada di dalarnnya, maka keyakinan me- reka tentang keberadaan atau keadaan surga atau neraka itu sudah sampai ke taraf tertinggi, yakni hakul-yakin.

Advertisement