Advertisement

Pondok Pesantren Gontor, terletak kurang lebih 10 km ke arah selatan kota Ponorogo. Pondok ini berada di desa Gon­tor yang termasuk kecamatan Mlarak ka­bupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Lahirnya Pondok Pesantren Gontor ti­dak dapat dipisahkan dari perkembangan Pesantren Tegalsari yang pernah mencapai masa kejayaannya pada abad ke-19. Ke­munduran Pesantren Tegalsari melahirkan rasa tanggung jawab untuk menghidup­kannya kernbali bagi sebagian ahli waris­nya, yang kemudian mendirikan Pesantren Gontor lama. Namun pesantren inipun ti­dak bertahan lama akibat suasana penja­jahan yang tidak menunjang kehidupan lembaga ini. Pesantren ini selanjutnya se­makin jauh dari kehidupan masyarakat, sebagaimana pondok-pondok lain pada waktu itu. Kondisi yang demikian dan di­tambah dengan suasana kehidupan ma­syarakat yang jauh dari tuntutan keagama­an, menimbulkan kesadaran di antara ke­turunan Kiai dari pesantren Gontor tersebut untuk membangun kembali pesan­tren yang hampir mati itu. Kemunduran pendidikan dan pengajaran Islam yang ter­jadi secara umum pada waktu itu, mendo­rong ditempuhnya metoda baru dalam sis­tem pendidikannya. Maka dengan tekad yang bulat pada 1926 (1344 II) dibangun­lah Pondok Pesantren Gontor Barn de­ngan nama Pondok Pesantren Darussalam, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Pondok Modern Gontor. Pemberian nama modem ini dikaitkan dengan sistem mo­dern, untuk ukuran waktu itu, yang dite­rapkan dalam sistem pendidikannya, anta­ra lain dengan penggunaan meja kursi dan papan tulis untuk belajar.

Advertisement

Pendiri dari pesantren ini adalah tiga bersaudara, yaitu: Ahmad Sahal, Zainud­din Fanani dan Imam Zarkasyi. Ketiga saudara ini sering dikenal dengan sebutan Trimurti, atau tiga bersaudara. Ide untuk membangun kembali pesantren yang su­dah mundur ini dicetuskan oleh Ahmad Sahal .setelah ia menghadiri Kongres Islam di Surabaya pada 1926, sebagai salah se­orang pesertanya.

Pendidikan formal yang diselenggara­kan di Pondok Modern Gontor, mula-mu­la (pada 1926) adalah pendidikan dasar atau ibtidaiyah yang diberi nama Tarbiya­tul Atfal (TA). Tingkat dasar ini dalam perkembangan selanjutnya tidak hanya di­adakan di Gontor saja, tetapi juga di dae­rah-daerah sekitarnya sebagai cabang dari Tarbiyatul Atfal Gontor. Kemudian pada 1936 didirikan Sekolah Menengah Perta­ma atau Sanawiyah Ula, yang kemudian disempurnakan dengan mendirikan Seko­lah Menengah Tingkat Atas atau Aliyah, yang berbentuk Sekolah Guru. Kedua ma-cam jenjang pendidikan ini kemudian disa­tukan, dan diberi nama Kullyatul Mu’alli­min al-Islamiyah (KMI). KMI merupakan gabungan antara Tsanawiyah dan Aliyah dan oleh karena itu lama belajar di jenjang ini adalah 6 tahun. Kurikulum KMI terdiri dari pelajaran agama, pengetahuan umum dan bahasa asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris).

Setelah KMI berdiri, TA dilepaskan, dan masing-masing cabang TA berdiri sen­diri di luar pengelolaan Pondok Modem.

Hal ini ditempuh, agar perhatian para pen­diri lebih dapat dipusatkan pada pening­katan dan pengembangan KMI. Direktur dari KMI ini sejak berdirinya adalah K.H. Imam Zarkasyi sampai wafatnya pada 1985. Sebagai kelanjutan dari KMI pada 1940 didirikan tingkat yang lebih tinggi, yaitu Sekolah Guru Tinggi (B.1) Agama dan Bahasa Arab. Pendirian sekolah ini di­tujukan untuk memenuhi kebutuhan ma­syarakat akan guru agama yang dirasakan kurang pada waktu itu, terutama di seko­lah-sekolah menengah. Sekolah guru ini berjalan sampai 1945, di ketika timbul pergolakan di tanah air untuk memperta­hankan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu itu para santri Pondok Modern ter­utama dari tingkat atas, meninggalkan pondoknya untuk berjuang melawan pen­jajah, yang bemiat menanamkan kukunya kembali di Indonesia.

Pada akhir 1963 dibuka pendidikan tinggi yang diberi nama Institut Pendidik­an Darussalam (IPD) dengan dua fakultas, yaitu Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Tarbiyah. Sejak diresmikannya sampai de­ngan 1985 Pejabat Rektor dipegang oleh pimpinan Pondok Modern, yaitu K.H. Imam Zarkasyi. Kemudian setelah me­ninggal ia digantikan oleh Drs. Kafrawi Ridwan, MA (alumnus Pondok Modern Gontor).

Pondok Modem Gontor didirikan de­ngan harapan, di antaranya, menjadi suatu lambang pendidikan Islam yang mempu­nyai corak khusus yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Corak yang dici­ta-citakan itu adalah suatu sintesa dari em-pat perguruan terkenal, yaitu Universitas al-Azhar dengan kubu pertahanan Islam­nya yang kokoh, Perguruan Snanggit di Afrika dengan kedermawanan pengasuh­nya sampai semua biaya hidup mahasiswa­nya ditanggung perguruan, Perguruan Ali­garh di India dengan modernisasinya atau revival of Islam, dan Perguruan Santinike­tan yang didirikan Rabindranat Tagore di India dengan kesederhanaan dan kedamai­annya. Dengan sintesa antara keempat un­sur tersebut, Pondok Modem bermaksud mencetak mubalig-mubalig dan sarjana muslim yang cakap dan ikhlas dalam perjuangannya menegakkan Islam.

Selanjutnya untuk mengelola Pondok ini secara lebih baik, lebih-lebih bila pen­dirinya sudah tiada, dibentuklah badan wakaf pada 1958. Badan ini diberi nama Badan Wakaf Pondok Modern yang anggo­tanya terdiri dari para alumni Pondok Mo­dern Gontor. Badan inilah pemegang ama­nat para pendiri, dan sepeninggal para pendiri, badan ini merupakan lembaga ter­tinggi untuk meneruskan cita-cita pendiri dalam perjuangannya lewat lembaga pen­didikan ini. Setelah meninggalnya K.H. Imam Zarkasyi, pimpinan Pondok Mo­dern, berdasar musyawarah Badan Wakaf, dipegang oleh K.H. Sheiman Lukman Ha­kim, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi dan K.H. Hasan Abdullah Sahal.

Advertisement