Advertisement

Perjanjian al-Hudaibiyah, dilakukan­antara Nabi dan pemuka-pemuka Quraisy pada 628 (6 H). Pada tahun itu para pengikutnya yang berjumlah se­ldtar 1500 bermaksud melaksanakan iba­dat haji ke Mekah. Karenanya rombongan tersebut tak melengkapi diri dengan per­alatan perang.

Mengingat..serangan Quraisy yang dilancarkan setahun sebelumnya atas Madinah, kelihatannya Nabi begitu optimis atas mi­sinya, kendatipUn ia bertindak hati-hati sebelum memasuki Mekah. Hal ini terlihat dari keputusannya untuk berkemah beser­ta seluruh pengikutnya di Hudaibiyah di bilangan Mekah, suatu tempat teduh dan bermata air. Tentunya hal ini dilakukan sebagai reaksi atas penolakan orang-orang Quraisy untuk mengizinkan Nabi menu­naikan ibadat haji. Namun kekompakan barisan Nabi membuat tokoh-tokoh Qu­raisy menanggapi secara positif inisiatif damai yang diajukan Nabi; maka sebuah dokumen perjanjian pun dapat disetujui kedua belah pihak.

Advertisement

Dalam perjanjian Hudaibiyah ini Nabi berhasil membuktikan posisinya yang se­makin kokoh. Meskipun misi hajinya ga­gal dilaksanakan tahun itu dan namanya yang dibubuhkan dalam dokumen tak di­sertai sebutan Rasulullah, Nabi memper­oleh beberapa keuntungan yang lebih pen­ting. Di antara isi Perjanjian Hudaibiyah adalah gencatan senjata disetujui untuk masa sepuluh tahun, Nabi dan para peng ikutnya diizinkan untuk menunaikan iba­dat haji tahun depan (629/7 H) selama ti­ga hari berturut-turut dan orang-orang Me­kah akan mengosongkan kota selama pe­riode tersebut, kabilah-kabilah Arab dibe­rikan kebebasan untuk menjadi pengikut Nabi, namun sebaliknya Nabi harus me­ngirimkan kembali ke Mekah orang-orang Quraisy yang kemudian mengikutinya ke Madinah. Dalam perjanjian ini Nabi telah menunjukkan itikad baik dan damainya; secara jelas Nabi telah membuka pintu ba­gi orang-orang Mekah untuk berpartisipasi dalam kelompok umat yang dirintisnya. Akan tetapi beberapa konsesi yang diberi­kan Nabi sempat menimbulkan keresahan di kalangan para pengikutnya, sehingga akhirnya mereka perlu menegaskan sekali lagi kepatuhan mereka yang absolut kepa­danya. Pernyataan dukungan ini kemu­dian dikenal dengan beat ar-ricfran dan para pengunjuknya disebut sebagai “orang­orang yang menyatakan kepatuhan di ba­wah pohon” (man beyart tahta asy-syaja­rah), sebab di tempat yang bermata air tersebut tumbuh pepohonan yang cukup rindang. Kategori ini di kemudian hari memberikan reputasi tersendiri bagi para partisipan, khususnya berkenaan dengan kebijaksanaan Umar tentang preseden (s.dbiqah), yaitu sistem stratifikasi yang didasarkan atas batasan waktu masuk Is­lam.

Tercapainya Perjanjian Hudaibiyah te­lah membuka kesempatan yang lebih luas bagi kemajuan misi Nabi. Setahun kemu­dian pada 629 (7 H). Nabi menunaikan ibadat haji yang tertangguh beserta para pengikutnya selama tiga hari. Dalam ke­sempatan tersebut beberapa tokoh Qu-raisy seperti Amr bin al-As dan Khalid bin al-Walid kemudian menyatakan din masuk Islam dan mengikuti Nabi ke Madinah, bahkan Abu Sufyan sendiri, sebagai orang terkuat di Mekah, secara sembunyi-sembu­nyi menyatakan janji kesetiaan kepada Nabi. Karenanya sewaktu Nabi yang didu­kung pasukan Madinah pada 630 (8 H) me­masuki Mekah (Path Makkah) untuk mem­protes pelanggaran gencatatan senjata yang dilakukan sementara orang-orang Quraisy, Nabi hampir-hampir tidak meng­hadapi perlawanan yang berarti. Dua ta­hun setelah Perjanjian Hudaibiyah, Mekah resmi menjadi bagian umat yang dipimpin Nabi.

Advertisement